Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

04 September 2011

Sejarah Awal Pendakian Gunung

Kapan tepatnya kegiatan pendakian mulai dilakukan agak rumit mencari datanya lebih lengkap, namun menurut cerita dari mulut kemulut dan pustaka, aktivitas di gunung sudah dimulai oleh para misionaris-misionaris untuk misi keagaamaan serta agen tentara untuk misi perang dan penjajahan.

Pada periode tahun 1490-an orang-orang disekitar pegunungan Alpen di Eropa sudah mulai naik turun gunung untuk keperluan mata pencaharian dan spiritualnya. Ketika mata pencaharian bukan lagi sebagai alasan utama pada sekitaran abad ke-16 orang-orang di desa sekitar pegunungan Alpen di Eropa dan Himalaya di Asia sudah banyak membicarakan teknik-teknik mendaki gunung. Pegunungan Alpen yang membujur diantara batas negara Swiss, Italia, dan Austria, saat itu belum seorang pun pernah menginjakkan kakinya di puncak tertingi pegunungan Alpen (Mont Blanc), orang-orang Inggris yang rata-rata aristockat sering mengujungi lembah Chamonix di kaki gunung Mont Blanc.
Sebagian dari mereka yang memiliki tujuan penelitian dan masyarakat Chamonix yang sebagian besar pekerjaannya berburu dan mencari batu kristal ke gunung menjadi pemandu-pemandunya. Aktivitas orang-orang Chamonix membuat mereka menghafal setiap kelokan di Alpen sehinga tidak mendapat kesulitan yang besar dalam menemukan jalur yang mudah.
Masa pendakian gunung untuk penelitian ini berlangsung sampai zaman keemasan mendaki gunung kira-kira abad ke-19. Pada masa itu, mereka yang keluar masuk pegunungan Alpen adalah orang-orang yang ingin menjadi “yang pertama” menginjakkan kaki di puncak-puncak gunung yang masih perawan. Istilah “yang pertama” ini seperti menjadi prestasi agung dalam mendaki gunung, hal ini membuat masyarakat dikaki gunung akan bersorak-sorak menyambut kedatangan orang yang telah baru saja berhasil mencapai puncak gunung yang konon merupakan tempat naga gunung terlelap.

Kronologi Awal Pencapaian Puncak Tertinggi di Dunia
Pertengahan abad 19 cerita tentang puncak tertinggi didunia telah tersiar ditelinga masyarakat dunia. Ini diketahui berdasarkanhasil survey Kantor Survey India terhadap puncak-puncak himalaya di Nepal pada tahun 1849 sampai 1855. Sebelum Everest ditemukan sebagai puncak tertinggi, Kanchenjunga merupakan yang tertinggi saat itu.

Upaya ekspedisi ke Everest telah dimulai sejak tahun 1893 oleh pihak Inggris, namun tidak pernah menuai keberhasilan, ini dikarenakan oleh pihak Tibet dan Nepal tidak memberikan izin, tahun 1905 upaya itu kembali dilakukan namun kegagalan kembali terjadi dengan masalah yang sama. Tahun 1913 seorang kapten muda J. B. L. Noel telah masuk ke wilayah Everest secara diam-diam dan di bulan Maret 1919 ia menguraikan hasil perjalanannya dihadapan the Royal Geographical Society. Berkat laporannya itu The Royal Geogrhaoical Society dan The Alpine Club menyarankan untuk melakukan ekspedisi survey ke wilayah Everest. Sejak saat itu usaha memperoleh izin dari pemerintah setempat gencar dilakukan dan diakhir tahun 1920 akhirnya pihak Inggris berhasil memperoleh izin dari pemerintah Tibet untuk melakukan Ekspedisi.
Tahun 1921 di bulan Maret ekspedisi ke Everest pertamakali dilakukan oleh Inggris, ini merupakan ekspedisi pertama di dunia dalam usaha mencapai puncak Everest. Ekspedeis yang beranggotakan 11 orang dengan bantuan 16 pendukung serta ratusan binatang pengangkut barang dilakukan dengan melalui rute Darjeeling (India) dan menuju Everest melalui Tibet. Ekspedisi yang dilakukan ini belumlah sampai pada pencapaian puncak everest akan tetapi bertujuan untuk mengeksplorasi jalur pendakian mencapai puncak everest. Titik tertinggi yang dicapai dalam ekspedisi ini 23.000 feet di jalur utara.

Pada bulan April 1922 ekspedisi kedua dilakukan untuk mencapai puncak Everest melalui dataran tinggi Tibet, pendaki yang terlibat dalam ekspedisi ini sama dengan ekspedisi sebelumya yaitu George Mallory, namun dalam upaya ini ia belum menemukan keberhasilan. Pada bulan Mei tanggal 24 melalui rute North Col, Mallory, Geoffrey Bruce, Tejbir, Kapten Noel dan 12 porter yang membawa slinder oksigen melanjutkan cita-cita mereka untuk mencapai puncak everest (BW12 Februari-Maret 2002 ), terdiri dari 13 orang bangsa Inggris, 16 orang bangsa Nepal, 100 orang pengangkut beban dari Tibet, dan 300 binatang juga pengangkut beban (BW. Edisi Juni-Juli 2006) .

Setelah melewati badai salju di camp north col akhirnya mereka dapat mencapai ketinggian 26.000 feet dan melewati north face everest dengan cara traversing, dengan bantuan slinder oksigen ia dapat mencapai ketinggian 27.000 feet, diketinggian itu ia kemudian lanjut lagi dengan memanjat diagonal menuju titik tinggi North east Ridge dan berhasil mencapai ketinggian 27.300 feet. Ditempat ini ia hanya dapat memandangi gunung cho oyu (27.000 feet), lembah rongbuk serta puncak barat Everest.

Sejak tahun 1921 dilaksanakannya ekspedisi ke Everest dalam jangka waktu 30 tahun ada 10 ekspedisi yang telah dilakukan. Ke-10 eksepedisi ini berakhir dengan kegagalan bahkan telah merenggut nyawa para pendaki diantaranya George Mallory dan Irvine yang tergabung dalam ekspedisi ke-3 inggris pada tahun 1924. 8 Juni 1924 kabar tentang kehilangan Mallory dan Irvin tercuat, tahun 1933 kapak es Irvine ditemukan pada ketinggian 8.230 meter dan pada tahun 1999 (73 tahun setelah hilang) giliran jasad Malorry ditemukan secara utuh bersama kaca mata salju, altimeter dan pisau lipat.

Setelah ekspedisi Inggris yang ke-3 dilakukan pada tahun 1924, daerah Tibet dan Nepal ditutup untuk orang asing selama 9 tahun, namun pada tahun 1933 kedua pemerintah wilayah ini kembali membuka diri, dan untuk ke-4 kalinya Inggris memperoleh izin untuk melakukan ekspadisi ke Everest. Ekspedisi Inggris kali ini dipimpin seorang pendaki Alpen dan Himalaya yairu Hugh Ruttledge. Tim Ingris saat itu beranggotakan 14 pendaki dan dihuni pendaki ternama seperti Frank S. Smythe dan Eric Shipton. Ekspedisi kali ini tetap sama dengan ekspedisi sebelumya, mereka belum juga bisa mencapai puncak Everest bahkan titik tertinggi yang dicapai Mallory dan Irvine pada tahun 1924 (sekitar 28.000 feet) tak bisa disamai. Setelah ekspedisi ini ditahun 1935, 1936, dan 1938 Inggris tetap teguh melakukan ekspedisi dengan pimpinan eksedisi Eric Shipton, namun hasilnya tetap sama dengan sebelumnya bahkan ketinggian yang dicapai Mallory belum tertandingi. Berakhirnya ekspedisi Inggris yang ke-7, wilayah Nepal dan Tibet kembali ditutup akibat perang dunia II meletus dan Everest saat itu kembali hidup tenang dan damai, tak terusik manusia-manusia yang ingin manjamahnya (BW: 91:Juni-Juli 2006)

Tahun 1952 kabar mengenai Everest kembali tersiar, lewat tim Ekspadisi Swiss yang ingin mencapai titik tertinggi. Ekspedsi ini berakhir dengan kegagalan dan ia hanya berhasil mengantarkan dua orang dalam timnya yaitu Lambert dan Tenzing mencapai ketinggian 8.550 meter. Setelah kegagalan Swiss, Inggris kembali menyiapkan tim untuk ekspedisi di tahun berikutnya. Tim Inggris yang dibentuk kali ini dipimpin oleh seorang colonel John Hunt yang beranggotakan 10 pendaki dan seorang dokter. Ekspedisi yang dilakukan Inggris, ini merupaka yang ke-11 dalam usaha pencapaian puncak Everest. Tanggal 9 April 1953 Tim Inggris yang membentuk kelompok kecil dimana didalamnya terdiri dari Tom Bourdillon, Alfred Gregory, Charles Wylie, Edmund Hillary, Griffith Pugh, Michael Westmaccott, George Band, George Lowe, Tenzing Norgay, Charles Evans, dan Stobart memulai perjalanan dengan ditemani High-Altitude sherpa sebanyak 5 dan 39 pengangkut beban menuju puncak Everest melalui Khumb Ice-Fall dan tembus ke Western Cwm (BW: 83; edisi Nov-Des 2006). Dalam perjalanan ini, cuaca buruk terus membayanginya, badai salju yang berlangsung sehari-semalam tak juga reda akkibatnya 4 pengangkut beban mengundurkan diri karena buta salju. 29 Mei 1953 Hillary dan Tenzing menjadi orang pertama yang berdiri dipuncak gunung Everest.

Sejak Everest telah disentuh oleh manusia melalui ekspedisi yang diawali pada tahun 1921, Everest telah menewaskan 130 orang hingga tahun 1996 (Krakauer: 1994:27). Orang tahu bahwa untuk berdiri dipuncak Everest tidaklah mudah karena butuh biaya yang mahal, pengalaman mendaki, keberanian dan sebagian orang mengatakan bahwa orang-orang yang melampiaskan keinginannya berjalan menuju Everes adalah orang yang tidak berpikir sehat. Sebagian orang tahu tentang hal itu, namun sebuah kenyataan yang sulit untuk dimengerti dalam jiwa para petualang tentang mengapa mereka melakukan kegilaan itu. Mallory jika menjawab pertanyaan para wartawan mengapa ia mau mendaki Everest?, Mallory menjawabnya “Karena gunung itu ada di sana”.
Banyak orang yang bermimpi untuk berdiri dipuncak gunung tertinggi di bumi ini dan orang terus berusaha untuk mencapainya, beragam teori-teori pendakian tercipta, mulai dari penggunaan tabung oksigen, cara berjalan digunung es, penyesuaian diri, hingga lahirnya upaya untk mencapai everest tanpa bantuan oksigen. Tahun 1993 Mike Broom orang yang bekerja sebagai tukang kayu dan sesekali menjadi pemandu pendakian, telah mendaki Everest tanpa menggunakan bantuan oksigen (Krakauer:1994;101). Tahun 1990 komersialisai Everest bermunculan, dua perusahaan yang bergerak dalam jasa pendakian everest terkemuka yaitu Adventure Consultans dengan pimpinan Rob Hall dan Mountan Madness dengan pimpinan Scoot Fischer telah mengantar beberapa kliennya mencapai puncak Everest.

Pustaka:
• Buletin Wanadri,edisi 12 Februari-Maret 2002
• Buletin Wanadri. Edisi Juni-Juli 2006
• Buletin Wanadri. Edisi November-Desember 2006
• Eiger Adventure News, Edisi 50 Januari-Februari 2008
• Krakauer Jon, Into Thin Air, 1994, Bandung, Penerbit Qanita
• Sukandar Dadang,Rock Climbing, 2006, Yokyakarta, Penerbit Andi
• Sukandar Dadang, Berburu Nyali di Tebing Emas, 2006, Yokyakarta, Penerbit Andi

Selengkapnya...

25 Februari 2011

Jiwa Jiwa Petualang Sejati




Edmund Hillary: The Ascent of Everest

Lahir 20 Juli 1919 dan meninggal 11 Januari 2008. Seorang peternak lebah yang sangat tertarik dengan pendakian gunung. Mulai dari gunung-gunung di New Zealand, Alpen, dan akhirnya di Himalaya, dimana ia mendaki sebelas puncak berbeda di atas 8000 m. Ketika banyak ekspedisi menuju Puncak Himalaya menemui kegagalan, akhirnya pada tahun 1952, saat anggota lain terpaksa turun karena lelah di ketinggian, Hillary dan Tenzing Norgay, seorang sherpa asli Nepal berhasil mencapai Puncak Tertinggi dunia 8848 m, pada pukul 11.30 pagi tanggal 29 Mei.
Ia menjadi terkenal dan diangkat sebagai Ksatria oleh Ratu Elizabeth II. Sesudahnya ia melanjutkan penjelajahan di Antartika, dan semakin memberi perhatian kepada kesejahteraan masyarakat Nepal. Ia mendirikan klinik-klinik kesehatan, rumah sakit dan 17 sekolah. Ketika Nepal menjadi ramai dengan turis dan para pendaki, kelestarian lingkungan dan hutan semakin terancam.

Edmund Hillary menjadi prihatin dan membujuk Pemerintah Nepal untuk menjadikan Everest sebagai Taman Nasional. Ia menerbitkan buku-bukunya: The Ascent of Everest, Nothing Venture, Nothing Win pada tahun 1975. Kemudian, From The Ocean to the Sky, hasil perjalanannya menyusuri sungai Gangga dari muara hingga ke sumbernya di Himalaya. Walau kehilangan istri dan anak perempuannya dalam kecelakaan pesawat, ia tetap terlibat dalam isu lingkungan dan bekerja bagi kesejahteraan masyarakat Nepal.




Soe Hok Gie: Kritis Bersemangat Bebas

Aktifis demonstran, pemikir, penulis yang meninggal di Puncak Gunung Semeru (3676 mdpl) pada tanggal 16 Desember 1969. Ia meninggal pada umur 27 tahun kurang sehari. Ia adalah sosok yang independen, kritis, dan bersemangat bebas. Ia mencintai gunung, dan mencurahkan banyak waktunya untuk menyepi dan mendaki gunung. Sebagai mahasiswa, ia aktif menulis dan mengkritik pemerintahan orde lama.

Ketika lulus, ia sempat terlibat dalam politik, namun kemudian memilih untuk tetap independen dan menyalurkan diri kepada hobinya mendaki gunung dan pergi ke alam liar. Di alam liar lah ia merasakan diri sebagai sosok yang bebas dan independen. Ia menginspirasi banyak orang muda untuk selalu idealis, kritis, dan bersemangat bebas. Buku hariannya kelak akan dijadikan buku dengan judul Catatan Seorang Demonstran. Skripsi Sarjana Muda-nya juga diterbitkan menjadi Di Bawah Lentera Merah. Sebelumnya Skripsi S1 nya dijadikan buku dengan judul Orang-Orang di Persimpangan Kiri Jalan.



Reinhold Messner: Pendaki Terhebat Sepanjang Masa

Lahir 17 September 1944. Pendaki gunung dan penjelajah dari Italia. Ia dikenal sebagai pendaki terbesar sepanjang masa. Ia tercatat sebagai pendaki solo ke Puncak Everest tanpa oksigen dan pendaki pertama yang mendaki 14 puncak tertinggi di atas 8000 mdpl. Ia sudah mulai mendaki gunung sejak usia 5 tahun. Umur 20 an sudah termasuk diantara para pendaki hebat di Eropa. Ia pendukung gaya pendakian alpine style di Himalaya (perlengkapan minimal dan bantuan luar yang minimal juga). Ia juga tercatat untuk rekor pendakian cepat di Eiger North Wall dan juga Everest. Ia melakukan hal mustahil yang akan mengubah pandangan dunia pendakian, yakni dengan mendaki solo dan tanpa oksigen. Selain pendakian, ia juga menjelajahi antartika dengan ski. Ia menulis banyak buku mengenai pengalamannya. The Dark Glow of the Mountains merupakan film yang bercerita tentang dirinya. Ia terlibat dalam bisnis berkaitan dengan keahliannya dalam pendakian gunung. Pada tahun 1999-2004, ia masuk menjadi anggota Parlemen Eropa dari Green Party Italia . Tahun 2004 ia menjelajah Gurun Gobi sejauh 2000 km. Saat ini ia fokus mengurus Messner Mountain Museumyang ia dirikan.

The fourteen 8,000+ peaks
1970: Nanga Parbat (8125 m) 1972: Manaslu (8156 m) 1975: Gasherbrum I (Puncak Tersembunyi) (8068 m) 1977: Dhaulagiri (8167 m) 1978: Mount Everest (8848 m) (Pendakian pertama tanpa bantuan oksigen), Nanga Parbat (8125 m) (Pendakian sendiri di atas 8000) 1979: K2 (8611 m) 1980: Mount Everest (8848 m) (Orang pertam yang mendaki tanpa bantuan oksigen) 1981: Shisha Pangma (8012 m) 1982: Kanchenjunga (8598 m), Gasherbrum II (8035 m), Broad Peak (8048 m), Cho Oyu (8201 m – pendakian puncak selama musim dingin mengalami kegagalan) 1983: Cho Oyu (8201 m) 1984: Gasherbrum I (8068 m) and Gasherbrum II (8035 m) satu kali pendakian tanpa kembali ke basecamp 1985: Annapurna (8091 m), Dhaulagiri (8167 m) 1986: Makalu (8485 m), Lhotse (8516 m)
Selengkapnya...

24 Januari 2011

Pecinta Alam Harus Selaras Dengan Alam

Melihat para kaum muda memanggul ransel dipunggungnya bergerombol di sebuah terminal di Surabaya, mengingatkan aku akan kegiatan yang dulu sering aku lakukan, mendaki gunung dan berkelana di hutan, Bisa jadi mereka menyebut dirinya kelompok pecinta alam atau apa saja, namun saat ini banyak dari mereka yang menamakan dirinya pecinta alam kenyataannya kegiatan yang dilakukan tidak selaras dengan alam.

Kegiatan kepecinta alaman makin menjamur saja di negeri ini, misal mendaki gunung, menjelajah hutan, menyusuri gua, dan sederet kegiatan alam lainnya. Seringkali kegiatan yang dilakukan hanya sebatas menikmati alam untuk diri sendiri, sebatas mencari kepuasan untuk kepentingan pribadi, tapi tidak semua kelompok Pecinta Alam seperti itu.
Dalam kenyataannya seorang pencinta alam (bukan organisasinya) sering kali melakukan banyak aktivitas yang justru mengganggu keseimbangan alam. Mendaki gunung menjelajah rimba dan membuat jejak-jejak disana, mencoret batu-batu di puncak, membuang sampah non organik ke sembarang tempat, membuat api unggun yang seringkali lupa dimatikan, memetik bunga abadi (edelweiss) dan lain-lain.
Ketika saya dulu mendaki gunung bersama teman-teman berkomitmen untuk tidak pernah meninggalkan apapun yang kita bawa terutama sampah non organik, namun yang sering mengganggu saya, seringkali di perjalanan menuju puncak banyak sampah berserakan, tentunya, ini adalah sampah yang dibawa oleh para pendaki (atau bisa juga para peziarah gunung) karena sebagian besar makanan yang dibawa khas sekali seperti bungkus mie instan dan bungkus makanan instan lainnya dan botol minuman, bahkan lebih parah saya juga sering melihat coretan cat di batu maupun goresan di pohon, seringkali coretan itu menulis nama sekolah, nama kampus hingga membuat pesan kepada sang pujaan hati. Sekali lagi tidak semua pecinta alam berperilaku seperti itu, saya yakin itu dilakukan secara pribadi oleh anggotanya yang kurang memaknai arti dari pecinta alam itu sendiri.
Jujur saja selaku individu dari kelompok pecinta alam pastinya pernah mengalami kesalahan dalam melakukan perjalanan ke gunung apapun bentuknya. Tapi dengan kesadaran semua yang dianggap sebuah kekeliruan tentunya dapat diperbaiki hingga tidak dilakukannya lagi pada waktu berikutnya.
Pada tahun 1992 saya bersama 14 orang teman pernah melakukan aksi nyata dengan memungut sampah di 5 gunung antara lain gunung Penanggungan, Welirang, Arjuno, Semeru, dan Penanjakan tepatnya tanggal 9 – 21 Juli 1992 dengan biaya sponsor. Banyak hal yang sebenarnya bisa dilakukan oleh kaum muda yang mengaku dirinya pecinta alam, bukan hanya sekedar mendaki gunung dan menyusuri belantara, semisal membuat papan peringatan, atau memasang tong sampah dibeberapa kawasan pos pendakian atau tempat wisata hutan dan masih banyak yang lain.
Kepedulian akan alam harus menjadi jiwa dan semangat para pecinta alam, karena merekalah yang pertama harus memiliki kesadaran lebih, justru bukan mengabaikannya.
Sebuah organisasi Pencinta Alam (yang biasanya ngetren di kalangan mahasiswa) seharusnya bukan sekadar sebuah tempat bernaung bagi mereka yang senang bertualang saja, namun bagaimana harus bisa menjadi pelopor bagi masyarakat umum agar lebih mencintai alam. (Djel Cah Gunung)


Selengkapnya...

21 Januari 2011

Mengapa Mendaki Gunung


Bagi orang awam, kiprah petualang seperti Pendaki Gunung selalu mengundang pertanyaan klise : mau apa sih ke sana ?. Pertanyaan sederhana, tetapi sering membuat bingung yang ditanya, atau bahkan mengundang rasa kesal. George F Mallory, pendaki gunung terkenal asal Inggris, mungkin cuma kesal saja ketika menjawab : because it is there, karena gunung ada disitu!, Mallory bersama seorang temannya, menghilang di Pucuk Everest pada tahun 1924.
Rata Penuh Beragam jawaban boleh muncul, Soe Hok Gie, salah seorang pendiri Mapala UI, menulisnya dalam sebuah puisi : ” Aku Cinta Padamu Pangrango, Karena Aku cinta Keberanian Hidup ”. Bagi pemuda ini, keberanian hidup itu harus dibayar dengan nyawanya sendiri. Soe Hok Gie tewas bersama seorang temannya Idhan Lubis, tercekik gas beracun dilereng kerucut Mahameru, Gunung Semeru, 16 Desember 1969, dipelukkan seorang sahabatnya, Herman O Lantang.

Pemuda aktif yang sehari-hari terlibat dalam soal-soal pelik di dunia politik ini mungkin menganggap petualangan di gunung sebagai arena untuk melatih keberanian menghadapi hidup. Mungkin pula sebagai pelariannya dari dunia yang digelutinya di kota. Herman O Lantang yakin bahwa sahabatnya itu meninggal dengan senyum dibibir. ” Dia meninggal ditengah sahabat-sahabatnya di alam bebas, jauh dari intrik politik yang kotor ” ujarnya.

Motivasi melakukan kegiatan dialam bebas khususnya Mendaki Gunung memang bermacam macam. Manusia mempunyai kebutuhan psikologis seperti halnya kebutuhan-kebutuhan lainnya: Kebutuhan akan pengalaman baru, Kebutuhan untuk berprestasi, dan Kebutuhan untuk diakui oleh masyarakat dan bangsanya. Mendaki gunung adalah salah satu sarana untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu, disadari atau tidak. Semua ini sah, tentu saja.

Sebenarnya yang paling mendasar dari semua motivasi itu adalah rasa ingin tahu yang menjadi jiwa setiap manusia. Rasa ingin tahu adalah dasar kegiatan mendaki gunung dan petualangan lainnya. Keingin-tahuannya setara dengan rasa ingin tahu seorang bocah, dan inilah yang mendorong keberanian dan ketabahan untuk menghadapi tantangan alam. Tetapi apakah sebenarnya keberanian dan ketabahan itu bagi Pendaki Gunung ?

Peter Boardman, Pendaki Gunung asal Inggris, menjadi jenuh dengan pujian-pujian yang bertubi-tubi, setelah keberhasilannya mencapai Puncak Everest melalui Dinding Barat Daya yang sulit di tahun 1975. Peter Boardman yang kemudian hilang di Punggung Timur Laut Everest tahun 1982 menulis arti Keberanian dan Ketabahan baginya.

” Dibutuhkan lebih banyak Keberanian untuk menghadapi kehidupan sehari-hari yang sebenarnya lebih kejam daripada bahaya pendakian yang nyata. Ketabahan dibutuhkan lebih banyak untuk bekerja di kota daripada mendaki gunung yang tinggi.”

Keberanian dan Ketabahan yang dibutuhkan ketika mendaki gunung cuma sebagian kecil saja dari hidup kita. Bahaya yang mengancam jauh lebih banyak ada didunia peradaban, di perkotaan ketimbang digunung, hutan, dalam goa, dan dimana saja dialam terbuka.

Di dunia peradaban modern, di kota, begitu banyak masalah yang membutuhkan Keberanian dan Ketabahan untuk menyelesaikannya. Di gunung, masalah yang kita hadapi hanya satu : ”Bagaimana mencapai puncaknya, lalu turun kembali dengan selamat.”

Seorang psikolog pernah mengatakan, ”bahwa mereka yang menggemari petualangan di alam bebas adalah orang-orang yang mencintai Kematian.” Ini pendapat yang salah dan keliru besar. Kenapa? Mereka yang berpetualang di alam bebas sebenarnya begitu menghargai kehidupan ini. Ada keinginan mereka untuk memberi arti yang lebih bernilai dalam hidup ini. Mereka berpetualang di alam bebas untuk mencari arti hidup yang sebenarnya. Tak berlebihan bila seorang ahli filsafat mengatakan: ” Didalam hutan dan alam bebas aku merasa menjadi manusia kembali.”

Petualang yang tewas di gunung (kegiatan alam bebas lainnya), bukanlah orang yang mencintai kematian. Kematiannya itu sebenarnya tak berbeda dengan kematian orang lain yang tertabrak mobil di jalan raya atau terbunuh perampok. Yang pasti, Mereka tewas justru dalam usahanya untuk menghargai kehidupan ini. ” Hidup itu harus lebih dari sekedarnya ” tulis Budi Laksmono yang tewas digulung jeram Sungai Alas, Aceh, 1985.

George F. Mallory, Soe Hok Gie, Idhan Lubis, Norman Edwin, Didiek Samsu, Peter Boardman, Budi Laksmono, dan banyak lagi petualang dan penjelajah alam bebas lainnya yang gugur dalam misinya, Mereka semua adalah yang sangat menghargai KEHIDUPAN !

HIDUP ADALAH SOAL, KEBERANIAN, MENGHADAPI YANG TANDA TANYA
TANPA KITA MENAWAR ” TERIMA DAN HADAPILAH ”

Soe Hok Gie

Sumber dari buku Norman Edwin " Mendaki Gunung sebuah tantangan petualangan " tahun 1987.
Selengkapnya...

19 Januari 2011

Berlibur ke Gunung Diperlukan Persiapan

Rekreasi atau liburan (refreshing) sama pentingnya dengan bekerja. Mengapa? Sebab, ketika seseorang istirahat seluruh organ-organ sarafnya menjadi rileks. Rileks membuat hati dan jantung menjadi lebih tenang. Ketenangan dapat membuat seseorang merasakan kelapangan jiwa.

Gunung hutan merupakan tempat rekreasi di pegunungan yang penuh dengan hutan hijau yang rindang. Selain dapat menikmati udara pegunungan yang sejuk, Anda juga dapat merasakan bagaimana kehidupan hutan yang sangat alami. Itu sebabnya, gunung hutan sering menjadi tujuan wisata.

JIka Anda memilih liburan di gunung dan di hutan. Ada baiknya terlebih dahulu menyiapkan hal-hal teknis dan non teknis. Hal teknis seperti perlengkapan standar dan hal non teknis adalah persiapan fisik dan mental. Bagi yang sudah sering rekreasi ke gunung, persiapan pun mutlak diperlukan. Sekarang pertanyaannya bersama dengan siapakah Anda ingin liburan ke gunung dan hutan? Apakah bersama keluarga, teman, atau sendirian. Lalu apakah sekedar ingin berlibur ke gunung tanpa harus mendaki gunung? Apakah Anda memilih gunung dengan hutan yang masih asri dan liar atau lebih memilih gunung yang sudah masuk konservasi hutan lindung?

Menyusun Rencana dan Persiapan Standar Liburan ke Gunung
• Tentukan tanggal keberangkatan, dan berapa lama Anda berlibur (camping). Tetapi, biasanya dibatasi sampai 3 hari. Beritahu teman, sanak famili kalau Anda sedang berada di gunung atau hutan misalnya.
• Cari informasi lokasi lengkap beserta kondisi cuaca. Jangan lupa apakah tempat yang ingin kita tuju dekat atau jauh dari lokasi penduduk .
• Tentukan anggaran dan bersama dengan siapakah Anda hendak berlibur.
• Bawa perbekalan yang cukup seperti makanan siap saji, bahan mentah makanan.
• Satu hal lagi, apakah selama liburan ke gunung, Anda juga berniat bersepeda atau berarung jeram.
• Tas ransel atau biasa disebut Carrier kapasitas 60 L
• Tenda kemah.
• Kantong tidur dan matras.
• Sepatu dan sandal.
• Jaket atau baju hangat.
• Pakaian ganti.
• Jas hujan atau payung.
• Senter
• Sarung tangan, kaos kaki, syal leher, topi, dan kacamata bila perlu.
• P3K
• Obat-obatan, masing-masing orang mungkin berbeda
• Suplemen
• Tempat air minum.
• Peralatan masak dan perlengkapan makan portable seperti kompor, piring, sendok, gelas, dan seterusnya.
• Bekal makanan.
• Pisau, Peta, Kompas, GPRS (alat navigasi), radio HT.
• Kamera, dan alat tulis, laptop bila memang diperlukan.
• Uang.
• Alat komunikasi telepon seluler (bila perlu bawa batre cadangan)
• Altimeter pengukur ketinggian.
• Teropong.
• Kelengkapan administrasi.
• Perlengkapan shalat.
• Khusus untuk perempuan sebaiknya membawa pembalut.
• Faktor keamanan juga penting.
• Sediakan kantong plastik untuk sampah.

Terakhir, bila fisik Anda tiba-tiba lemah, jangan ragu-ragu untuk membatalkan perjalanan. Daripada nantinya Anda berisiko dan harus menantang maut. Bukankah hal terpenting dalam liburan adalah kepuasan terhadap apa yang ingin dapatkan dalam liburan ke gunung dan hutan.

Kalau Anda sudah sampai di gunung. Ingatlah semboyan para pendaki yang sudah lazim dipatuhi, "Jangan membunuh apa pun kecuali waktu, jangan mengambil apa pun kecuali gambar (foto), dan jangan meninggalkan apa pun kecuali jejak."
Selengkapnya...

25 November 2010

Bencana sebagai sahabat yang mesti disapa dengan tradisi, kebudayaan, peradaban.

Bencana alam adalah keniscayaan, terlepas dari apa pun penyebabnya. Tak jarang, sekeras apa pun usaha kita untuk menghindarinya, ia tetap saja datang menerjang. Tak peduli kita tengah gencar menghujat perilaku manusia perusak alam atau bahkan ketika khusyuk berdoa. Maka, di samping berbagai usaha pencegahan terjadinya bencana alam, kita semestinya memiliki kesadaran tentang keniscayaan bencana alam. Berbagai usaha pencegahan atas terjadinya maupun pencegahan akan akibat bencana alam didasari dengan kesadaran yang demikian.

Pada suatu titik kesadaran, kita akan sampai pada penarikan bencana alam ke dalam ranah tradisi kehidupan atau peradaban kita. Kita menyiapkan, merancang, dan mengeksekusi berbagai agenda sadar bencana alam yang kemudian ditradisikan. Kita mentradisikannya sebagaimana kita membuat atap rumah karena sadar akan keniscayaan turunnya hujan, atau sebagaimana tradisi mandi yang muncul dari kesadaran akan kotoran yang niscaya melekati tubuh kita.

Banjir yang terjadi hampir di sebagian wilayah Indonesia, merendam hampir seluruh Jawa, akhir-akhir ini mestinya bisa disikapi dengan kesadaran yang demikian sejak lama. Apalagi banjir ini telah menjadi agenda tahunan alam di Indonesia. Kota besar seperti JAKARTA pun tak luput dari rendaman banjir. Beberapa daerah menuju bandara dan pemukiman warga menjadi langganan.

Ternyata, tata kota, terutama tata keairan, tidak punya visi dalam mengantisipasi kedatangan bencana alam semacam banjir. Para perancang tidak punya kesadaran akan bencana alam yang sangat mungkin dimasukkan ke dalam tradisi merancang berbagai tata bangunan. Barangkali semuanya dirancang dan dibangun untuk menghadapi situasi normal. Padahal kalau mau berpikir lebih mendalam, banjir pun sebenarnya adalah keadaan normal. Belum ada indikasi sebuah visi pembangunan untuk mengantisipasi kenormalan yang kadang-kadang terjadi, seperti banjir.

Kesadaran memang telah ada tentang kerusakan hutan (yang malah terus dirusak) sehingga memunculkan gerakan penanaman kembali. Namun ini perlu waktu yang lama. Menunggu bibit-bibit yang ditanam sehingga tumbuh menjadi pohon besar itu lebih lama dibandingkan membangun tata beton-beton yang punya visi menanggulangi kedatangan banjir. Dengan kata lain, realisasi pembangunan yang mempunyai kesadaran akan banjir sangat mendesak.

Sepertinya, banyak dari kita yang tidak banyak belajar dari peradaban masa lalu yang kelihatannya remeh. Sering kali peradaban masa lalu hanya dikagumi kemegahannya, keunikannya, kemudian dideskripsikan sedemikian rupa untuk kalangan umum, termasuk kalangan luar negeri, sehingga dapat mendatangkan masukan melalui dunia pariwisata, atau ujung-ujungnya masuk museum dan membeku di sana.

Mentradisikan dan merealisasi ide tentang antisipasi bencana alam pada satu titik akan sampai memberi pemahaman bahwa banjir, misalnya, pada suatu ketika tidak dianggap sebagai bencana. Ia mewujud sebagai sahabat yang mesti disapa dengan tradisi, kebudayaan, peradaban.
Selengkapnya...

26 Juli 2010

Mengenal Gunung Lawu

Kawah Gunung Lawu yang dikenal dengan sebutan Kawah Condrodimuko dipercaya masyarakat sekitar sebagai tempat menggodok tokoh pewayangan diantaranya Gatutkaca salah satu tokoh dari Pandawa Lima. Di gunung ini juga banyak tempat-tempat keramat antara lain Sendang Drajat, Argo Dalem, Argo Dumilah, Pasar Dieng, Batu Tugu "Punden Berundak", Lumbung Selayur, Telaga Kuning dan masih banyak lagi.


Gunung Lawu (3.265 m) terletak diperbatasan antara Jawa Tengah dan Jawa Timur, Gunung ini banyak menyimpan sejuta misteri dan legenda. Dalam legenda Gunung Lawu dipercayai sebagai tempat bertapanya Raden Brawijaya atau dikenal dengan Sunan Lawu setelah mengundurkan diri dari kerajaan Majapahit, konon Raden Brawijaya dipercaya sebagai penguasa seluruh makhluk yang ada di Gunung Lawu.

Gunung Lawu menyimpan misteri pada masing-masing dari tiga puncak utamanya dan menjadi tempat yang dimitoskan sebagai tempat sakral di Tanah Jawa. Argo Dalem diyakini sebagai tempat pamoksan Prabu Bhrawijaya Pamungkas, Argo Dumiling diyakini sebagai tempat pamoksan (mukso) Ki Sabdopalon, dan Harga Dumilah merupakan tempat yang penuh misteri yang sering dipergunakan sebagai ajang menjadi kemampuan olah batin dan meditasi.

Setiap orang yang hendak pergi ke puncaknya harus memahami berbagai larangan tidak tertulis untuk tidak melakukan sesuatu, baik bersifat perbuatan maupun perkataan. Bila pantangan itu dilanggar di pelaku diyakini bakal bernasib naas. Tempat-tempat lain yang diyakini misterius oleh penduduk setempat yakni: Sendang Inten, Sendang Drajat, Sendang Panguripan, Sumur Jalatunda, Kawah Candradimuka, Repat Kepanasan/Cakrasurya, dan Pringgodani.

Desa Cemoro Sewu maupun dukuh Cemoro kandang yang hanya berjarak sekitar 1 kilometer merupakan gerbang pendakian ke puncak Lawu atau lebih dikenal dengan nama Argo Dumilah, letaknya berada tidak jauh dari kota dan dilintasi oleh jalan raya tertinggi di pulau Jawa yaitu sekitar 1.878 meter dari permukaan air laut. Karena letaknya yang mudah dijangkau, Gunung Lawu ini banyak dikunjungi pendaki pada Minggu dan hari-hari libur. Bahkan pada bulan Suro (Tahun Baru menurut penanggalan Jawa), kita akan menemui bahwa mereka yang mendaki bukan saja untuk ke puncak gunung Lawu, tetapi juga banyak diantaranya adalah peziarah, pertapa dan berbagai tujuan lainnya (Djel berbagai sumber)
Selengkapnya...

25 Juli 2010

Gunung Semeru Tempat Bersemayam Para Dewa

Pulau Jawa pada suatu saat mengambang di lautan luas, dipermainkan ombak kesana-kemari, maka Para Dewa memutuskan untuk memakukan Pulau Jawa dengan cara memindahkan Gunung Meru di India ke atas Pulau Jawa, demikian kepercayaan masyarakat Jawa yang tertulis pada kitab kuno Tantu Pagelaran dari abad 15,

Dewa Wisnu menjelma menjadi seekor kura-kura raksasa menggendong gunung itu dipunggungnya, sementara Dewa Brahma menjelma menjadi ular panjang yang membelitkan tubuhnya pada gunung dan badan kura-kura sehingga gunung itu dapat diangkut dengan aman.

Dewa-Dewa tersebut meletakkan gunung itu di atas bagian pertama pulau yang mereka temui, yaitu di bagian barat Pulau Jawa. Tetapi berat gunung itu mengakibatkan ujung pulau bagian timur terangkat ke atas. Kemudian mereka memindahkannya ke bagian timur pulau tetapi masih tetap miring, sehingga Mereka memutuskan untuk memotong sebagian dari gunung itu dan menempatkannya di bagian barat laut.

Penggalan ini membentuk Gunung Pawitra, yang sekarang dikenal dengan nama Gunung Pananggungan, dan bagian utama dari Gunung Meru, tempat bersemayam Dewa Shiwa, sekarang dikenal dengan nama Gunung Semeru. Pada saat Sang Hyang Siwa datang ke pulau Jawa dilihatnya banyak pohon Jawawut, sehingga pulau tersebut dinamakan Jawa.

Lingkungan geografis pulau Jawa dan Bali memang cocok dengan lambang-lambang agama Hindu. Dalam agama Hindu ada kepercayaan tentang Gunung Meru, Gunung Meru dianggap sebagai rumah para dewa-dewa dan sebagai sarana penghubung diantara bumi (manusia) dan Kayangan. Kalau manusia ingin mendengar suara dewa mereka harus bersemedi di puncak Gunung Meru. Banyak masyarakat Jawa dan Bali sampai sekarang masih menganggap gunung sebagai tempat kediaman Dewa-Dewa atau mahluk halus. Selanjutnya daerah bergunung-gunung masih dipakai oleh manusia Jawa sebagai tempat ber4semedi untuk mendengar suara gaib.

Menurut orang Bali Gunung Mahameru dipercayai sebagai Bapak Gunung Agung di Bali dan dihormati oleh masyarakat Bali. Upacara sesaji kepada para dewa-dewa Gunung Mahameru dilakukan oleh orang Bali. Betapapun upacara tersebut hanya dilakukan setiap 8-12 tahun sekali hanya pada waktu orang menerima suara gaib dari dewa Gunung Mahameru. Selain upacara sesaji itu orang Bali sering datang ke daerah Gua Widodaren untuk mendapat Tirta suci.

Orang naik sampai puncak Mahameru ada yang bertujuan untuk mendengar suara-suara gaib. Selain itu juga ada yang memohon agar diberi umur yang panjang. Bagaimanapun alasan orang naik ke puncak Mahameru, kebanyakan orang ditakutkan oleh macam-macam hantu yang mendiami daerah keliling gunungnya. Hantu-hantu tersebut biasanya adalah roh leluhur yang mendiami tempat seperti hutan, bukit, pohon serta danau. Roh leluhur biasanya bertujuan menjaga macam-macam tempat dan harus dihormati. (Djel berbagai sumber)

Selengkapnya...

27 April 2010

Mencintai Alam dan Sesama, Mencintai Hidup & Kematian Akan Terasa Damai

Cinta adalah ruh kehidupan penyepuh hati dan rasa aman bagi anak manusia. Bila hukum grafitasi dapat menahan bumi dan planet-planet sehingga tidak berbenturan, terbakar dan hancur berantakan, maka hukum cinta (kasih sayang) adalah hal yang dapat mempertahankan hubungan manusia sehingga tidak berbenturan lalu terbakar dan menjadi peperangan. Itulah nilai cinta yang sudah dikenal manusia sejak dahulu sampai deasa ini. Mereka mengatakan, "Seandainya kasih sayang mendominasi kehidupan, manusia tidak lagi memerlukan keadilan dan undang-undang."

Seorang ulama salaf mengatakan, "Cinta kasih dapat mengubah pahit menjadi manis, debu menjadi emas, kotor menjadi jernih, sakit menjadi sembuh, tahanan menjadi taman, derita menjadi nikmat. Itulah cinta kasih yang melunakkan besi, meluluhkan batu, membangkitkan orang mati dan meniupkan kehidupan.

Seorang sastrawan menulis, "Tampak dari kejauhan cahaya menyinari lautan, bagaikan bintang memberi penerangan, aku ingin di masa mendatang menjadi seperti bintang ini, siapa yang tidak ingin seperti bintang ini di masa depnnya? Apa yang terjadi? Ilmu hanya memberikan pemikiran yang kering, kerja hanya memberikan cucuran keringat dan kebencian. Harta hanya memberikan rasa khawatir, ketakutan dan kesulitan.

Cinta kasih itulah mutiara satu-satunya yang memberikan rasa aman, ketenangan dan kedamaian. Kami mencintai segala-galanya, bahkan kami mencintai bencana sebagaimana kami mencintai kenikmatan. Cinta kasih dapat membangkitkan kekuatan untuk melawan, lalu jiwa tergugah bangkit seolah-olah melompat. Disamping itu cinta kasih adalah angin segar yang mendinginkan panasnya pertikaian. Kami mencintai kehidupan, adakah orang yang mencintai seperti ini? Bila dapat melakukannya sungguh ia adalah pahlawan." Sesungguhnya orang yang dapat bercinta kasih seperti ini hanyalah orang-orang yang memperoleh manisnya iman di hatinya. Iman adalah satu-satunya sumber cinta kasih yang jernih dan abadi. Hanya orang-orang yang beriman kepada Allah, satu-satunya yang dapat mencintai segala sesuatu walaupun pada bencana, duka cita. Ia mencintai alam ini awal dan akhirnya, hidup dan mati.

MENCINTAI ALAM.

Seorang mu'min mencintai alam seluruhnya sebagaimana ia mencintai Tuhannya. Karena alam adalah jejak-jejak Tuhannya. "Ia-lah dzat yang menciptakan dan menyempurnakan dan menentukan dan membimbing." (Q.S. Al-Qamar: 49)

Alam bukanlah manusia, akan tetapi ia adalah makhluk yang ditundukkan untuk berkhidmat pada manusia agar dapat membantunya melaksanakan tugas kekhalifahannya di bumi. Segala sesuatu yang ada di alam bertasbih membesarkan nama Allah dengan bahasa yang kadang-kadang tidak dipahami oleh anak manusia. "Langit yang tujuh dan bumi dan orang-orang yang ada di dalamnya bertasbih kepada-Nya, tiada sesuatupun kecuali bertasbih kepada-Nya, akan tetapi kalian tidak memahami tasbihnya." (Q.S. Al-Isra': 4)

Alam ini tidak jahat yang harus dihancurkan segera, akan tetapi merupakan kitab Allah, terbuka untuk orang yang dapat membaca dan buta huruf sekalipun. Di situ terbaca ayat-ayat kekuasaan, rahmat, kebesaran, dan nikmat-Nya. Tiada satupun di alam ini diciptakan sia-sia tanpa makna. Semuanya menjalankan fungsinya sesuai kehendak Allah SWT untuk kelangsungan kehidupan sampai tiba ajalnya dan untuk berkhidmat kepada khalifah yang terhormat (manusia).

Sebagian manusia melihat kegelapan dengan suatu pandangan takut dan benci, dan melukiskannya sebagai dewa kejahatan yang memerangi dewa sinar dan kebajikan, maka bagaimanakah perasaan mereka memahami malam, sementara separo waktu berupa malam?



MENCINTAI HIDUP DAN KEMATIAN.

Seorang mu'min mencintai hidup seperti ia mencintai alam. Kehidupan bukanlah penjara yang harus dijauhi, akan tetapi merupakan missi yang harus dilaksanakan dan nikmat yang harus disyukuri. "Janganlah salah seorang dari kalian mengharapkan mati dan memohonnya sebelum datang kepadanya, karena sesungguhnya bila ia mati terputus amalnya dan bertambah umur seorang mukmin bertambah kebaikannya." (HR. Muslim)

Orang mukmin mencintai hidup karena dengannya ia dapat menegakkan hak Allah di bumi, dan iapun mencintai mati karena dengan kematianlah ia dapat dengan segera menemui Tuhannya. "Barangsiapa mencintai bertemu dengan Allah, maka Allahpun mencintai bertemu dengannya." (HR. Bukhari-Muslim)

Sewaktu Rasulullah disuruh memilih antara bertemu dengan Tuhannya dan menetap di dunia ini, beliau bersabda, "Aku memilih sahabat tertinggi." Ketika Ali ibnu Abi Thalib RA ditikam oleh Abdurrahman ibnu Muljam, ia berkata : "Demi Tuhan pemilik Ka'bah! Aku beruntung." Ketika Bilal menjelang mati istrinya menjerit, "Oh betapa sedihnya!" Mendengar itu Bilal berkata kepadanya, "Jangan berkata begitu tapi berkatalah, 'Betapa senangnya!' Esok aku akan bertemu sahabat-sahabatku tercinta, Muhammad dan sahabat-sahabat tercintanya."

Khalid ibnu Walid ketika mengirim surat kepada panglima perang tentara Parsi atau Romawi ia mengakhiri suratnya setelah menyeru untuk berdamai dan masuk Islam dengan ucapan, "Dan jika tidak, aku akan mengirimkan kepada kalian satu kaum yang mencintai maut seperti kalian mencintai hidup."



MENCINTAI SESAMA MANUSIA.

Orang mukmin mencintai sesama manusia, karena mereka adalah saudara, teman mengabdi kepada Allah. Mereka semua adalah satu nasab, keturunan dan juga memiliki satu tujuan dan satu lawan. Satu keturunan, seperti firman Allah, "Hai sekalian manusia, bertaqwalah kepada Rabb-mu yang telah menciptakan kamu dari yang satu, dan daripadanya Allah menciptakan isterinya; dan daripada keduanya Allah memperkembangbiakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertaqwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu."(QS. An-Nisaa': 1)

Aqidah Islam tidak membatasi faktor etnis, seorang muslim berkeyakinan bahwa semua manusia adalah dari Adam. Perbedaan bahasa, warna kulit hanya sebagai dalil akan kekuasaan Allah, keagungan pencipta pencipta, dan ayat dari ayat-ayat-Nya.

"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah menciptakan langit dan bumi dan berlain-lainan bahasamu dan warna kulitmu.Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mengetahui." (QS. Ar-Ruum: 22)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Zaid ibnu Arqam, ia berkata, "Rasulullah SAW setiap selesai shalat berdo'a. "Ya Allah Tuhan kami dan Tuhan segala-galanya, aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba-Mu dan utusan-Mu, Ya Allah Tuhan kami dan Tuhan segala-galanya, aku bersaksi bahwa hamba-hamba seluruhnya adalah bersaudara."

Betapa tingginya kedudukan ukhuwah basyariyyah (persaudaraan sesama manusia) dalam jiwa seorang muslim. Ukhuwah ini menempati peringkat setelah tauhid (mengesakan Allah) dan pengakuan kerasulan Muhammad SAW.

Al-Qur'an mengajarkan kepada muslim untuk menghormati sesama makhluk apapun, termasuk binatang melata, serangga dan burung-burung. "Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat-umat (juga) seperti kamu. Tiadalah Kami apakan sesuatu apapun di dalam Al-Kitab, kemudian kepada Rabblah mereka dihimpunkan." (QS. Al-An'aam: 38).

Rasulullah bersabda, "Seandainya anjing-anjing itu bukan suatu ummat dari ummat, tentu aku perintahkan untuk dibunuh."

Demikianlah sikap mental seorang mukmin kepada manusia. Tidak menonjolkan faktor etnis, fanatik daerah, tidak membenci tingkat sosial masyarakat, tidak hasud pribadi, akan tetapi rasa cinta kasih dan persaudaraan bagi manusia.
Seorang mukmin dengan aqidahnya ia mencintai alam seluruhnya, ia mencintai Allah, alam, mencintai hidup dan mati, mencintai takdir, manis dan pahitnya, mencintai manusia seluruhnya, dan hanya membenci syetan dan kelompoknya dengan kebencian yang dibarengi rahmat dan kasih sayang dan cinta kebaikan untuk manusia seluruhnya. Cinta kasih seperti ini merupakan bukti imannya kepada Tuhannya dan penuntunnya ke surga, tepatlah sabda Nabi SAW, "Demi dzat yang diriku berada di tangannya, tidak akan dapat masuk surga sebelum kalian beriman dan tidak akan beriman sebelum kalian saling mencintai."
Selengkapnya...

01 November 2009

Laku dan Tirakat masih Relevankah?

Laku dan tirakat adalah cara orang jawa dalam berusaha mencapai suatu keinginan mulai dari keinginan akan suatu ilmu, kekayaan, kesaktian, pangkat, rejeki dan sebagainya yang merupakan keinginan orang dalam hidup. Namun laku ini bukan lah suatu usaha yang berhubungan dengan keinginan tersebut tetapi lebih cenderung ke arah spiritual atau keyakinan.


Banyak macam orang dalam menjalani laku mulai dari puasa, tidak tidur, berendam di sungai, sampai kepada ritual yang aneh dan tidak masuk logika orang modern yg lain, yang kesemuanya bertujuan agar apa yang menjadi harapan mereka bisa tercapai.

Jika di aplikasikan pada jaman sekarang pastilah akan terasa berat untuk tidak tidur atau berpuasa selama 7 atau 40 hari penuh tanpa makan, sementara kewajiban atas pekerjaan dan aktifitas sehari hari menuntut orang untuk tetap fit dan dalam kondisi yang prima.
Jika demikian apakah konsep tentang laku ini sudah tidak relevan lagi dengan kondisi jaman sekarang ataukah masih perlu untuk dijalankan?

Jawabanya adalah Ya, anda masih perlu menjalankan laku, karena konsep tentang laku ini masih harus dijalankan dengan menyesuaikan perubahan jaman.

Hakekat laku adalah upaya dalam menjaga agar tetap fokus pada mindset dan tujuan, dengan demikian akan mendorong dan mengarahkan perilaku seseorang agar selalu tetap dalam arah yang membangun tercapainya tujuan. Sebagai contoh misalnya ada orang yang menginginkan kekayaan maka dengan menjalankan laku dia akan menjauh dari tindakan pemborosan atau berfoya-foya dan kemudian akan cenderung hidup berhemat serta bekerja lebih keras. Jika anda ingin sukses dalam karir maka jadikanlah pekerjaan adalah laku anda sehingga mendorong anda bekerja lebih profesional, jujur dan disiplin dengan demikian anda akan terhindar dari kebiasaan dan etos kerja buruk yang dapat menghancurkan karir anda.

Jadi bisa disimpulkan bahwa yang membuat orang berhasil mencapai tujuannya dengan menjalankan laku adalah bukan karena bentuk ritualnya melainkan karena mereka akan cenderung tetap fokus kepada apa yang menjadi tujuan sehingga segala sesuatu yang dikerjakan akan terkondisi pada arah untuk mencapai tujuan. Jika kita ambil hubunganya dengan pemahaman tentang alam semesta maka laku akan memperjelas visualisasi tujuan yang terekam dalam memori otak kita sehingga respon alam semesta akan lebih cepat diterima. Jika anda ingin sukses dalam mencapai tujuan maka jalankan laku dengan cara tetaplah fokus pada keinginan untuk mencapai tujuan tersebut.
Selengkapnya...

14 Juni 2009

Merangsang Potensi Kecerdasan Anak

Usia dari kelahiran hingga enam tahun merupakan usia kritis bagi perkembangan semua anak, tanpa memandang suku atau budaya mana anak itu berasal. Stimulasi yang diberikan pada usia ini akan mempengaruhi laju pertumbuhan dan perkembangan anak serta sikap dan perilaku sepanjang rentang kehidupannya.

Penelitian menunjukan bahwa sejak lahir anak memiliki kurang lebih 100 miliar sel otak. Sel-sel syaraf ini harus rutin distimulasi dan didayagunakan agar terus berkembang jumlahnya. Jika tidak, jumlah sel tersebut akan semakin berkurang yang berdampak pada pengikisan segenap potensi kecerdasan anak.

Bila anda mempunyai anak usia kelahiran hingga enam tahun lebih baik diikutsertakan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD)yang merupakan suatu proses pembinaan tumbuh kembang anak usia lahir hingga enam tahun secara menyeluruh, yang mencakup aspek fisik dan non fisik dengan memberikan rangsangan bagi perkembangan jasmani, rohani (moral dan spiritual), motorik, akal fikir, emosional, dan sosial yang tepat dan benar agar anak tumbuh dan berkembang secara optimal. Adapun upaya yang dilakukan mencakup stimulasi intelektual, pemeliharaan kesehatan, pemberian nutrisi, dan penyediaan kesempatan-kesempatan yang luas untuk mengeksplorasi dan belajar secara aktif.

Hasil yang diharapkan dari PAUD adalah anak mendapatkan rangsangan dan kesempatan serta peluang yang besar untuk mengembangkan potensi sepenuhnya. Anak yang merupakan subyek sentral memiliki bakat, minat dan potensi yang tidak terbatas untuk dikembangkan oleh pihak-pihak yang bertanggungjawab terhadapnya di dalam suasana penuh kasih sayang, aman, terpenuhi kebutuhan dasarnya, dan kaya stimulasi.
Selengkapnya...

29 Mei 2009

Ratusan Candi Tersebar di Lereng Gunung Penanggungan

Secara administrasi Pegunungan Penanggungan masuk ke dalam wilayah Kabupaten Mojokerto. Pegunungan tersebut meliputi Gunung Penanggungan (tinggi 1659 m) dan bukit bukit-bukit sekitarnya yaitu, Bukit Bekel (1238 m), Gajah Mungkur (1084 m), Sarah Klopo (1235 m), dan Kemuncup (1238 m).



Tinggalan purbakala yang terdapat di gunung penanggungan sangatlah banyak. Menurut van Romondt yang pernah melakukan penelitian pada tahun 1951 tinggalan purbakala yang terdapat di gunung Penanggungan sekitar 81 buah yang tersebar di lereng gunung penanggungan. Tinggalan purbakala yang ada di gunung penanggungan secara umum berbentuk punden berundak dengan altar pemujaan di bagian paling belakang, selain itu terdapat juga beberapa gua atau ceruk yang digunakan sebagai pertapaan dan artefak-artefak lain yang berkaitan dengan bangunan suci tersebut. Inventarisasi lebih lanjut dilakukan oleh DITLINBINJARAH pada tahun 1990/1991 yang berhasil mencatat sebanyak 51 buah.


Gunung penanggungan merupakan salah satu gunung suci, dalam kitab negarakertagama disebut dengan pawitra. Bentuk peninggalan yang berupa struktur bangunan bertingkat yang banyak dijumpai di wilayah gunung penanggungan adalah punden berundak. Punden-punden tersebut dibangun tersebar di lereng barat puncak Penanggungan, di lembah antara puncak Penanggungan dan bukit Bekel, di bukit Bekel dan bukit Gajah Mungkur. Punden berundak tersebut umumnya berorientasi kearah puncak Penanggungan atau puncak bukit lainnya. Hal ini membuktikan bahwa anggapan tentang daerah suci tidaklah terpusat pada puncak penanggungan saja, tetapi seluruh gunung itu dan lingkungannya pun dianggap suci hingga punden-punden berundak sembarang didirikan di berbagai tempat dan selalu berada dilereng atau tempat-tempat yang mendekati puncak Penanggungan atau puncak-puncak bukit lainnya (Agus Aris, 1990 : 75).

Ditinjau dari bentuknya, bangunan berteras di situs gunung Penanggungan tampak memiliki unsur-unsur bangunan prasejarah dari tradisi megalitikum yang melatar belakangi pemujaan terhadap arwah nenek moyang. Jika ditinjau dari pahatan candrasengkala atau angka tahun dalam tarikh saka pada beberapa bangunan dan juga ditinjau dari ragam hias dan relief cerita yang terdapat pada sebagaian besar bangunan dapat dipastikan bahwa peninggalan purbakala di situs tersebut berasal dari masa akhir kerajaan majapahit (sekitar abad 15 M).

Beberapa sarjana pernah mengadakan penelitian secara langsung atau tidak langsung terhadap kepurbakalaan di gunung Penanggungan, khususnya kepurbakalaan yang berbentuk punden berundak dengan 3 altar (1 altar besar dan 2 altar apit kecil di kanan-kirinya) yang didirikan di bagian puncak punden berundak (teras teratas). W.F Sutterheim adalah sarjana pertama yang mengadakan penelitian langsung di situs Penanggungan dan dia mnyimpulkan bahwa bangunan punden berundak di gunung penanggungan dihubungkan dengan tradisi pemujaan nenek moyang, karena gunung dalam konsepsi religi Indoneisa asli dianggap sebagai tempat tingggal para leluhur yang sudah meninggal. Kemudian Stutterheim juga menyatakan bahwa mungkin bangunan punden berundak di gunung Penanggungan ada hubungannya dengan pura di Bali, karena bentuk altar yang terdapat diatas punden berundak dianggap sama dengan altar yang terdapat diatas punden berundak dianggap sama dengan altar atau singgasana surya dalam suatu pura di Bali yang umumnya dighadapkan ke arah puncak gunung (Stuttterheim, 1936 : 199—200, 1938 : 25—30 dalam Agus Aris, 1990 : 4).

Berbeda pula dengan V.R. van Romondt yang menyimpulkan bahwa gunung Penanggungan dianggap suci karena Penanggungan dikelilingi oleh 4 puncak bukit lainnya, hal ini sama dengan keadaan puncak Mahameru. Pembangunan punden berundak dan berbagai kepurbakalaan lainnya terjadi menjelang akhir jaman hindu, sebagai tempat pemujaan nenek moyang yang telah moksa. Dalam hal ini telah terjadi syncritisme antara pemujaan nenek moyang sebagai unsur keagamaan asli dengan pemujaan dewa-dewa kosmis sebagai bentuk keagamaan asing (Van Romondt 1951 : 8)
Agus aris munandar menyimpulkan bahwa gunung Penanggungan merupakan salah satu karsyan yang dalam kitab negarakertagama disebut pawitra dimana gunung penanggungan dipercaya sebagai puncak mahameru yang yang telah dipindahkan oleh para dewa ke pulau jawa. Bangunan punden berundak yang terdapat di gunung penanggungan berpangkal pada konsep pemujaan leluhur yang telah diperdewa. Para leluhur tersebut pada masa hidupnya sangat mungkin memilih siwa sebagai dewata pujaan pribadinya (istadewata), kemudian parwati sakti siwa bagi mereka yang wanita, setelah itu terdapat juga pemujaan terhadap bima, tokoh panji atau tokoh maharsi tertentu yang dianggap telah tinggi ilmunya. Setelah meninggal para leluhur tersebut dianggap bersemayam dengan dewata pujaannya di puncak-puncak gunung, terutama di Gunung Penanggungan. Yang berperan dalam upacara pemujaan adalah para rsi yang memang tinggal jauh dari keramaian, di hutan atau lereng-lereng gunung. Mereka tinggal di tempat-tempat tersebut sambil mendalami pengetahuan keagamaan, bertapa di gua-gua dan makan sekedarnya untuk mencpai kehidupan yang tertinggi adalah bersatu dengan bhatara (siwa) yang bersemayam di puncak gunung (1990 : 332—340).

Bangunan punden berundak ditilik dari segi arsitekturnya sebenarnya dapatdigolongkan ke dalam perkembangan lebih lanjut dari bangunan suci Jawa Timur yang bergaya Candi Jago. Pada bangunan candi jago masih terlihat jelas adanya pembagian kaki, tubuh bangunan dan atapnya yang mungkin terbuat dari bahan yang mudah rusaksehingga tidak tersisa lagi. Kaki Candi Jago yang bertingkat tiga kemudian dikembangkan menjadi teras-teras pada punden berundak, dan jika pada Candi Jago tingkat-tingkat pada kakinya mempunyai empat sisi, pada punden berundak hanya mempunya satu sisi depan yang dilengkapi dengan deretan tangga menuju puncak punden.

Tinggalan arkeologi yang terdapat di gunung penanggungan berupa candi-candi yang berada di lereng gunung merupakan warisan hasil karya leluhur yang sudah seharusnya perlu dilestarikan dan dijaga keberadaannya untuk kepentingan Bangsa dan Negara.

Sumber : http://arkeologi.web.id/directory.php?id=200707301048


Selengkapnya...

11 Februari 2008

WASPADAI HYPOTHERMIA

Hypothermia adalah penurunan suhu tubuh dari suhu normal normal manusia 36-37 derajat celcius, dari suhu normal itu apabila terjadi penurunan maka akan terjadi gangguan pada kondisi fisik kita.

Bagaimana Mencegahnya, diantaranya kita harus memakai pakaian yang berlapis untuk mengontrol suhu tanpa banyak mengeluarkan keringat, jangan duduk/berbaring langsung diatas tanah/batu, dan gunakan topi bulu domba kalau dingin, karena kebanyakan panas tubuh hilang dari kepala.

Saat mendaki atau berjalan kembali kita bisa mengurangi lapisan pakaian sehingga tidak mengeluarkan banyak keringat ( pakaian yang basah akan cepat menghilangkan panas tubuh). Saat berhenti, sebaiknya kembali menambah pakaian rangkap sebelum tubuh mulai menjadi dingin atau suhu tubuh menurun.

Yang perlu diperhatikan adalah :

(1) Menghindarkan kulit dari air. (2) Makan makanan tambahan sesering mungkin yang berkalori tinggi, misalnya gula-gula, coklat, dll. (3) Siap membawa cukup pakaian gunung, peralatan, tenda dan makanan. (4) Celana “jeans” tidak cocok untuk mendaki, karena jeans yang basah akan lebih berat dan lama keringnya. (5) Bawahlah termos untuk menyimpan air panas agar pada saat perjalanan atau beristirahat kita tidak repot lagi untuk menyiapkannya. (6) Melakukan paking ransel sehingga kalau hujan pakaian, dan alat penting tetap tidak menjadi basah. (7) Simpan bahan bakar kompor dalam botol yg kuat dan aman agar tidak terjadi bocor pada saat melakukan perjalanan di gunung. (8) Kalau memakai botol Aqua saja, dua botol kecil lebih terjamin dibanding satu botol besar. (9) Kalau rencananya pulang pergi dalam waktu satu hari cobalah membawa bekal lebih dari satu malam dan perlengkapan untuk bermalam dengan aman. (misalnya ‘flysheet’ tenda, survival bag, makanan darurat). Siapa tahu akan terjadi sesuatu saat perjalanan yang mengharuskan kita untuk bermalam atau membutuhkan perlindungan.

Gejala dan Indikasi Penyakit Hipotermia, (1) Hipotermia diawali dengan gejala kedinginan spt biasa, dari badan gemetaran menahan dingin sampe gigi berkerotakan kerna ndak kuat nahan dingin. (2) Bila tubuh korban basah, maka serangan hiportemia akan semakin cepat dan hebat.
(3) Selain itu bila angin bertiup kencang, maka pendaki akan cepat sekali kehilangan panas tubuhnya (”faktor wind cill” kalo ndak salah). Jadi kalo badan basah kuyub kehujanan dan angin bertiup kencang, maka potensi hipotermia menjadi “paradoxical feeling of warmt” akan semakin cepat terjadi. (4) Puncak dari gejala hipotermia adalah korban tidak lagi merasa kedinginan, tapi dia malah merasa kepanasan, oleh karena itu si korban akan melepas bajunya satu per satu sampe bugil dan tetap masih merasa kepanasan.
(5) Hipotermia menyerang saraf dan bergerak dg pelan, oleh karena itu sang korban tidak merasa kalo dia menjadi korban hipotermia. Dari sejak korban tidak bisa nahan kedinginan sampe malah merasa kepanasan di tengah udara yg terasa membekukan, korban biasanya tidak sadar kalo dia telah terserang hipotermia. Dalam hal ini kawan seperjalanan (terutama team leader atau kawan pendaki yg lebih pengalaman) sangat penting artinya utk mengawasi apakah kawan2 kita ada yg sakit (hipotermia, frostbite, mountain sickness, stress, dll). Jadi kalo ada kawan2 seperjalanan kita mulai bertingkah aneh2 yg di luar kebiasaannya, maka kita patut curiga dan waspada ada apa dg dia dan tentu saja perlu segera memeriksa atau menanyai apakah dia masih “sadar” atau tidak.
(6) Dalam kasus penderita hipotermia yg sampe pada taraf “paradoxical feeling of warmt” selain merasa kepanasan dia juga terkena halusinasi. Akan tetapi, dlm banyak hal lainnya, halusinasi juga telah terjadi walau si korban tdk sampe mengalami “paradoxical feeling of warmt”. Yang jelas, ketika si korban hipotermia sudah kehilangan “kesadaran”, maka dia akan mudah terkena halusinasi. Dan faktor halusinasi ini yg sangat berbahaya karena korban akan “melihat bermacam2 hal” dan dia akan mengejar apa yg dilihatnya itu tanpa menghiraukan apa2 yg ada di hadapannya. Jadi tidaklah mengherankan kalo banyak korban hipotermia ditemukan jatuh ke jurang dlm kondisi telanjang bulat dan telah meninggal dunia.

Bagaimana cara mengatasi hipotermia? Kalo taraf hipotermianya ringan masih mudah ditangani, tapi kalo sudah mulai bertelanjang dan berlari2 atau berteriak2 mengejar halusinasinya akan susah sekali penangannya. Yang mudah dan praktis adalah melakukan tindakan pencegahan terhadap penyakit hipotermia.

Tindakan-tindakan Pencegahan Penyakit Hipotermia,

(1) Bila kita melakukan kegiatan luar ruangan (pendakian gunung khususnya) pada musim hujan atau di daerah dg curah hujan tinggi, maka membawa ponco/raincoat adalah suatu keharusan. Selain mbawa jas hujan, pakaian hangat (jaket tahan air dan tahan angin, kalo perlu) dan pakaian ganti yg berlebih dua tiga stel, serta kaus tangan dan kerpus/balaclava/topi ninja juga sangat penting. Perlengkapan yg tidak kalah pentingnya adalah sepatu pendakian yg baik dan dpt menutupi sampe mata kaki, jangan pake sendal gunung atau bahkan jangan pake sendal jepit. Naik gunung pada musim hujan bukan utk gagah2an aja. (2) Bawa makanan yg cepat dibakar menjadi kalori, spt gula jawa, enting2 kacang, coklat dll. Dalam perjalanan banyak “ngemil” utk mengganti energi yg hilang. (3) Bila angin bertiup kencang, maka segeralah memakai perlengkapan pakaian hangat, spt jaket, kerpus/balaclava dan kaus tangan. Kehilangan panas tubuh akibat faktor “wind cill” tidak terasa oleh kita, dan tahu2 aja kita jatuh sakit.
(4) Bila hujan mulai turun bersegeralah memakai jas hujan, jangan menunggu hujan menjadi deras. Cuaca di gunung tdk dpt diduga. Hindari pakaian basah kena hujan. (5) Bila merasa dirinya lemah atau kurang kuat dalam tim, sebaiknya terus terang pada team leader atau anggota seperjalanan yg lebih pengalaman utk mengawasi dan membantu bila dirasa perlu.
(6) Semangat dan jangan gampang menyerah bila kondisi mulai memburuk. (Djel)

Selengkapnya...

04 Februari 2008

Kenalkan Alam Sejak Dini


Dengan segala kesibukan serta aktivitas perkotaan, bercengkerama dengan alam sudah sangat jarang dilakukan, sehingga alam pun kian terlupakan.
Padahal alam sesungguhnya menghadirkan sejuta pesona dan pengetahuan yang sangat bermanfaat bagi kehidupan umat manusia.



Kaum dewasa yang telah lebih dahulu mengenal alam, kini hanya punya ingatan dan gambar tentang alam yang mulai memudar karena tertindih deru kemajuan jaman. Hal ini membuat kaum dewasa kadang berangan ingin kembali menjejakkan kaki di alam serta bercita-cita agar generasi penerus tahu tentang alam.

Sesungguhnya kanak-kanak sebagai generasi penerus perlu dikenalkan dengan alam sejak dini. Hal ini dimaksudkan agar mereka tidak hanya punya ingatan, gambar, dan cerita tentang alam, tetapi mereka juga dapat tumbuh dekat dengan alam sehingga dapat mencintai, menggali pengetahuan dan menjaga kelestariannya.

Suatu masa yang cukup panjang dalam rentang kehidupan seseorang adalah masa kanak-kanak. Masa yang berlangsung antara usia 6 tahun sampai dengan pubertas ini ditandai dengan masuknya seorang anak ke kelas 1 Sekolah Dasar. Sejak saat itu, seorang anak perlu untuk mulai menyesuaikan diri dengan berbagai tuntutan baru dalam hidupnya. Usia kanak-kanak merupakan usia berkelompok yang ditandai dengan adanya minat terhadap aktivitas teman sebaya serta keinginan untuk diterima dalam suatu kelompok. Usia kanak-kanak juga merupakan usia kreatif, dimana bila tidak dihambat, seorang anak akan banyak mengarahkan energinya untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang inovatif dan kreatif.

Pada usia kanak-kanak, seorang anak diharapkan mendapatkan dasar-dasar ilmu pengetahuan yang bermanfaat untuk perkembangan dirinya kelak, baik yang bersifat kurikuler maupun ekstrakurikuler. Selain itu, seorang anak dihadapkan pada berbagai tugas perkembangan, antara lain belajar menyesuaikan diri dengan teman sebaya, membentuk konsep diri yang baik, mulai mengembangkan peran sosial sebagai pria atau wanita serta mengembangkan hati nurani, pengertian akan moral dan tata nilai. Pada masa kanak-kanak, seorang anak tidak saja membutuhkan arahan dan masukan dari orang tua, akan tetapi juga guru, tokoh-tokoh pembimbing lainnya dan juga teman-teman. Selain itu, kesempatan untuk memperoleh pengalaman belajar juga memegang peran penting, tidak seperti ketika berusia balita, dimana pengalaman belajar tersebut dilakukan hanya dengan bantuan orang tua.

Salah satu cara kanak-kanak belajar dan mengembangkan diri adalah melalui kegiatan bermain. Dengan bermain, seorang anak akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari berbagai hal baru serta merupakan sarana di dalam mengembangkan berbagai ketrampilan sosialnya. Selain itu, kegiatan bermain akan mengembangkan otot dan melatih gerakan motorik seorang anak di dalam penyaluran energi yang berlebih. Melalui uji coba di dalam kegiatan bermain, seorang anak akan menemukan bahwa merancang suatu hal baru dan berbeda dapat menimbulkan kepuasan dan pada akhirnya seorang anak akan menjadi lebih kreatif dan inovatif.
Selengkapnya...

Yang perlu dipersiapkan sebelum Mendaki Gunung


Persiapan umum untuk mendaki gunung antara lain kesiapan mental, fisik, etika, pengetahuan dan ketrampilan.

· Kesiapan mental.

Mental amat berpengaruh, karena jika mentalnya sedang fit, maka fisik pun akan fit, tetapi bisa saja terjadi sebaliknya.

· Kesiapan fisik.

Beberapa latihan fisik yang perlu kita lakukan, misalnya : Stretching /perenggangan [sebelum dan sesudah melakukan aktifitas olahraga, lakukanlah perenggangan, agar tubuh kita dapat terlatih kelenturannya].


Jogging (lari pelan-pelan) Lama waktu dan jarak sesuai dengan kemampuan kita, tetapi waktu, jarak dan kecepatan selalu kita tambah dari waktu sebelumnya. Latihan lainnya bisa saja sit-up, push-up dan pull-up Lakukan sesuai kemampuan kita dan tambahlah porsinya melebihi porsi sebelumnya.

· Kesiapan administrasi.

Mempersiapkan seluruh prosedur yang dibutuhkan untuk perijinan memasuki kawasan yang akan dituju.

· Kesiapan pengetahuan dan ketrampilan.

Pengetahuan untuk dapat hidup di alam bebas. Kemampuan minimal yang perlu bagi pendaki adalah pengetahuan tentang navigasi darat, survival serta EMC [emergency medical care] praktis.

Perencanan pendakian.

Hal pertama yang ahrus dilakukan adalah mencari informasi. Untuk mendapatkan data-data kita dapat memperoleh dari literatur- literatur yang berupa buku-buku atau artikel-artikel yang kita butuhkan atau dari orang-orang yang pernah melakukan pendakian pada objek yang akan kita tuju. Tidak salah juga bila meminta informasi dari penduduk setempat atau siapa saja yang mengerti tentang gambaran medan lokasi yang akan kita daki.

Selanjutnya buatlah ROP (Rencana Operasi Perjalanan). Buatlah perencanaan secara detail dan rinci, yang berisi tentang daerah mana yang dituju, berapa lama kegiatan berlangsung, perlengkapan apa saja yang dibutuhkan, makanan yang perlu dibawa, perkiraan biaya perjalanan, bagaimana mencapai daerah tersebut, serta prosedur pengurusan ijin mendaki di daerah tersebut. Lalu buatlah ROP secara teliti dan sedetail mungkin, mulai dari rincian waktu sebelum kegiatan sampai dengan setelah kegiatan. Aturlah pembagian job dengan anggota pendaki yang lain (satu kelompok), tentukan kapan waktu makan, kapan harus istirahat, dan sebagainya.

Intinya dalam perencanaan pendakian, hendaknya memperhatikan :
■ Mengenali kemampuan diri dalam tim dalam menghadapi
medan.
■ Mempelajari
medan yang akan ditempuh.
■ Teliti rencana pendakian dan rute yang akan ditempuh secermat mungkin.
■ Pikirkan waktu yang digunakan dalam pendakian.
■ Periksa segala perlengkapan yang akan dibawa.

Perlengkapan dasar perjalanan
■ Perlengkapan jalan : sepatu, kaos kaki, celana, ikat pinggang, baju, topi, jas hujan, dll.
■ Perlengkapan tidur : sleeping bag, tenda, matras dll.
■ Perlengkapan masak dan makan: kompor, sendok, makanan, korek dll.
■ Perlengkapan pribadi : jarum , benang, obat pribadi, sikat, toilet paper / tissu, dll.
■ Ransel / carrier.

Perlengkapan pembantu
■ Kompas, senter, pisau pinggang, golok tebas, Obat-obatan.
■ Peta, busur derajat, douglass protector, pengaris, pensil dll.
■ Alat komunikasi (Handy talky), survival kit, GPS [kalo ada]
■ Jam tangan.

Packing atau menyusun perlengkapan kedalam ransel.

· Kelompokkan barang barang sesuai dengan jenis jenisnya.

· Masukkan dalam kantong plastik.

· Letakkan barang barang yang ringan dan jarang penggunananya (mis : Perlengkapan tidur) pada yang paling dalam.

· Barang barang yang sering digunakan dan vital letakkan sedekat mungkin dengan tubuh dan mudah diambil.

· Tempatkan barang barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan / punggung.

· Buat Checklist barang barang tersebut.

Selengkapnya...

Pendaki Gunung adalah Orang Yang Menghargai Hidup


Ketika mendengar kata Mendaki gunung, bagi orang awam kegiatan semacam ini akan mengundang pertanyaan klise, mengapa sih mendaki gunung? Itu kan kerjaan orang yang menantang maut, bahkan itu adalah kegiatan yang sia-sia dan hanya mencari mati saja. Memang tidak salah pandangan seperti itu, karena semua orang mempunyai jalan pikiran yang berbeda menurut keinginan atau kehendak masing-masing. Namun yang perlu diketahui bahwa semua kegiatan yang kita lakukan pasti mengandung resiko. Bahaya di perkotaan jauh lebih dekat dengan kehidupan kita sehari-hari. Sebagai contoh setiap hari kita dihadapkan dengan mobil-mobil dijalan raya yang berseliweran yang siap menyambar nyawa siapa saja, perampokan atau penodongan dijalan yang mengancam jiwa kita dan masih banyak lagi, itu semua adalah sekelumit kecil bahwa ancaman bahaya tidak saja terjadi mereka para pandaki gunung. Justru mereka yang mati saat mendaki gunung, adalah orang-orang yang menghargai hidup. Hidup harus lebih dari sekedarnya.

Seperti kegiatan petualangan lainnya Mendaki Gunung merupakan sebuah aktivitas olahraga berat. Kegiatan itu memerlukan kondisi kebugaran pendaki yang prima. Bedanya dengan olahraga yang lain, mendaki gunung dilakukan di tengah alam terbuka yang liar, sebuah lingkungan yang sesungguhnya bukan habitat manusia, apalagi anak kota.

Pendaki yang baik sadar adanya bahaya yang bakal menghadang dalam aktivitasnya yang diistilahkan dengan bahaya obyektif dan bahaya subyektif. Bahaya obyektif adalah bahaya yang datang dari sifat-sifat alam itu sendiri. Misalnya saja gunung memiliki suhu udara yang lebih dingin ditambah angin yang membekukan, adanya hujan tanpa tempat berteduh, kecuraman permukaan yang dapat menyebabkan orang tergelincir sekaligus berisiko jatuhnya batu-batuan, dan malam yang gelap pekat. Sifat bahaya tersebut tidak dapat diubah manusia.

Hanya saja, sering kali pendaki pemula menganggap mendaki gunung sebagai rekreasi biasa. Apalagi untuk gunung-gunung populer dan “mudah” didaki, seperti Gede, Pangrango atau Salak. Akibatnya, mereka lalai dengan persiapan fisik maupun perlengkapan pendakian. Tidak jarang di antara tubuh mereka hanya berlapiskan kaus oblong dengan bekal biskuit atau air ala kadarnya.

Meski tidak dapat diubah, sebenarnya pendaki dapat mengurangi dampak negatifnya. Misalnya dengan membawa baju hangat dan jaket tebal untuk melindungi diri dari dinginnya udara. Membawa tenda untuk melindungi diri dari hujan bila berkemah, membawa lampu senter, dan sebagainya.

Sementara bahaya subyektif datangnya dari diri orang itu sendiri, yaitu seberapa siap dia dapat mendaki gunung. Apakah dia cukup sehat, cukup kuat, pengetahuannya tentang peta kompas memadai (karena tidak ada rambu-rambu lalu lintas di gunung), dan sebagainya.

Kedua bahaya itu dapat jauh dikurangi dengan persiapan. Persiapan umum yang harus dimiliki seorang pendaki sebelum mulai naik gunung antara lain:

1. Membawa alat navigasi berupa peta lokasi pendakian, peta, altimeter [Alat pengukur ketinggian suatu tempat dari permukaan laut], atau kompas. Untuk itu, seorang pendaki harus paham bagaimana membaca peta dan melakukan orientasi. Jangan sekali-sekali mendaki bila dalam rombongan tidak ada yang berpengalaman mendaki dan berpengetahuan mendalam tentang navigasi.

2. Pastikan kondisi tubuh sehat dan kuat. Berolahragalah seperti lari atau berenang secara rutin sebelum mendaki.

3. Bawalah peralatan pendakian yang sesuai. Misalnya jaket anti air atau ponco, pisahkan pakaian untuk berkemah yang selalu harus kering dengan baju perjalanan, sepatu karet atau boot (jangan bersendal), senter dan baterai secukupnya, tenda, kantung tidur, matras.

4. Hitunglah lama perjalanan untuk menyesuaikan kebutuhan logistik. Berapa banyak harus membawa beras, bahan bakar, lauk pauk, dan piring serta gelas. Bawalah wadah air yang harus selalu terisi sepanjang perjalanan.

5. Bawalah peralatan medis, seperti obat merah, perban, dan obat-obat khusus bagi penderita penyakit tertentu.

6. Jangan malu untuk belajar dan berdiskusi dengan kelompok pencinta alam yang kini telah tersebar di sekolah menengah atau universitas-universitas.

7. Ukurlah kemampuan diri. Bila tidak sanggup meneruskan perjalanan, jangan ragu untuk kembali pulang.


Memang, mendaki gunung memiliki unsur petualangan. Petualangan adalah sebagai satu bentuk pikiran yang mulai dengan perasaan tidak pasti mengenai hasil perjalanan dan selalu berakhir dengan perasaan puas karena suksesnya perjalanan tersebut. Perasaan yang muncul saat bertualang adalah rasa takut menghadapi bahaya secara fisik atau psikologis.
Tanpa adanya rasa takut maka tidak ada petualangan karena tidak ada pula tantangan.

Risiko mendaki gunung yang tinggi, tidak menghalangi para pendaki untuk tetap melanjutan pendakian, karena Zuckerma menyatakan bahwa para pendaki gunung memiliki kecenderungan sensation seeking [pemburuan sensasi] tinggi. Para sensation seeker menganggap dan menerima risiko sebagai nilai atau harga dari sesuatu yang didapatkan dari sensasi atau pengalaman itu sendiri. Pengalaman-pengalaman yang menyenangkan maupun kurang menyenangkan tersebut membentuk self-esteem [kebanggaan /kepercayaan diri].

Pengalaman-pengalaman ini selanjutnya menimbulkan perasaan individu tentang dirinya, baik perasaan positif maupun perasaan negatif. Perjalanan pendakian yang dilakukan oleh para pendaki menghasilkan pengalaman, yaitu pengalaman keberhasilan dan sukses mendaki gunung, atau gagal mendaki gunung. Kesuksesan yang merupakan faktor penunjang tinggi rendahnya self-esteem, merupakan bagian dari pengalaman para pendaki dalam mendaki gunung.

Fenomena yang terjadi adalah apakah mendaki gunung bagi para pendaki merupakan sensation seeking untuk meningkatkan self-esteem mereka? Selanjutnya, sensation seeking bagi para pendaki gunung kemungkinan memiliki hubungan dengan self-esteem pendaki tersebut. Karena pengalaman yang dialami para pendaki dalam pendakian dapat berupa keberhasilan maupun kegagalan.

Selengkapnya...

30 Januari 2008

Mengapa Survival






SURVIVAL
Definisi Survival

Arti survival sendiri terdapat berbagai macam versi, yang akan kita bahas di sini hanyalah menurut versi pencinta alam

S : Sadar dalam keadaan gawat darurat

U : Usahakan untuk tetap tenang dan tabah

R : Rasa takut dan putus asa hilangkan

V : Vitalitas tingkatkan

I : Ingin tetap hidup dan selamat itu tujuannya

V : Variasi alam bisa dimanfaatkan

A : Asal mengerti, berlatih dan tahu caranya

L : Lancar, slaman, slumun, slamet


Jika anda tersesat atau mengalami musibah, ingat-ingatlah arti survival ini, agar dapat membantu anda keluar dari kesulitan. Dan yang perlu ditekankan jika anda tersesat yaitu istilah "STOP" yang artinya :

S : Stop & seating / berhenti dan duduklah

T : Thingking / berpikirlah

O : Observe / amati keadaan sekitar

P : Planning / buat rencana mengenai tindakan yang harus dilakukan


Mengapa Ada Survival




Timbulnya kebutuhan survival karena adanya usaha manusia untuk keluar dari kesulitan yang dihadapi.
Kesulitan-kesulitan tsb antara lain :

  • Keadaan alam (cuaca dan medan)
  • Keadaan mahluk hidup disekitar kita (binatang dan tumbuhan)
  • Keadaan diri sendiri (mental, fisik, dan kesehatan)

Banyaknya kesulitan-kesulitan biasanya timbul akibat
kesalahan-kesalahan kita sendiri.

Kebutuhan survival



Yang harus dipunyai oleh seorang survivor

1. Sikap mental

- Semangat untuk tetap hidup

- Kepercayaan diri

- Akal sehat

- Disiplin dan rencana matang

- Kemampuan belajar dari pengalaman

2. Pengetahuan

- Cara membuat bivak

- Cara memperoleh air

- Cara mendapatkan makanan

- Cara membuat api

- Pengetahuan orientasi medan

- Cara mengatasi gangguan binatang

- Cara mencari pertolongan

3. Pengalaman dan latihan

- Latihan mengidentifikasikan tanaman

- Latihan membuat trap, dll

4. Peralatan

- Kotak survival

- Pisau jungle , dll

5. Kemauan belajar

Langkah yang harus ditempuh bila
saudara atau kelompok anda tersesat :
  • Mengkoordinasi anggota
  • Melakukan pertolongan pertama
  • Melihat kemampuan anggota
  • Mengadakan orientasi medan
  • Mengadakan penjatahan makanan
  • Membuat rencana dan pembagian tugas
  • Berusaha menyambung komunikasi dengan dunia kuar
  • Membuat jejak dan perhatian
  • Mendapatkan pertolongan

Bahaya-bahaya dalam survival


Banyak sekali bahaya dalam survival yang akan kita hadapi, antara lain :

1. Ketegangan dan panik

Pencegahan :

- Sering berlatih

- Berpikir positif dan optimis

- Persiapan fisik dan mental

2. Matahari / panas

- Kelelahan panas

- Kejang panas

- Sengatan panas

Keadaan yang menambah parahnya keadaan panas :

- Penyakit akut/kronis

- Baru sembuh dari penyakit

- Demam

- Baru memperoleh vaksinasi

- Kurang tidur

- Kelelahan

- Terlalu gemuk

- Penyakit kulit yang merata

- Pernah mengalami sengatan udara panas

- Minum alkohol

- Dehidrasi

Pencegahan keadaan panas :

- Aklimitasi

- Persedian air

- Mengurangi aktivitas

- Garam dapur

- Pakaian :

- Longgar

- Lengan panjang

- Celana pendek

- Kaos oblong

3. Serangan penyakit

- Demam

- Disentri

- Typus

- Malaria

4. Kemerosotan mental

Gejala : Lemah, lesu, kurang dapat berpikir dengan baik, histeris

Penyebab : Kejiwaan dan fisik lemah

Keadaan lingkungan mencekam

Pencegahan : Usahakan tenang

Banyak berlatih

5. Bahaya binatang beracun dan berbisa

Keracunan

Gejala : Pusing dan muntah, nyeri dan kejang perut, kadang-kadang

mencret, kejang-kejang seluruh badan, bisa pingsan.

Penyebab : Makanan dan minuman beracun

Pencegahan : Air garam di minum

Minum air sabun mandi panas

Minum teh pekat

Di tohok anak tekaknya

6. Keletihan amat sangat

Pencegahan : Makan makanan berkalori

Membatasi kegiatan

7. Kelaparan

8. Lecet

9. Kedinginan

Untuk penurunan suhu tubuh <>


Membuat Bivak (Shelter)


Tujuan : untuk melindungi dari angin, panas, hujan, dingin

Jenis-jenis Shelter :

  1. Shelter asli alam

    Gua : Bukan tempat persembunyian binatang

    Tidak ada gas beracun

    Tidak mudah longsor

  2. Shelter buatan dari alam
  3. Shelter buatan

Syarat Shelter :



Membuat Perangkap (Trap)








Macam-macam Perangkap :

  • Perangkap model menggantung

  • Perangkap tali sederhana

  • Perangkap lubang jerat

  • Perangkap menimpa

  • Apace foot share


Bahan :

  • tali/kawat

  • Umpan

  • Batang kayu

  • Cabang pohon


Membaca Jejak







Jenis :

  • Jejak buatan : dibuat oleh manusia

  • Jejak alami : tanda jejak sebagai tanda keadaan lingkungan

Jejak alami biasanya menyatakan tentang :

  • Jenis binatang yang lewat

  • Arah gerak binatang

  • Besar kecilnya binatang

  • Cepat lambatnya gerak binatang

Membaca jejak alami dapat diketahui dari :

  • Kotoran yang tersisa

  • Pohon atau ranting yang patah

  • Lumpur atau tanah yang tercecer di atas rumput


Air

Seseorang dalam keadaan normal dan sehat dapat bertahan sekitar 20 ñ 30 hari tanpa makan, tapi orang tsb hanya dapat bertahan hidup 3 - 5 hari saja tanpa air.

Air yang tidak perlu dimurnikan :

  1. Hujan

    Tampung dengan ponco atau-daun yang lebar dan alirkan ke tempat penampungan

  2. Dari tanaman rambat/rotan

    Potong setinggi mungkin lalu potong pada bagian dekat tanah, air yang menetes dapat langsung ditampung atau diteteskan ke dalam mulut

  3. Dari tanaman

Air yang terdapat pada bunga (kantung semar) dan lumut

Air yang harus dimurnikan terlebih dahulu :


  1. Air sungai besar
  2. Air sungai tergenang
  3. Air yang didapatkan dengan menggali pasir di pantai (+ 5 meter dari batas pasang surut)
  4. Air di daerah sungai yang kering, caranya dengan menggali lubang di bawah batuan
  5. Air dari batang pisang, caranya tebang batang pohon pisang, sehingga yang tersisa tinggal bawahnya lalu buat lubang maka air akan keluar, biasanya dapat keluar sampai 3 kali pengambilan

Makanan










Patokan memilih makanan :

  • Makanan yang di makan kera juga bisa di makan manusia

  • Hati-hatilah pada tanaman dan buah yang berwarna mencolok

  • Hindari makanan yang mengeluarakan getah putih, seperti sabun kecuali sawo

  • Tanaman yang akan dimakan di coba dulu dioleskan pada tangan-lengan-bibir-lidah, tunggu sesaat. Apabila aman bisa dimakan

  • Hindari makanan yang terlalu pahit atau asam

Hubungan air dan makanan

  • Untuk air yang mengandung karbohidrat memerlukan air yang sedikit

  • Makanan ringan yang dikemas akan mempercepat kehausan

  • Makanan yang mengandung protein butuh air yang banyak

Tumbuhan yang dapat dimakan

Dari batangnya :

  • Batang pohon pisang (putihnya)

  • Bambu yang masih muda (rebung)

  • Pakis dalamnya berwarna putih

  • Sagu dalamnya berwarna putih

  • Tebu

Dari daunnya :

  • Selada air

  • Rasamala (yang masih muda)

  • Daun mlinjo

  • Singkong

Akar dan umbinya :

  • Ubi jalar, talas, singkong

Buahnya :

  • Arbei, asam jawa, juwet

Tumbuhan yang dapat dimakan seluruhnya :

  • Jamur merang, jamur kayu

Ciri-ciri jamur beracun :

  • Mempunyai warna mencolok

  • Baunya tidak sedap

  • Bila dimasukkan ke dalam nasi, nasinya menjadi kuning

  • Sendok menjadi hitam bila dimasukkan ke dalam masakan

  • Bila diraba mudah hancur

  • Punya cawan/bentuk mangkok pada bagian pokok batangnya

  • Tumbuh dari kotoran hewan

  • Mengeluarkan getah putih

Binatang yang bisa dimakan

  • Belalang

  • Jangkrik

  • Tempayak putih (gendon)

  • Cacing

  • Jenis burung

  • Laron

  • Lebah , larva, madu

  • Siput

  • Kadal : bagian belakang dan ekor

  • Katak hijau

  • Ular : 1/3 bagian tubuh tengahnya

  • Binatang besar lainnya

Binatang yang tidak bisa dimakan

  • Mengandung bisa : lipan dan kalajengking

  • Mengandung racun : penyu laut

  • Mengandung bau yang khas : sigung


Api



Bila mempunyai bahan untuk membuat api, yang perlu diperhatikan adalah jangan membuat api terlalu besar tetapi buatlah api yang kecil beberapa buah, hal ini lebih baik dan panas yang dihasilkan merata.

  1. Dengan lensa / Kaca pembesar

    Fokuskan sinar pada satu titik dimana diletakkan bahan yang mudah terbakar.

  2. Gesekan kayu dengan kayu.

    Cara ini adalah cara yang paling susah, caranya dengan menggesek-gesekkan dua buah batang kayu sehingga panas dan kemudian dekatkan bahan penyala, sehingga terbakar

  3. Busur dan gurdi

Buatlah busur yang kuat dengan mempergunakan tali sepatu atau parasut, gurdikan kayu keras pada kayu lain sehingga terlihat asap dan sediakan bahan penyala agar mudah tebakar.

Bahan penyala yang baik adalah kawul terdapat pada dasar kelapa, atau daun aren


Survival kit










Ialah perlengkapan untuk survival yang harus dibawa dalam perjalanan :

  • Perlengkapan memancing

  • Pisau

  • Tali kecil

  • Senter

  • Cermin suryakanta, cermin kecil

  • Peluit

  • Korek api yang disimpan dalam tempat kedap air

  • Tablet garam, norit

  • Obat-obatan pribadi

  • Jarum + benang + peniti

  • dll

Selengkapnya...