Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Fotografi. Tampilkan semua postingan

24 Juli 2012

Tips Fotografi Landscape

Seringkali kita memotret keindahan bentang alam dijagad raya ini, mulai dari keindahan alam pegunungan, pantai, laut, daratan dan sudut-sudut lain, semua itu tak pernah kita sadari bahwa sebenarnya kita telah melakukan Fotografi landscape. Nah untuk itu perlu kita memahami apa itu Fotografi Landscape. Fotografi Landscape adalah fotografi pemandangan alam atau dalam pengertian lain adalah jenis fotografi yang merekam keindahan alam, dapat juga dikombinasikan dengan yang lain seperti manusia, hewan dan yang lainnya, namun tetap yang menjadi fokus utamanya adalah alam.
Pemandangan alam yang begitu indah pada saat-saat tertentu ketika secara sensitif kita bisa menandai sifat dan arah datangnya sinar matahari. Misalnya pada saat sore maupun pagi hari ketika sinar matahari bersifat kekuning-kuningan dan arah jatuhnya membentuk bayangan obyek yang sangat panjang. Selain itu saat pergantian musim, pada saat beberapa tumbuhan sedang mengalami pergantian daun. Foto Pemandangan bisa di kategorikan menjadi beberapa macam, misalnya : Foto Landscape Foto pemandangan alam daratan yang mencakup alam pegunungan, lembah, persawahaan. dan lain-lain Foto Seascape Foto pemandangan laut yang mencakup alam lautan, danau, dan segala obyek ya menekankan keberadaan air Foto Skyscape Foto pemandangan langit yang mencakup keberadaan awan, biru langit, sunrise, sunset, dan lain-lain Foto Cityscape Foto pemandangan kota atau pedesaan yang mencakup keunikan-keunikan dan keindahan-keindahan sudut-sudut perkotaan ataupun pedesaan yang mampu menginformasikan ciri khas kehidupan masyarakat didalamnya. 14 Tips untuk membuat hasil foto landscape yang indah 1. Maksimalkan Depth of Field (DoF) Sebuah pendekatan konsep normal dari sebuah landscape photography adalah “tajam dari ujung kaki sampai ke ujung horizon”. Konsep dasar teori “oldies” ini menyatakan bahwa sebuah foto landscape selayaknya sebanyak mungkin semua bagian dari foto adalah focus (tajam). Untuk mendapatkan ketajaman lebar atau dgn kata lain bidang depth of focus (DOF) yang selebar2nya, bisa menggunakan apperture (bukaan diafragma) yang sekecil mungkin (f number besar), misalnya f14, f16, f18, f22, f32, dst. 2. Gunakan tripod dan cable release Tripod dibutuhkan untuk long exposure untuk menjamin agar foto yang dihasilkan tajam. Cable release juga akan sangat membantu. Jika kamera memiliki fasilitas untuk mirror-lock up, maka fasilitas itu bisa juga digunakan untuk menghindari micro-shake akibat dari hentakkan mirror saat awal. 3. Carilah Focal point atau titik focus Titik focus disini bukanlah titik dimana focus dari kamera diletakkan, tapi lebih merupakan titik dimana mata akan pertama kali tertuju (eye-contact) saat melihat foto. 4. Carilah Foreground (FG) Foreground bisa menjadi focal point bahkan menjadi POI (Point of Interest) dalam foto landscape anda. Sebuah object atau pattern di FG bisa membuat “sense of scale” dr foto landscape kita. 5. Pilih langit atau daratan Langit yang berawan bergelora, apalagi pada saat sunset atau sunrise, akan membuat foto kita menarik, tapi kita tetap harus memilih apakah kita akan membuat foto kita sebagian besar terdiri dari langit dgn meletakan horizon sedikit dibawah, atau sebagian besar daratan dgn meletakkan horizon sedikit dibagian atas. 6. Carilah Garis/Lines/Pattern Sebuah garis atau pattern bisa membuat/menjadi focal yang akan menggiring mata untuk lebih jauh mengexplore foto landscape anda. Kadang leading lines atau pattern tersebut bahkan bisa menjadi POI dari foto tersebut. 7. Capture moment & movement Sebuah foto Landcsape tidak berarti kita hanya menangkap (capture) langit, bumi atau gunung, tapi semua elemen alam, baik itu diam atau bergerak seperti air terjun, aliran sungai, pohon2 yang bergerak, pergerakan awan, dst, dapat menjadikan sebuah foto landscape yang menarik. 8. Bekerja sama dengan alam atau cuaca Sebuah scene dapat dengan cepat sekali berubah. Oleh sebab itu menentukan kapan saat terbaik untuk memotret adalah sangat penting. Kadang kesempatan mendapat scene terbaik justru bukan pada saat cuaca cerah langit biru, tapi justru pada saat akan hujan atau badai atau setelah hujan atau badai, dimana langit dan awan akan sangat dramatis. 9. Golden Hours & Blue hours Pada normal colour landscape photography, saat terbaik biasanya adalah saat sekitar (sebelum) matahari terbenam (sunset) atau setelah matahari terbit (sunrise). Golden hours adalah saat, biasanya 1-2 jam sebelum matahari terbenam (sunset) hingga 30 menit sebelum matahari terbenam, dan 1-3 jam sejak matahari terbit, dimana “golden light” atau sinar matahari akan membuat warna keemasaan pada object. 10. Cek Horizon Ada 2 hal terakhir saat sebelum kita menekan shutter: Apakah horizonya sudah lurus, ada beberapa cara untuk bisa mendapatkan horion lurus saat eksekusi di lapangan atau apakah horizon sdh di komposisikan dgn baik, lihat #5 untuk pengaplikasian Rule of third. Peraturan kadang dibuat untuk dilangar, tapi jika scene yang akan kita buat tidak cukup kuat (strong) elementnya, biasanya Rule of Third akan sangat membantu membuat komposisi menjadi lebih baik. 11. Ubah sudut pandang/angle/view anda Banyak cara untuk mendapatkan fresh point of view. Tidak selamanya “eye-level angle” (posisi normal saat kita berdiri) dalam memotret itu yang terbaik. Coba dengan high-angle (kamera diangkat diatas kepala), waist-level angle, low level, dst, coba berbagai format horizontal dan/atau vertikal. 12. Pergunakan peralatan bantu Penggunaan beberapa peralatan bantu dibawah akan sangat membantu untuk mendapatkan foto landscape yang lebih baik. - CPL filter - ND filter - Graduated ND filter, lihat disitu tentang Graduated Natural Density (Grad ND): What, How, & When - Graduated color filter - Bubble level jika tdk ada grid pada view finder atau gunakan focusing screen dgn grid, sangat membantu untuk mencapai levelnya horizon. 13. Lensa yang dipergunakan Kadang sering ada asumsi bahwa sebuah foto landscape itu harus menggunakan lensa yang selebar mungkin. Tapi dalam membuat sebuah foto landscape, semua lensa dapat dipergunakan, dari lensa super wide (14mm, 16mm, dst), wide (20mm – 35m), medium, (50mm – 85mm), hingga tele/super tele (100mm – 600mm). Semua range lensa bisa dan dapat dipergunakan. Semua itu tergantung atas kebutuhan dan scene yang kita hadapi. 14. Persiapkan diri dan sesuaikan peralatan Walau ini tidak berhubungan langsung, tapi kadang sangat menentukan. Sering kali kita membutuhkan research atau tanya dulu kiri kanan, baik itu dgn googling atau bertanya dgn fotografer yang sudah pernah kesana ke satu lokasi sebelumnya, terutama jika mengunjungi tempat yang berbeda jauh iklim maupun cuacanya, krn itu akan menentukan kesiapan kita baik fisik maupun peralatan yang harus dibawa, baik itu peralatan fotografi maupun peralatan penunjang. (berbagai sumber)
Selengkapnya...

11 September 2011

TIPS MERAWAT KAMERA DIGITAL ANDA


Kamera bagi seorang fotografer ibarat senjata yang perlu dirawat sehingga jika dibutuhkan, senjata itu tetap akan berfungsi dengan baik. Berikut ini adalah beberapa tips perawatan kamera, agar kamera bisa berfungsi dengan baik dan maksimal serta berumur panjang.

Jauhkan dari Kapur Barus
Kapur barus termasuk benda perusak yang sangat ‘ampuh’ terhadap kamera, yang dapat menyekat-nyekat kamera dan bagian kamera yang lain, yang berbahan dasar karet. Pada kamera elektronik, kapur barus bisa merusak jalur pada PCB (Printed Circuit Board), yaitu tempat chip-chip kamera terpasang dan beberapa elemen chip itu sendiri. Bahkan uap kapur barus itu juga dapat menodai dan membuat ‘flek’ pada lensa. Ingat, kerusakan kamera yang diakibatkan oleh kapur barus biasanya tak bisa diperbaiki lagi. Maka, jangan sekali-kali menyimpan kamera di dalam lemari apapun yang telah diisi kapur barus atau kamper pengharum pakaian.

Simpan di Lemari Khusus
Simpanlah kamera anda dilemari yang telah diatur sirkulasi udara dan kelembabannya. Caranya, dengan memasang lampu berkekuatan 5 watt dan diletakkan pada jarak kurang lebih 40 cm di atas kamera dan perlengkapan yang lainnya. Jangan lupa melepaskan baterei dan membuka pembungkus kamera dan membersihkannya dari debu sebelum menyimpannya. Jika harga lemari khusus untuk penyimpanan kamera terlalu mahal bagi anda, maka anda bisa mencari media penyimpanan alternatif sebagai penggantinya. Seperti misalnya, anda dapat menyimpan kamera dalam stoples yang tertutup rapat dan di dalamnya diberi silica gel, untuk menyerap kelembabannya.

Hindari Kontak Langsung dengan Sinar Matahari
Jagalah kamera agar jangan sampai terjemur atau terkena cahaya matahari secara langsung dan berlebihan. Panas yang tinggi dapat merusak bagian-bagian kamera yang terbuat dari plastik dan karet, serta komponen elektronik yang lainnya.

Jagalah dari Goncangan yang Berlebihan
Jangan lupa untuk menaruhnya di dalam tas khusus kamera, guna menghindari guncangan yang berlebihan dengan lingkungan luar maupun benturan antar peralatan. Taruhlah kamera di tempat yang aman dan tahan terhadap guncangan.

Bersihkan Kamera dan Lensa
Sebaiknya kamera dibersihkan seminggu sekali atau secara teratur dan berkala. Untuk bagian luar fisik kamera, gunakan lap kering yang bersih dan tak kasar. Sedangkan untuk bagian dalam dan elemen-elemen kecilnya, gunakan blower atau peniup yang banyak dijual di toko kamera. Selain blower, juga bisa digunakan kuas berserabut halus, yang belum pernah dipergunakan pada benda yang lain.
Untuk membersihkan lensa yang terkena noda, misalnya terkena jari yang berminyak atau air keringat dari pemakai, pakailah tissue khusus yang banyak dijual di toko.

Hindari Goresan pada Lensa
Untuk menghindari goresan, sebaiknya lensa mempunyai filter ulir yang terpasang permanen di bagian depannya. Filter yang umum menjadi pelindung adalah jenis filter UV (Ultra Violet) atau filter skylight. Sedangkan untuk menghindari goresan di bagian belakang lensa, usahakan selalu memasang ‘bodycup’ penutup saat lensa dilepas dari badan kamera.

Hindari Air Laut
Jika anda menggunakan kamera di pantai, jagalah agar kamera tak terkena air laut atau bahkan jatuh ke dalamnya. Air laut sangat jahat dan penyebab karat yang potensial terhadap kamera ataupun perangkat elektronik yang lainnya. kecuali yang memang dirancang untuk bisa beradaptasi dengannya.
Sehabis digunakan di daerah pantai, pembersihan kamera wajib dilakukan sesegera mungkin. Uap air laut seringkali meninggalkan butir-butir garam yang menyebabkan karat pada kamera. Jika suatu saat, tanpa sengaja kamera anda tercebur ke dalam air laut, langsung rendam kamera anda ke dalam air tawar, kemudian bilaslah berkali-kali untuk menghilangkan bekas-bekas air laut.
Proses pengrusakan oleh air laut berlangsung sangat cepat dan dalam hitungan menit setelah tercebur, sehingga bila pembilasan air ini tidak dilakukan sesegera mungkin, kamera yang tercebur ke dalam air laut tak akan bisa diselamatkan. Setelah dibilas hingga bersih dari air laut, bawa segera ke ahli servis kamera untuk membersihkannya dan mengeringkan kamera tersebut.

Service di Tempat Terpercaya atau Resmi

Secara berkala, dalam kurun waktu tertentu, sebaiknya kamera digital diservis ke tempat khusus, terpercaya dan malah lebih bagus yang resmi. Jangan tunggu kamera rusak kemudian baru diservis. Servis yang dimaksud adalah ‘servis besar’, yang meliputi pembersihan bagian dalam kamera, seperti pembersihan lensa dari jamur yang menempel atau juga penyesuaian setelan-setelan utama kamera.
Jangan terlampau sering mencuci lensa atau membersihkan bagian dalamnya bila berjamur. Kaca lensa begitu peka. Makin sering dibersihkan, dapat mengakibatkan mutu gambar akan menurun. Untuk menjaga dan merawatnya, sebaiknya jangan disimpan di lemari pakaian anda, karena hal itu akan berpotensi mengundang jamur yang menempel di lensa bagian dalam kamera.

Selengkapnya...

09 September 2011

Pahami Fitur Kamera Digital Anda


Seorang teman baru saja membeli kamera DSLR Nikon, ketika memotret dia selalu menggunakan Mode Auto yang tertera pada shutter release, hasil jepretannya selalu bagus karena kebanyakan memotret diluar ruangan dalam keadaan cuaca yang relatif cerah, namun ketika memotret didalam ruangan dengan keadaan yang kurang cahaya hasilnya kurang memuaskan, kebanyakan hanya obyeknya yang nampak cerah dan latar belakang (subyek) kelihatan agak gelap, Memang tidak semua foto yang diambil memakai mode AUTO memberikan hasil eksposure yang memuaskan. Karena nilai shutter dan aperture yang ditentukan secara otomatis oleh kamera tidak sesuai dengan keinginan kita. Maka fitur manual P/A/S/M sebagai pilihan mewujudkan kreatifitas kita untuk membuat foto yang lebih bagus.

Nah mari kita sedikit mengenal Fitur manual manakah yang paling berdampak langsung pada kualitas hasil foto?
Supaya anda ketahui ada sedikit perbedaan sandi dalam kamera Nikon dan Canon tapi memiliki fungsi yang sama yaitu :
NIKON CANON Kepanjangannya

P --------- P = Program
S --------- Av = Speed priority
A --------- Tv = Arpeture priority
M --------- M = Manual

Karena fotografi adalah permainan cahaya (exposure) dimana tiga unsur pada kamera yang menentukan adalah Shutter speed (kecepatan rana), Aperture (diafragma) dan ISO, maka fitur manual paling penting menurut saya adalah fitur manual P/A/S/M dan fitur manual ISO (sejauh yang saya amati, apabila sebuah kamera telah memiliki fitur P/A/S/M, maka kamera tersebut juga telah memiliki fitur manual ISO). Pada prinsipnya, kamera (dan fotografer) akan berupaya untuk menghasilkan sebuah foto yang memiliki eksposure yang tepat. Artinya, foto yang dihasilkan semestinya tidak boleh terlalu gelap atau terlalu terang. Gelap terangnya foto yang dibuat oleh kamera ditentukan dari ketiga faktor tadi, dimana :
• shutter bertugas mengatur berapa lama cahaya akan mengenai sensor (atau film pada kamera analog), dinyatakan dalam satuan detik. Semakin singkat kecepatan shutter maka semakin sedikit cahaya yang masuk, dan demikian pula sebaliknya. Biasanya kamera memiliki kecepatan shutter mulai dari 30 detik hingga 1/4000 detik.
• aperture memiliki tugas mengatur banyak sedikitnya cahaya yang masuk ke lensa (dengan memperbesar atau memperkecil ukuran difragma), dinyatakan dalam f-number berupa skala pecahan mulai yang terbesar hingga terkecil (contoh : f/2.8, f/3.5, f/8 dsb). Nilai f-number kecil menandakan bukaan diafragma besar, sedang nilai f besar menunjukkan bukaan diafragma kecil. Nilai maksimum dan minimum dari diafragma suatu kamera ditentukan dari lensanya, dan nilai ini akan berubah seiring dengan perubahan jarak fokal lensa.
• ISO menentukan tingkat sensitivitas sensor terhadap cahaya sehingga semakin tinggi nilai ISO maka sensor akan semakin peka terhadap cahaya meski dengan resiko meningkatnya noise pada foto. Faktor ISO ini menjadi pelengkap komponen eksposure selain shutter dan aperture, terutama saat kombinasi shutter dan aperture belum berhasil mendapatkan nilai eksposure yang tepat.
Pada kamera terdapat suatu alat ukur cahaya yang fungsinya amat penting dalam menentukan eksposure yang tepat. Alat ukur ini dinamakan light-meter, fungsinya adalah untuk mengukur cahaya yang memasuki lensa, biasa disebut dengan metering (biasanya terdapat dua macam pilihan metering pada kamera, yaitu average/multi segment/matrix dan center weight/spot). Hasil pengukuran ini dikirimkan ke prosesor di dalam kamera dan digunakan untuk menentukan berapa nilai eksposure yang tepat. Setidaknya inilah cara kerja semua kamera yang diopersikan secara otomatis melalui mode AUTO.

Tidak semua foto yang diambil memakai mode AUTO memberikan hasil eksposure yang memuaskan. Terkadang nilai shutter dan aperture yang ditentukan secara otomatis oleh kamera tidak sesuai dengan keinginan kita. Untuk itu keberadaan fitur manual P/A/S/M dapat membantu mewujudkan kreatifitas kita dan pada akhirnya bisa membuat foto yang lebih baik.
Inilah hal-hal yang bisa anda lakukan dengan fitur manual eksposure P/A/S/M pada kamera anda :
1. Program mode (P). Huruf P disini kadang artinya diplesetkan sebagai ‘Pemula’ karena sebenarnya di mode ini hampir sama seperti memakai mode AUTO (oleh karena itu mode P ini relatif aman untuk dipakai sebagai mode standar sehari-hari). Bila pada mode AUTO semua parameter ditentukan secara otomatis oleh kamera, maka pada mode P ini meski kamera masih menentukan nilai shutter dan aperture secara otomatis, namun kita punya kebebasan mengatur nilai ISO, white balance, mode lampu kilat dan Exposure Compensation (Ev). Tampaknya tidak ada yang istimewa di mode P ini, tapi tunggu dulu, beberapa kamera ada yang membuat mode P ini lebih fleksibel dengan kemampuan program-shift. Dengan adanya program-shift ini maka kita bisa merubah variasi nilai pasangan shutter-aperture yang mungkin namun tetap memberikan eksposure yang tepat (konsep reciprocity) . Bila kamera anda memungkinkan program-shift pada mode P ini, cobalah berkrerasi dengan berbagai variasi pasangan nilai shutter-aperture yang berbeda dan temukan perbedaannya.
2. Aperture-priority mode (A, atau Av). Mode ini optimal untuk mengontrol depth-of-field (DOF) dari suatu foto, dengan cara mengatur nilai bukaan diafragma lensa (sementara kamera akan menentukan nilai shutter yang sesuai). Aturlah diafragma ke bukaan maksimal (nilai f kecil) untuk mendapat foto yang DOFnya sempit (objek tajam sementara latar belakang blur) dan sebaliknya kecilkan nilai diafragma (nilai f tinggi) untuk mendapat foto yang tajam baik objek maupun latarnya. Biasanya pada lensa kamera saku, bukaan diafragma maksimal di f/2.8 (pada saat wide maksimum) dan bukaan terkecil berkisar di f/9 hingga f/11 (tergantung spesifikasi lensanya). Namun dalam situasi kurang cahaya, memperkecil diafragma akan membuat eksposure jadi gelap, untuk itu biarkan nilai diafragma pada posisi maksimal saat memotret di tempat yang kurang cahaya.

Aperture priority mode pada DSLR
3. Shutter-priority mode (S, atau Tv). Mode ini kebalikan dari mode A/Av, dimana kita yang menentukan kecepatan shutter sementara kamera akan mencarikan nilai bukaan diafragma yang terbaik. Mode ini berguna untuk membuat foto yang beku (freeze) atau blur dari benda yang bergerak. Dengan memakai shutter amat cepat, kita bisa menangkap gerakan beku dari suatu momen olahraga, misalnya. Sebaliknya untuk membuat kesan blur dari suatu gerakan (seperti jejak lampu kendaraan di malam hari) bisa dengan memakai shutter lambat. Memakai shutter lambat juga bermanfaat untuk memotret low-light apabila sumber cahaya yang ada kurang mencukupi sehingga diperlukan waktu cukup lama untuk kamera menangkap cahaya. Yang perlu diingat saat memakai shutter cepat, cahaya harus cukup banyak sehingga hasil foto tidak gelap. Sebaliknya saat memakai shutter lambat, resiko foto blur akibat getaran tangan akan semakin tinggi bila kecepatan shutter diturunkan. Untuk itu gunakan fitur image stabilizer (bila ada) atau gunakan tripod. Sebagai catatan saya, nilai kecepatan shutter mulai saya anggap rendah dan cenderung dapat mengalami blur karena getaran tangan adalah sekitar 1/30 detik, meski ini juga tergantung dari cara dan kebiasaan kita memotret serta posisi jarak fokal lensa. Pada kecepatan shutter sangat rendah di 1/8 detik, pemakaian stabilizer sudah tidak efektif lagi dan sebaiknya gunakan tripod.

Shutter-priority
4. Manual mode (M). Di level mode full-manual ini, fotograferlah yang bertugas sebagai penentu baik nilai shutter dan aperture. Light-meter pada kamera tetap berfungsi, namun tidak digunakan untuk mengatur nilai eksposure secara otomatis, melainkan hanya sebagai pembanding seberapa jauh eksposure yang kita atur mendekati eksposure yang diukur oleh kamera. Di mode ini dibutuhkan pemahaman akan eksposure yang baik, dalam arti fotografer harus mampu untuk mengenal kondisi cahaya pada saat itu dan dapat membayangkan berapa nilai shutter dan aperture yang diperlukan. Bila variasi kedua parameter ini tidak tepat, niscaya foto yang dihasilkan akan terlalu terang atau terlalu gelap. Namun bila sukses memakai mode manual ini, kita bisa mendapat foto yang memiliki eksposure yang baik melebihi foto yang diambil dengan mode AUTO, Program, Aperture-priority ataupun Shutter-priority. Contohnya pada saat mengambil foto sunset di pantai dimana dibutuhkan feeling yang tepat akan eksposure yang diinginkan.

Jam terbang anda dalam memotret akan mempengaruhi kepekaan dalam merekam gambar, Oke selamat berkreasi salam, Djel Cah Gunung

Selengkapnya...

06 September 2011

Mengenal Fotografi di Alam Bebas


Fotografi siapapun bisa melakukannya, bagi sebagian orang foto mewakili sebuah nilai yang tak terhingga dari perasaan dan keinginan manusia. Kejadian atau momen yang tak mungkin terulang bisa diabadikan misalnya kenangan saat bertemu kekasih, berpacaran, menikah, hingga melahirkan anak tercinta dan kenangan lainnya, semuanya bisa terekam secara visual, maka fotografi menjadi penting bagi mereka yang tak ingin kehilangan momen-momen dalam hidupnya.
Dengan semakin sering kita memotret maka akan timbul kepekaan pada situasi yang ada, kali ini saya akan membahas tentang bagaimana sebaiknya melakukan kegiatan fotografi di alam bebas, semoga dapat menjadi referensi bagi kaum petualang yang tidak ingin kehilangan momen-momen indah di alam raya ini.

Persiapan
Memotret dalam kawasan hutan hujan tropis, pelaku fotografi harus dapat memperkirakan segala pengaruh buruk terhadap perlengkapan kamera. Suhu udara yang panas dan kelembaban yang tinggi dapat berpengaruh pada lensa-lensa kamera.
Pada bidang pemotretan di alam dengan segala kegiatannya, diperlukan peralatan dan perlengkapan kamera yang memadai. Pilihan praktis bisa diberikan kepada lensa-lensa vario/zoom masing-masing mulai dari 18-55 mm atau 70-300 mm, maupun 200-400 mm. Tele converter atau exlensioan tube serta bellow juga bisa bermanfaat saat diperlukan. Memanfaatkan hasil teknologi yang ada di pasaran dapat membuat pekerjaan kita lebih efisien, karena saat ini banyak tersedia lensa-lensa diatas dengan harga yang terjangkau.
Mereka yang berminat menekuni fotografi alam bebas, selain dituntut menguasai segala ilmu fotografi sebaiknya juga memiliki fisik dan mental yang prima. Cermati waktu pemotretan yang cenderung lebih baik dilakukan pada pagi hari dengan berbagai kelebihannya, seperti tumbuh-tumbuhan yang tampak lebih segar atau suasana alam yang lebih ceria. Pada sore hari umumnya umumnya lebih kaya dengan warna-warni kemerahan. Hal ini bukan berarti kegiatan yang berlangsung pada siang ataupun pada malam hari menjadi kurang bermanfaat. Memotret di alam bisa menghasilkan gambar yang demikian dramatis pada tengah hari yang terik terutama bila dapat memanfaatkan pantulan cahaya matahari diatas permukaan air yang cenderung menghasilkan warna putih keperakan pada sudut pandang tertentu suasana romantis dari gambar silhouette tidak terlalu sulit untuk dihasilkan.
Khusus pada bagian fisik, pelaku diharapkan dalam kondisi prima yang bertujuan agar pelaku bisa berada di lokasi pemotretan yang berlangsung di alam bebas mutlak membutuhkan stamina tinggi. Pada perjalanan jauh dengan kondisi medan yang mendaki atau menurun dengan berbagai tingkat kesulitan biasanya akan sangat melelahkan. Menghadapi medan sulit di lintasan jalan setapak, memanjat tebing-tebing tinggi dengan batu-batu cadasnya, menelusuri goa yang dalam dengan kegelapannya, menerobos semak-semak belukar ataupun ketika menyebrangi sungai tanpa titian memerlukan perlengkapan dan pengetahuan yang memadai agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Waktu Pengambilan Gambar
Pada waktu pelaksanaan pemotretan, perlu antisipasi fenomena alam yang ada yang dapat berpengaruh pada diri sendiri dan kamera, misalnya pada saat gunung meletus, usahakan dan perhitungkan kemungkinan buruk bagi diri sendiri maupun perlengkapan kamera yang dimiliki. Debu halus yang terdiri dari berbagai unsur partikel bahan kimia diantaranya asam silika, belerang, dll selain bisa mengganggu perlengkapan kamera juga tidak baik untuk paru-paru pemotret itu sendiri.
Jangan ragu menggunakan lampu kilat pada pemotretan di siang hari maupun di malam hari. Terutama untuk menghilangkan bayangan ( pada siang hari ), bisa juga untuk menambah penyinaran pada bagian latar depan ( malam hari ), pada pemotretan panorama/pemandangan alam pelaku senantiasa berikhtiar menghadirkan dimensi ketiga dengan cara memasukan bagian-bagian lainnya sebagai latar depan atau bisa juga dengan menangkap pantulan bayangan objek pemotret itu. Usahakanlah menciptakan kreasi baru dan jangan mengekor dari yang pernah dibuat oleh pemotret lain. Masih banyak kemungkinan lebih baik dalam menghasilkan gambar-gambar yang pernah dibuat orang lain. Berpikir dan berusaha menjadi yang pertama dan terbaik. Ciptakan yang lain dari yang biasa sehingga hasilnya tidak hanya sebagai gambar biasa-biasa saja.
Beberapa tips terakhir mungkin akan berguna untuk dibiasakan menjelang pada waktu pemotretan petualangan di alam untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan aman.
1. Sebelum berangkat sebaiknya membuat daftar/cheklist dari segala peralatan maupun perlengkapan fotografi yang akan dibawa. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan ada yang terlupa.
2. Periksa semua peralatan yang akan dibawa apakah segalanya berfungsi dengan baik dan dapat dioperasikan dengan sempurna.
3. Membawa body kamera lebih dari satu.
4. Halalkan segala cara untuk bisa mengabadikan semua kegiatan petualangan tanpa ragu-ragu ataupun merasa bersalah, seperti jangan merasa bersalah saat menyaksikan anak burung yang sedang dimakan ular, karena itu merupakan proses bagaimana alam menjadi seimbang.
5. Hasil pemotretan harus bisa bermanfaat dan disimpan dengan baik.

Selengkapnya...