Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dasar Petualang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengetahuan Dasar Petualang. Tampilkan semua postingan

24 April 2010

Mendaki Gunung Yang Aman & Nyaman

Seorang pendaki gunung pada dasarnya menghadapi dua jenis rintangan ketika melakukan kegiatannya. Rintangan yang pertama sifatnya ekstern, artinya datang dari obyek yang sedang dihadapi. Obyek itu adalah gunung, dan rintangan yang dihadapi berupa cuaca atau medan berat. Bahaya yang ditimbulkannya disebut bahaya obyek (objective danger).
Rintangan jenis kedua sifatnya intern, yaitu datang dari si pendaki gunung itu sendiri. Kalau si pendaki gunung itu tidak mempersiapkan diri dengan baik, maka rintangan itu datang dari dirinya sendiri. Bahaya timbul disebut bahaya subyek (subjective danger).



Di Indonesia, bahaya obyek bagi pendaki gunung secara umum tidak terlalu besar. Keterjalan gunung-gunungnya relatif tak seberapa, cuacanya pun hanya dipengaruhi oleh dua musim, musim kering dan musim hujan. Suhu udara tidak terlalu dingin, terutama dibandingkan dengan gunung-gunung di daerah subtropis. kalau akhir-akhir ini terlansir berita mengenai kecelakaan di gunung, maka kesalahan banyak dilakukan oleh si pendaki, dari banyak segi masih belum memadai. perlengkapan mendaki gunung adalah pokok pemikiran pertama bagi setiap pendaki gunung.

Gunung dengan segala aspeknya merupakan lingkungan yang asing bagi organ tubuh kita, lebih-lebih bagi mereka yang hidup di dataran rendah. Itulah sebabnya mengapa kita memerlukan perlengkapan untuk menyesuaikan diri dengan keadaan di gunung. Perlengkapan yang baik adalah salah satu usahauntuk mengurangi bahaya di gunung, baik obyek maupunsubyek.

SEPATU
Kegiatan utama dalam mendaki gunung adalah berjalan. Ini berarti perlindungan terhadap kaki harus benar-benar diperhatikan. kaki harus terlindung dari kemungkinan terluka karena duri atau batu yang terdapat di sepanjang perjalanann. Sepasang sepatu yang baiklah yang akan melindungi kaki yang gemar berjalan. Hal pertama yang harusa diperhatikan ketika memilih sepatu untuk mendaki gunung adalah solnya. Jangan memilih sepatu yang mudah tergelincir, misalnya karena solnya dari kulit. Pilihlah sepatu yang solnya dari karet atau sintetis, terutama yang memakai tumit. Sol karet dengan kembang yang besar akn membantu kaki menunjang badan dengan baik di gunung.
Di Indonesia, sepatu tentara yang banyak di jual di pasaran merupakan pilihan yang cukup baik untuk mendaki gunung.

RANSEL
Memang banyak cara yang bisa dipakai untuk membawa barang yang diperlukan untuk mendaki gunung. Bagi yang sudah terbiasa, beban yang berat bisa dipikul atau dicangking di sebelah bahu dengan tas biasa. Tetapi bagi yang tak biasa, beban berat yang jatuh di pinggang atau ditahan oleh sebelah bahu akan sangat menyiksa. Untuk mereka, ransel merupakan wadah yang baik untuk barang-barang yang diperlukan di gunung.
Dengan ransel, beban akan ditahan oleh kedua bahu secara merata. Titik berat beban itu jatuh di tulang yang kuat, yaitu tulang belakang. Berat beban di dalam ransel akan ditahan secara sempurna oleh kedua bahu kalau pengepakan barang-barangnya tepat.
Barang yang paling berat harus diletakkan di bagian atas. Hal ini penting dilakukan agar berat keseluruhan beban di rasnel itu tidak jatuh di pinggang atau punggung. Dengan berpegang pada prinsi di atas, maka fungsi ransel sebagai pembawa beban akan tercapai dengan baik.

PAKAIAN
Pakaian dari bahan katun cukup baik untuk mendaki gunung, terutama karena kemampuannya menyerap keringat. Sayangnya pakaian dari bahan ini tidak mampu menjaga badan agar tetap hangat apabila basah, misalnya dalam keringat. Karena itu, seorang pendaki gunung harus amembawa pula pakaian cadangan secukupnya. Bahan yang paling baik untuk pakaian mendaki gunung adalah wol. Bahan ini masih mampu menjaga kehangatan badan kendati basah, juga cepat mengering kembali.


Kesalahan yang paling mendasar yang dilakukan pendaki gunung b e r p e n g a l a m a n sekalipun adalah mengenakan celana atau jaket dari bahan jeans. Bahan ini memang nampak kuat dan praktis, tetapi sulit sekali kering apabila basah. Kalau sudah basah celana atau jaket jeans menjadi lebih berat lagi. Suhu udara di gunung yang dingin akan terasa lebih dingin lagi kalau kita memakai pakaian dari bahan jeans.
Selain pakaian untuk jalan, pendaki gunung juga memerlukan pakaian untuk menghangatkan badan, terutama ketika sedang berhenti atau berisatirahat. Baju tebal dari wol, misalnya sweater, merupakan pilihan yang cukup baik untuk di gunung.


Pakaian atau jaket hangat lainnya yang hanya terdapat di pasaran juga baik, asal sudah diperhitungkan kemampuannya untuk menghangatkan badan. Kalau perlu, bawalah beberapa pakaian hangat sekaligus, tentu dengan memperhatikan masalah praktisnya. Masalah yang lain yang harus diperhatikan adalah usaha untuk menjaga agar pakaian dalam ransel tidak basah oleh hujan. Pergunakanlah kantung plastik yang besar untuk membungkus pakaianpakaian itu. Kalau perlu gunakan beberapa kantung plastik sekaligus. Jangan membiarkan pakaian-pakaian itu basah. Gunung-gunung di Indonesia biasanya curah hujannya tinggi. Perlengkapan untuk menahan hujan menjadi begitu penting disini. Banyak kecelakaan di Indonesia pada dasarnya berpangkal dari perlengkapan hujan yang tidak di bawa. Kematian yang mengakhiri kisah perjalanan di gunung kebanyakan karena kelalaian ini, karena si korban tidak mampu menahan dingin karena kebasahan.


Jaket hujan yang dilengkapi celananya membuat gerakan si pendaki bebas. Ponco untuk hujan juga pilihan yang baik, karena bisa sekaligus dipakai untuk menutupi ransel. ponco juga tidak menyebabkan keringat tertahan sehingga menyebabkan kondensasi di permukaan kulit kita. Lagi pula ponco bisa dipakai untuk kegunaan lain, seperti bivak, alas tidur atau duduk, menampung air dan menutupi barang di luar ketika kita sedang beristirahat di dalam tenda. Pemilihan warna untuk pakaian mendaki gunung bukan hanya berdasar selera. Untuk memudahkan orang lain melihat kita, terutama kalau terjadi kecelakaan, dianjurkan pendaki gunung memakai pakaian yang berwarna mencolok, misalnya merah, kuning atau oranye. Dengan pertimbangan yang sama, usahakan pula memilih warna yang mencolok untuk perlengkapan lainnya, seperti ransel, ponco, jaket dan sebagainya.

TENDA
Seorang pendaki gunung yang seharian penuh berjalan membutuhkan istirahat yang cukup untuk mengembalikan tenaga. Untuk itu dibutuhkan tempat istirahat yang nyaman, aman dari gangguan dingin dan hujan. Ceruk batu atau gua yang kering merupakan tempat yang baik untuk istirahat, tetapi sayang bentukan alam yang seperti ini sukar dijumpai di gunung.

Pondok dari batang dan ranting pohon dapat saja dibuat, tetapi di gunung tidak selalu diperoleh bahan-bahannya yang baik. Tenda adalah tempat yang paling baik bagi pendaki gunung yang lelah. Beberapa hal harus diperhatikan ketika memilih tenda untuk mendaki gunung. Pertama, tenda harus terbuat daru abhan yang benar-benar kedap air. Tenda dari kanvas yang banyak dijual di pinggir pinggir jalan tentu tidak baik untuk perlengkapan mendaki gunung, karena tenda jenis ini tidak mampu menahan hujan lebat. Kedua periksalah apakah tenda ini tidak lembab di dalamnya. Tenda yang terlalu rapat (tanpa ventilasi) menyebabkan udara panas di dalam tenda tertahan sehingga menyebabkan kondensasi, artinya lembab dan basah. Seperti yang sudah disebutkan, ponco dapat pula dipakai untuk membuat bivak untuk pengganti tenda. Selain ponco, untuk fungsi yang sama dapat digunakan lembaran plastik yang lebar. Ponco atau plastik ini dipakai sebagai atap dengan tiang dari ranting atau batang pohon. Ini usaha minimal yang praktis dan murah yang bisa dilakukan bila tidak tersedia tenda.

PERLENGKAPAN TIDUR


Pakaian tebal, terutama dari wol mungkin sudah cukup untuk tidur di gunung-gunung di Indonesia umumnya. Tetapi ini tergantung pada masing-masiang orang, karena mereka yang terbiasa hidup di daerah panas tentu tak setahan mereka ynag biasa hidup di daerah dingin. Sarung atau selimut mungkin cukup hangat untuk di gunung, tetapi penggunaannya masih kurang praktis. Yang terbaik adalah sarung tidur (sleeping bag) yang mampu menutupi seluruh tubuh dengan baik, kecuali bagian kepala atau muka. Untuk menutupi bagian kepala,topi dari wol yang disebut balaklava adalah pililhan yang terbaik. Topi ini bisa menutupi seluruh kepala sekaligus, kecuali bagian mata dan hidung. Topi jenis ini juga dapat dilipat-lipat, sehingga kalau perlu bagian yang menutupi muka bisa dibuka. Hawa dingin dari tanah yang kita tiduri sering kali masih terasa, kendati sudah memakai kantung tidur. Untuk menanggulanginya, tanah yang ditiduri dialasi dulu dengan plastik atau daun-daunan. Matras yang banyak dijual di pasaran akan baik sekali bila digunakan sebagai alas. Matras yang praktis adalah yang bisa dilipat dan digelembungkan dengan tiupan mulut. Matras yang terbuat dari karet busa juga pilihan yang baik karena kemampuannya menyekat hawa dingin dari tanah, meskipun kurang praktis karena tidak bisa dilipat kecil.

PERLENGKAPAN MASAK

Memasak dengan kayu bakar memang perlu diketahui caranya. akan tetapi gunung di Indonesia biasanya lembab dan basah, karena curah hujannya tinggi.. Kayu dari pohon gunung itu umumnya basah, sehingga membuat perapian dari kayu akan memakan waktu dan tidak jarang menghabiskan banyak korek api. Untuk menghindarkan dari kemungkinan tak bisa masak karena tidak ditemukan kayu yang kering, maka sebaiknya pendaki membawa kompor yang kecil dan praktis.


Di beberapa kota besar di Indonesia bisa diperoleh kompor gas yang kecil dan sangat praktis untuk perlengkapan mendaki gunung. Dengan beberapa tabung gas cadangan, penggunaan kompor ini memang sangat membantu. Api yang dihasilkan oleh kompor ini juga baik sekali, artinya cepat panas dan tidak mengotori panci. Sayangnya, kompor ini harganya cukup mahal, lagi pula masih susah mencarinya.


Jenis kompor yang praktis dan banyak di pasaran adalah kompor pompa yang berisi minyak tanah sebagai bahan bakarnya. Harga kompor dan bahan bakarnya relatif murah, lagi pula sangat praktis bila dipakai untuk perjalanan lama (seminggu atau lebih).
Kekurangannya adalah beratnya dan kita pun harus amembawa cadangan minyak tanah, juga apinya tidak terlalu panas dan menyebabkan panci kotor dan berkerak. Jangan mengambil resiko dengan membawa korek api tanpa dibungkus plastik atau terlindung dari kemungkinan basah. Cara yang terbaik adalah memasukkan batang-batang korek api beserta kertas pemantikkanya ke dalam tabung bekas film. Tabung ini keda[p air, tetapi tidakl ada salahnya kalau batang-batang kerek api beserta pemantiknya dibungkus dengan plastik, baru dimauskkan ke dalamnya. Sebagai wadah untuk memasak, pilihlah panci yang kecil dan praktis.. Di Indonesia, model panci susun yang disebut nesting merupakan pilihan yang tebaik. Dengan prinsip yang sama, yaitu kecil dan praktis, pilih juga cangkir, sendok dan pisau. jangan lupa membawa botol air dari logam atau plastik. Gunung tidak selalu menjanjikan air yang cukup di sepanjang perjalanan menuju puncaknya.

MAKANAN


Makanan yang praktis buat mendaki gunung adalah makanan yang siap pakai (instan). Makanan jenis ini cepat masaknya, sehingga banyak waktu dan bahan bakar yang dapat dihemat. Kebiasaan makan nasi di gunung harus dikurangi, kalau bisa ditinggalkan untuk sementara. Masalahnya memasak nasi membutuhkan waktu yang lama, sehingga menghabiskan banyak bahan bakar. Fungsi beras bisa digantikan dengan makanan siap pakai yang banyak mengandung hidrat arang, misalnya mie instant, biskuit, roti, coklat dan sebagainya. Pengaturan makanan seaiknya mempertimbangkan kemudahan-kemudahan, terutama ketika sedang dalam perjalanan. Makan pagi harus diusahakan terdiri dari makanan yang mudah masak dan hangat, misalnya Supermie atau havermouth. Ini berdasarkan pertimbangan bahwa perjalanan hari itu harus dimulai sepagi mungkin, menjaga kemungkinan cuaca buruk yang bisa datang sewaktu-waktu.. Untuk makan siang, sebaiknya tidak mengeluarkan makanan yang harus dimasak terlebih dulu, karena hal ini akan memakan waktu yang lama. Meskipun demikian makanan ini harus tetap mengandung hidrat arang yang cukup, misalnya saja coklat, biskuit atau roti. Barulah pada waktu makan malam kita memasak makanan sepuasnya, karena saat itu sedang beristirahat dan punya banyak waktu.

PERLENGKAPAN LAIN


Selain obat-obatan pribadi, setiap kelompok mendaki gunung harus membawa perlengkapan P3K. Perlengkapan lain adalah senter, parang, kompas, altimeter dan pete. Tentu saja perlengkapan lainnya masih ada, tetapi minimal perlengkapan di atas sudah mencukupi.

DAFTAR PERLENGKAPAN

Biasanya membuat daftar perlengkapan sebagai usaha untuk mengecek (check list) kekurangan-kekurangan yang mungkin ada. Setiap orang mempunyai perlengkapan yang mungkin berbeda, tetapi fungsinya bisa sama. Karena itu daftar perlengkapan setiap orang juga bisa berbeda. Sebagai patokan minimall, daftar perlengkapan di bawah ini bisa di gunakan :


1. ransel
2. sepatu mendaki
3. kaus kaki (dengan cadangannya)
4. celana untuk jalan
5. celana untuk tidur
6. baju untuk jalan
7. baju untuk tidur (sweater, baju wol dsb)
8. kantung palstik besar (untukmembungkus pakaian)
9. balaklava
10. ponco/jaket hujan
11. senter (berikut baterai cadangan)
12. botol air
13. golok dan pisau
14. peta
15. kompas dan altimeter
16. buku catatan dan ballpoint
17. tenda atau plastik untuk bivak
18. kantung tidur
19. alas tidur (matras tiup atau matras karet busa)
20. kompor dan minyak tanah(atau kompor gas)
21. panci/nesting
22. korek api
23. sendok dan cangkir
24. makanan
25.perlengkapan dan obat P3K



PERSIAPAN FISIK


Selain peralatan, persiapan yang tak kalah penting untuk mendaki gunung adalah persiapan fisik atu kesegaran jasmani. Dasar yang paling penting bagi pendaki gunung adalah tenaga aerobik, sebab kegiatannya sangat dipengaruhi oleh transport oksigen melalui peredaran darah kepada otot-otot badan. Untuk ini, seorang pendaki gunung harus melakukan latihan-latihan aerobik seara teratur, yaitu lari atau berspeda. Selain aerobik, perlu juga dilatih kekuatan dan ketahanan otot, terutama otot-otot yang banyak digunakan dalam mendaki gunung. Otot-otot itu adalah bahu, punggung, pinggang dan kaki. Untuk itu, pendaki gunung harus pula melatih berlatih dengan menggunakan beban seperti mengangkat barbel dan sejenisnya.

PENGETAHUAN MEDAN


Untuk menguasai medan yang akan dihadapi, seorang pendaki gunung harus menguasai pengetahuan membaca peta dan menggunakan kompas serta altimeter. Pokok penting adalah membayangkan bentukan gunung itu melalui garis-garis kontur yang ada di peta. Dengan melihat garis-garis kontur itu, kita bisa membayangkan medan di gunung yang berupa pegunungan, lembah, sadel, tebing curam, puncak dan sebagainya. Sebuah lintasan yang aman kemudian direncanakan dengan memperhatikan garis-garis kontur itu. Cara lain untuk mengetahui medan yang akan dihadapi adalah dengan bertanya pada orang-orang yang pernah mendaki gunung bersangkutan. Tetapi cara yang terbaik adalah mengikutsertakan orang yang pernah mendaki gunung itu bersama kita, misalnya penduduk sebagai petunjuk jalan. Tak ada gunanya malu atau segan membawa petunjuk jalan


Memperkirakan waktu pendakian perlu juga dilakukan. Ini terutama berguna untuk persiapan makanan. di jalan datar, jarak empat atau lima kilo meter dapat ditempuh dalam waktu satu jam. Di gunung, perhitungan seperti itu tidak berlaku. Mungkin perbedaan ketinggian merupakan satu cara yang lebih baik untuk memperhitungkan waktu tempuh suatu pendakian, kendati masih tergantung pada tingkat kecuraman gunung tersebut. Sebagai patokan, perbedaan tinggi 100 sampai 500 meter rata-rata dapat ditempuh selama satu jam.

TEKNIK MENDAKI


Teknik mendaki pada dasarnya adalah berjalan. Berjalan di gunung harus dilakukan dengan langkah kecil-kecil. Langkah yang terlalu lebar akan merusah keseimbangan badan, karena medan di gunung curam dan berat badan kita sudah bertambah dengan beban di punggung. Kalau fisik baik, seorang pendaki gunung umumnya dapat berjalan dua atau tiga jam tanpa istirahat. Sebagai ukuran minimal, berjalan satu jam dengan istirahat sepuluh menit adalah sudahcukup baik.


Ikuti jalan setapak yang sudah ada. Di gunung, jalan s e t a p a k b i a s a n y a berkelok-kelok m e n g i k u ti kontur alam, sehingga tidak t e r l a l u menanjak. Tak usah memotong jalan setapak yang berkelokkelok itu. Lintasan biasanya curam, lagi pula merusak jalan setapak yang sudah ada. Tak usah segan untuk kembali turun dan memeriksa jalan setapak yang ada, seandainya lintasan di depan meragukan.


Menuruni gunung tidak semudah yang diperkirakan banyak orang. Justru kecelakaan sering terjadi ketika pendaki sedang menuruni gunung. Badan yang lelah dan beban di punggung yang terasa semakin berat meyebabkan persoalan tersendiri dalam menuruni gunung.

Seluruh berat badan mendorong kita ke bawah, sehingga kaki mendapat beban yang lebih berat lagi ketimbang kalu kita sedang mendaki. Otot kaki bekerja lebih berat, sehingga kemungkinan tergelincir, terkilir atau terguling menjadi lebih besar. Kehilanngan jalan setapak sering kali terjadi ketika sedang menuruni gunung. Rasa lelah dan langkah yang lebih cepat ketika turun, seringkali menyebabkan erhatian terhadap jalan setapak menuurn.


Kalau akhirnya kita terpaksa menuruni gunung tanpa mengikuti jalan setapak, primsip yang harus dipegang teguh adalah : ikuti punggungan gunung.
Kesalahan yang sering dilakukan oleh pendaki pemula adalah mengikuti aliran sungai. Sungai menurut perhitungan mereka, menuju ke bawah dan biasanya melewati kampung. Di gunung perhitungan ini tidak bisa dipakai, karena sungai di sini bisa membentuk air terjun dan berada di dasar jurang yang dalam.


Mengikuti sungai di gunung menjadi sangat berbahaya. Kalau memang mau mengikuti sungai, lakukanlah itu dari atas punggungan gunung. Jangan mengikutinya di sungai itu sendiri.

PENYAKIT GUNUNG


Suhu udara gunung-gunung di Indonesia berkisar antara 12-7 derajat celcius. Dengan perlengkapan yang baik, suhu udara seperti ini sebenarnya tidak terlampau dingin. Tetapi adalah kenyataan, bahwa kematian yang banyak terjadi di gunung Indonesia disebabkan karena udara yang dingin ini. Penyebabnya tak lain adalah perlengkapan yang kurang, terutama untuk menahan hujan. Pakaian yang basah dan badan yang tak terlindung dari angin adalah penyebab utama kecelakaan itu. Pakaian yang basah mengurangi nilai insulasi (kemampuan menahan panas) sampai 90%.


Di Indonesia kecelakaan yang banyak terjadi adalah exposure (kehilangan panas badan), terutama disebabkan karena hipotermia (menurunnya suhu badan). Masalahnya ternyata bukan karena udara gunung yang dingin, tetapi karena badan yang basah karena hujan. Suhu badan yang menurun hingga 20 derajat Celcius akan menyebabkan kematian seseorang.


Orang yang terkena hipotermia menunjukkan gejala-gejala : menggigil secara berlebihan, berbicara kacau, lambat, membuat gerakan-gerakan ngawur, berkurang ingatan dan berfikir sistematis, jalan sempoyongan dan kaki sering tersandung, tampak letih sekali, susah berdiri walau baru istirahat dan mengantuk terus.


Apa yang harus kita lakukan bila melihat gejala-gejala tersebut ? Pertama, usahakan agar kita tidak tertidur. Tidur membuat kita kehilangan kesadaran, sehingga badan tak mau lagi menghangatkan diri. Biarkanlah badan menggigil karena gerakan ini menghasilkan panas yang setara dengan lari-lari kecil atau dua batang coklat ukuran sedang yang dimakan setiap jam. Inii adalah usaha secar biologis dari badan kita untuk tetap mempertahankan suhu badan.


Segeralah memakai pakaian kering. Hindari tempat yang banyak angin. Kalau mungkin, buatlah api unggun untuk menghangatkan badan. Dirikanlah tenda atau bivak, lalu masuk ke kantung tidur. Letakkan alas tidur yang kering sebelum berbaring. Jangan biarkan badan dipengaruhi dinginnya tanah. Usahakan untuk memasak air dan makanan, terutama yang manis dan mengandung banyak hidrat arang. tetap bertahan hingga suhu badan normal.


Semakin tinggi suatu daerah, semakin tipis kadar oksigennya. Ini mempengaruhi aktivitas seorang pendaki gunung karena hipoksia (kekurangan oksigen). Kapasitas kerja fisik akan menurun. Memang tidak semua pendaki gunung akan mengalami hal yang sama, karena pengaruh kekurangaan oksigen itu tergantung pada masing-masing individu, terutama kesegaran jasmaninya. Ada pendaki gunung yang sudah terkena pengaruh pada ketinggian 200 meter, tetapi ada yang baru merasakannya pada ketinggian 4000 meter.


Pendaki yang terkenaapengaruh hipoksia akan memperlihatkan gejala-gejala yang disebut penyakit gunungĂ­ (mountain sickness). Biasanya gejala ini muncul karena si pendaki gunung terlalu cepat mencapai suatu ketinggian. Munculnya pun setelah beberapa jam setelah si pendaki mencapai ketinggian itu. Kumpulan gejala itu adalah sakit kepala, sesak nafas, tidak nafsu makan, mual, muntah, diare, sakit perut, kemampuan mental dan ketajaman berfikir menurun, badan terasa lemas, perasaan malas sekali, tidak dapat tidur, tangan dan bibir menjadi biru dan denyut jantung berdenyut lebih cepat daripada biasanya. Biasanya gejala-gejala ini akan menghilang setelah beristirahat selama 24 jam sampai 48 jam. Kalau ini tidak berhasil, maka penanggulangan yang tepat adalah secepatnya turun dan mengurangi ketinggian. Kalau sudah begitu umumnya gejala-gejala itu akan berkurang setelah turun sekitar 500 atau 600 meter dari kektinggian semula.


Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa penyakit yang muncul di gunung sebenarnya faktor yang dapat diperhitungkan. Seseorang yang sudah siap, baik perlengkapan maupun fisik, akan dengan mudah menghindarkan diri dari kemungkinan terkena penyakit yang biasanya menyerang di gunung. kemungkinan lain memang ada, misalnya terjatuh, tetapi masalahnya pun tetap sama, yaitu persiapan yang baik


Banyak orang yang sering pergi mendaki gunung, menjelajahi hutan, atau menyusuri pantai, tapi banyak pula dikabarkan ada orang yang tersesat. Padahal, mereka mungkin telah berteriak keras untuk minta pertolongan. Tidak mustahil mereka telah mencoba berbagai macam jalan, dari jalan setapak, jalan tikus, terobosan babi sampai jalan penebang kayu. Tapi hasilnya justru terperosok semakin jauh ke dalam hutan. Pada saat yang sama mungkin tim SAR sedang bearusaha mencari mereka.


Tapi kembali dengan tangan kosong karena tidak ada petunjuk. Hal itu sangat mungkin terjadi jika seseorang memasuki hutan tapi tidak menguasai teknik komunikasi alam. Padahal itu tidak sukar. Paling sedikit anda dapat mengenali jalan yang telah dilewati.
Lebih jauh anda dapat membantu rekan atau siapa saja yang ada di belakang anda untuk mengikuti arah yang telah anda buat.


Di alam bebas, komunikasi isyarat mempunyai kedudukan yang sama pentingnya dengan komunikasi lesan melalui radio atau pesan tertulis. Komunikasi isyarat dapat dilakukan dengan menggunakan bebatuan, ranting, tanah berlumpur, rumput, semak-seamk dan sebagainya. Dapat juga melalui semaphore, morse atau asap. Atau isyarat visual lainnya seperti kain engan warna mencolok. Bisa juga dengan menempatkan batu besar bertumpuk dengan batu kecil di persimpangan jalan untuk memberi tahu arah mana yang dilewati. Dapat juga dengan menyusun batu m e n y u d u t membentuk kerucut. Arah yang dituju diberitahukan melalui peletakan batu di puncak kerucut. Ikatan rumput dapat juga digunakan untuk menunjukkan arah, yaitu dengan membentuk puncak ikatan kearah yang kita tempuh.

Di sini perlu ekstra waspada dengan semak-semak.
Semak-semak biasa tumbuh menutupi jalur serapak yang jarang dilalui. Semak juga mudah sekali timbuh pada musim hujan yang berkelembaban tinggi. Meski baru dua minggu ditebas, semak sudah tumbuh lebat.


Torehan pada pohon dapat dimanfaatkan, dibuat setiap 5-15 meter. Bekas tebasan atau torehan sekaligus dapat mengisyaratkan berapa lama jejak telah dibuat, yakni dengan menghitung apakah torehannya masih terlihat baru atau sudah lama. Dari perkiraan itu dapat diperkirakan berapa lama anda dapat menyusul teman anda. Pada jalur setapak yang bertanah liat, jejak sepatu ataupun jejak jejak hewan akan tercetak jelas. Kau ada jejak-jejak lama, maka anda dapt membandingkan dengan jejak baru. Dengan demikian dapat diperkirakan kondisi tanah dan cuaca satu atau dua hari sebelumnya. Juga untuk memperkirakan siapa dan berapa orang yang membuat jalan tersebut.


Dalam memberikan isyarat ada elompok yang lebih senang mengikatkan tali rafia dengan warna mencolok misalnya merah pada ranting daripada melukai pohon. Ada pula yang memberitahukan keberadaannya dengan membuang barang-barang kecil seperti bungkus permen, bungkus korek api atau bungkus rokok. Dengan mengenali barang-barang tersebut, anda dapat menerka identitas pembuat jejak.


Tapi cara ini hanya boleh dilakukan kalau keadaan benar-benar darurat, karena cara tersebut tidak beda dengan membuang sampah sembarangan. Syal pecinta alam yang berwarna kontras, dapat juga dipakai untuk menyampaikan segala macam informasi melalui kode semaphore, atau petunjuk arah dalam keadaan darurat. Cara dengan merobek kecil-kecil dan mengikatkan pada ranting. Selain itu peluit merupakan alat yang murah dan efektif yang dapat digunakan untuk memberitahukan keadaan anda.


Demikian juga dengan cermin dan senter. Hal penting yang perlu anda perhatikan sebelum masuk hutan adalah mempersiapkan kelengkapan seperti kompas, peta serta obatobatan. Tapi jika anda tidak punya, matahari dapat digunakan untuk menunjukkan arah, juga aliran arah sungai. Satu hal lagi, usahakan anda mengenal daerah yang dilalui dengan memperhatikan pohon-pohon besar atau tanda lain yang mudah diingat. Jika anda tersesat di hutan, dalam mencari tempat tidur, usahakan tetap tenang. Kepanikan akan menyebabkan anda melakukan tindakan yang semakin memperburuk keadaan. Jika anda kemalamam atau kehujanan, maka beristirahatlah.


Hematlah penggunaan makanan dan tenaga. Untuk istirahat anda dapat mencari tempat-tempat yang aman seperti pohon, di ceruk atau di bawah tebing yang kokoh. Untuk menginap, anda dapat mencari daerah yang berdekatan dengan sumber air, tapi hati-hati terhadap banjir bandang terutama di daerah pegunungan. Kemudian perhatikan juga keamanan dari hewan liar liar seperti gajah dan ular. Disarankan untuk memubat api unggun atau yang dapat menyebabkan hewan tersebut menghindar. Bila di pegunungan sebaiknya menghindari tidur di bagian punggung gunung, karena daerah tersebut merupakan jalur lintasan satwa yang mungkin membahayakan. Sebelum meutuskan tempat menginap, ada baiknya jika anda melihat-lihat terlebuh dahulu keadaan sekitar anda dengan maemperhatikan jejak-jejak hewan yang ada.


Mencari atau membuat tempat tidur yang nyaman dan aman mutlak diperlukan, apalagi jika besok harus melkukan kegiatan yang memerlukan tenaga. Mencari tempat tidur yang rata pada umumnya tidak masalah, karena kita dapat membangun tenda atau bivak. Tapi jika harus mendaki gunung atau berada pada daerah punggung gunug yang tanahnya tidak rata atau bahkan harus bermalam di rawa berair, maka perlu mengetahui cara membuat tempat tidur yang yaman dan aman.


Membuat tempat tidur di rawa dan gunung, bermalam di rawa berair terpaksa dilakukan karena sesuatu hal yang membuat anda tidak mungkin mencari dan menemukan daratan. Bila demikian yang terjadi, maka ada beberapa hal yang dapat dilakukan. Jika rawa tersebut bayak ditumbuhi pohon ysng cukup rapat, anda dapat beristirahat atau tidur dengan menggunakan tempat tidur gantung (hamek) yang diikatkan kedua sisinya pada pohon, atau jika anda tidak membawa tempat tidur gantung , maka anda dapat membuat semacam rakit dengan menyusun kayu kering bertumpuk-tumpuk. Bagian teratas rakit tersebut disusun kayu dengan rapi, rapat dan rata.


Dapat juga dilapis rumput agar lebih empuk dan dialasi plastik. Rakit yang dibuat sebaiknya cukup tinggi, agar tidak basah oleh air rawa dan aman dari gangguan hewan air seperti ular dan lintah.


Cara lainnya dengan karung. Hal ini dilakukan jika daerah rawa mempunyai pepohonan yang cukup padat. Caranya masing-masing orang menggunakan dua buah karung.
Kedua ujung karung tersebut dilubangi dan ditusuk dengan kayu seukuran lengan (kira-kira tidak patah untuk dinaiki) yang panjangnya sekitar dua meter. Kedua karung yang telah ditusuk tersebut dapat digunakan sebagai alas, diikatkan pada pohon yang terdapat di rawa.

Jadilah anda membuat tempat tidur gantung darurat yang aman dan
nyaman. Bagian mulut karung sebaiknya menghadap ke dalam (saling bertemu). Gunanya, bila dingin anda dapat masuk karung (tempat tidur darurat) yang juga berfungsi sebagai sarung.


Di rawa biasanya banyak nyamuk. Untuk mengatasinya dapat menggunakan obat nyamuk bakar yang digantung pada tempat dekat dengan tempat tidur. Hal ini lebih efektif daripada menggunakan obat nyamuk semprot yang akan segera hilang setelah beberapa saat.
Sedang penggunaan obat nyamuk lain yang dioleskan ke tubuh mungkin akan memberikan efek samping bagi tubuh.


Untuk membuat tempat tidur di daerah pegunungan yang mempunyai tanah tidak rata, secara umum sama dengan embuat tempat tidur di rawa. Tapi di daerah pegunungan biasanya lebih dingin dan kita dapat menghangatkan badan dengan membuat api unggun atau menghidupkan lilin/arang/batubara dibawag tempat tidur kita.

Mencari makan


Karena terlalu lama tersesat, maka persediaan makanan yang anda bawa habis, sedang anda belum tahu berapa lama lagi anda harus berada di hutan. Cara yang dapat dilakukan adalah maencari makanan di hutan. Sebagian jenis hewan dapat dimakan. Untuk menghemat tenaga dan menjaga kelestarian alam sebaiknya mengkonsumsi tumbuhan.
Karena ada jenis tumbuhan yang mengandung racun, maka untuk mengenali tumbuhan yang dapat dimakan bisa dengan memperhatikan hewan-hewan yang ada. Umumnya tumbuhan yang dimakan hewan terutama primata seperti monyet, dapat juga dimakan manusia.


Perhatikan pula bagian-bagian mana yang menjadi makanan hewan. Misalnya jika beruk makan buah, maka harus dilihat apakah daging buah, biji atau bagian lain yang dimakan beruk. Tumbuhan yang dapat dimakan biasanya tidak mengeluarkan getah putih jika pucuknya dipotong. Ada beberapa macam tumbuhan hutan yang mudah dikenali dan dapat dimakan seperti rambutan hutan (rasanya sangat asam dan lebih enak jika dikunyah bersama bijinya), durian hutan, pucuk dan buah kedongdong, buah gandaria, berbagai jenis pakupakuan,juga rebung (bambu muda), dan berbagai umbi-umbian. Atau dapat juga bonggol/empulur batang pisang atau umbut rotan muda. Jika kehabisan air, sementara sumber air sangat sulit di dapat, anda dapat memperoleh air dengan memotong liana. Liana ada beberapa macam, dan yang biasanya digunakan adalah yang berwarna kemerah-merahan/ kekuningan (Serabakbak, Lpg).


Caranya, potong liana kira-kira satu meter, maka akan keluar airnya. Ciri-ciri air liana yang dapat diminum adalah jika air yang keluar jernih dan rasanya tawar.jika air yang keluar berbusa, maka tunggulah sampai busa tersebut hilang. Atau cari liana yang tidak mrngeluarkan busa, karena jenis liana ini dapat memabukkan. Tumbuhan lain yang banyak menyimpan air adalah bambu. Anda dapat mengambil airnya dengan melubangi ruas bambu bagian bawah. Kadang, jumlah air pada bambu ini sangat banyak dan rasanya tawar.
Selamat menjelah hutan.
(Norman Edwin : Mendaki Gunung Sebuah Tantangan Petualangan)
Selengkapnya...

29 Januari 2010

Menentukan Posisi Kita di Dalam Peta

Orientasi peta adalah menyamakan kedudukan peta dengan medan sebenarnya (secara praktis menyamakan utara peta dengan utara magnetis). Untuk keperluan orientasi ini, kita perlu mengenal tanda-tanda medan yang ada dilokasi. Ini bisa dilakukan dengan menanyakan kepada penduduk setempat nama-nama gunung, bikit, sungai, atau tanda-tanda medan lainnya, atau dengan mengamati kondisi bentang alam yang terlihat dan mencocokkan dengan gambar kontur yang ada dipeta, untuk keperluan praktis, utara magnetis dianggap sejajar dengan utara sebenarnya, tanpa memperlitungkan adanya deklinasi. Langkah-langkah orientasi peta :

a) Cari tempat terbuka agar dapat melihat tanda-tanda medan yang menyolok;
b) Letakkan peta pada bidang datar;
c) Letakkan kompas diatas peta dan sejajarkan antara arah utara peta dengan utara magnetis/utara kompas, dengan demikian letak peta akan sesuai dengan bentang alam yang dihadapi.
d) Cari tanda-tanda medan yang
paling menonjol disekeliling dan temukan tanda medan tersebut dipeta, lakukan untuk beberapa tanda medan.
e) Ingat tanda medan itu, bentuknya dan tempatnya dimedan sebenarnya maupun dipeta, ingat-ingat tanda medan
yang khas dari setiap tanda medan.


2. Azimuth dan Back Azimuth

Azimuth ialah besar sudut antara utara magnetis (nol derajat) dengan titik/sasaran yang kita tuju,azimuth juga sering disebut sudut kompas, perhitungan searah jarum jam. Ada tiga macam azimuth yaitu :
a) Azimuth Sebenarnya,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara sebenarnya dengan titik sasaran;
b) Azimuth Magnetis,yaitu sudut yang dibentuk antara utara kompas dengan titik sasaran;
c) Azimuth Peta,yaitu besar sudut yang dibentuk antara utara peta dengan titik sasaran.

back Azimuth adalah besar sudut kebalikan/kebelakang dari azimuth. Cara menghitungnya : bila sudut azimuth lebih dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth kurang dari 180 derajat maka sudut azimuth dikurangi 180 derajat, bila sudut azimuth = 180 derajat maka back azimuthnya adalah 0 derajat
atau 360 derajat.

3. Resection

Resection adalah menentukan kedudukan/ posisi di peta dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali. Teknik resection membutuhkan bentang alam yang terbuka untuk dapat membidik tanda medan. Tidak selalu tanda medan harus selalu dibidik, jika kita berada di tepi sungai, sepanjang jalan, atau sepanjang suatu punggungan, maka hanya perlu satu tanda medan lainnya yang dibidik.
Langkah-langkah resection :
a) Lakukan orientasi peta;
b) Cari tanda medan yang mudah dikenali dilapangan dan di peta, minimal dua buah;
c) Dengan penggaris buat salib sumbu pada pusat tanda-tanda medan itu;
d) Bidik dengan kompas tanda-tanda
medan itu dari posisi kita,sudut bidikan dari kompas itu disebut azimuth;
e) pindahkan sudut bidikan yang didapat
ke peta, dan hitung sudut pelurusnya;
f) perpotongan garis yang ditarik dari sudut-sudut pelurus tersebut adalah
posisi kita di peta

4. Intersection

Prinsip intersection adalah menentukan posisi suatu titik (benda) di pet dengan menggunakan dua atau lebih tanda medan yang dikenali dilapangan. Intersection digunakan untuk mengetahui atau memastikan posisi suatu benda yang terlihat dilapangan, tetapi sukar untuk dicapai. Pada intersection, kita sudah yakin pada posisi kita di peta. Langkah-langkah melakukan intersection : a) lakukan orientasi medan, dan pastikan posisi kita; b)bidik obyek
yang kita amati; c) pindahkan sudut yang kita dapat dipeta; d) bergerak ke posisi lain, dan pastikan posisi tersebut
di peta, lakukan langkah b dan c; e) perpotongan garis perpanjangan dari dua sudut yang didapat adalah posisi
obyek yang dimaksud.

5. Koreksi sudut

Pada pembahasan utara telah dijelaskan bahwa utara sebenarnya dan utara kompas berlainan. Hal ini sebetulnya
tidaklah begitu menjadi masalah penting jika selisih sudutnya sangat kecil, akan tetapi pada beberapa tempat,
selisih sudut/deklinasi sangat besar sehingga perlu dilakukan perhitungan koreksi sudut yang didapat dari
kompas(azimuth)yaitu :

A. Dari kompas (K) dipindahkan ke peta (P): P= K +/- (DM +/- VM)

B. Dari peta( P) dipindahkan ke kompas (K): K= P +/- (DM +/- VM)

Keterangan:

Tanda +/- diluar kurung untuk DM (deklinasi magnetis/iktilaf magnetis)

= dari K ke P: DM ke timur tanda (+), DM ke barat tanda (-) = dari P ke K: DM ke timur tanda (-), DM ke barat
tanda (+)

Tanda +/- di dalam kurung untuk VM (variasi magnetis)

=tanda (+) untuk increase/naik; tanda (-) untuk decrease/turun.

Contoh Perhitungan:

Diketahui sudut kompas/azimuth 120 derajat, pada legenda peta tahun 1942 tersebut: DM 1 derajat 30 menit
ketimur, VM 2 menit increase, lalu berapa sudut yang akan kita pindahkan ke peta?

P= K=+/- (DM +/- VM) ingat! kompas ke peta, DM ke timur VM increase

besar VM sekarang (2002)= (2002-1942)x 2 menit

= 120 menit= 2 derajat (1 derajat=60 menit)

sudut P= 120 derajat + (1 menit 30 detik + 2 derajat)

= 123 derajat 30 menit, jadi sudut yang dibuat di peta adalah 123 1/2 derajat.
6. Analisa Perjalanan

Analisa perjalanan perlu dilakukan agar kita dapat membayangkan kira-kira medan apa yang akan kita lalui,
dengan mempelajari peta yang akan dipakai. Yang perlu di analisa adalah jarak, waktu dan tanda medan.

a. Jarak

Jarak diperkirakan dengan mempelajari dan menganalisa peta, yang perlu diperhatikan adalah jarak yang
sebenarnya yang kita tempuh bukanlah jarak horizontal. Kita dapat memperkirakan jarak (dan kondisi medan)
lintasan yang akan ditempuh dengan memproyeksikan lintasan, kemudian mengalihkannya dengan skala untuk
memperoleh jarak sebenarnya.

b. Waktu

Bila kita dapat memperkirakan jarak lintasan, selanjutnya kita harus memperkirakan berapa lama waktu yang
diperlukan untuk menempuh jarak tersebut. Tanda medan juga bisa untuk menganalisa perjalanan dan menjadi
pedoman dalam menempuh perjalanan.

c. Medan Tidak Sesuai Peta

Jangan terlalu cepat membuat kesimpulan bahwa peta yang kita pegang salah. Memang banyak sungai-sungai
kecil yang tidak tergambarkan di peta, karena sungai tersebut kering ketika musim kemarau. Ada kampung yang
sudah berubah, jalan setapak yang hilang, dan banyak perubahan-perubahan lain yang mungkin terjadi.

Bila anda menjumpai ketidaksesuaian antara peta dengan kondisi lapangan, baca kembali peta dengan lebih teliti,
lihat tahun keluaran peta, karena semakin lama peta tersebut maka banyak sekali perubahan yang terdapat pada
peta tersebut. Jangan hanya terpaku pada satu gejala yang tidak ada di peta sehingga hal-hal yang yang dapat
dianalisa akan terlupakan. Kalau terlalu banyak hal yang tidak sesuai, kemungkinan besar anda yang salah
(mengikuti punggungan yang salah, mengikuti sungai yang salah, atau salah dalam melakukan resection). Peta
1:50.000 atau 1:25.000 umumnya cukup teliti.
Selengkapnya...

15 Februari 2008

Membuat Bivak Yang Aman



Bivak adalah salah satu ketrampilan dalam mempertahankan hidup dialam terbuka (survive) yang harus dimiliki seorang petualang bila tersesat di hutan, gunung. Bivak adalah tempat untuk berlindung dan bermalam di hutan. Membuat tempat perlindungan jadi penting ketika terjadi hal-hal darurat. Padahal, bivak tak hanya dibuat ketika darurat saja, tetapi juga dipakai pada saat membuat camp sementara, artinya faktor kenyamanan harus menjadi prioritas.

Ada beberapa syarat yang harus diperhatikan ketika kita memutuskan untuk membuat bivak, yaitu jangan sekali-kali membuat bivak pada daerah yang berpotensi banjir pada waktu hujan. Di atas bivak hendaknya tak ada pohon atau cabang yang mati atau busuk. Ini bisa berbahaya kalau runtuh.
Di daerah tempat kita akan mendirikan bivak hendaknya bukan merupakan sarang nyamuk atau serangga lainnya. Kita juga perlu perhatikan bahan pembuat bivak. Usahakan bivak terbuat dari bahan yang kuat dan pembuatannya baik. Bahan dasar untuk membuat bivak bisa bermacam-macam. Ada yang dibuat dari ponco (jas hujan plastik), lembaran kain plastik (flysheet) atau memanfaatkan bahan-bahan alami, seperti daun-daunan, ijuk, rumbia, daun palem, dan lainnya. Tapi yang paling penting, kesemua bahan dasar tadi sanggup bertahan ketika menghadapi serangan angin, hujan atau panas.
Selain bahan yang bermacam-macam, bentuk bivak pun amat beragam. Semuanya disesuaikan dengan kebutuhan. Tak harus berbentuk kerucut atau kubus, modelnya bisa apa saja. Ini amat bergantung pada kreativitas kita sendiri. Membuat bivak merupakan seni tersendiri karena kreasi dan seni seseorang bisa dicurahkan pada hasilnya.
Sebagai contoh, one man bivak. Pembuatannya dengan menancapkan kayu tiang pokok yang tingginya sekitar 1,5 meter. Letakkan di atasnya sebatang kayu yang panjangnya kira-kira dua meter. Ujungnya diikat kuat yang biasanya memakai patok. Lalu sandarkan potongan kayu yang lebih kecil di atasnya, yang berfungsi untuk menahan dedaunan yang akan jadi atap ”rumah” kita.
Bentuk lain dari alam yang bisa dimanfaatkan sebagai bivak yaitu gua, lekukan tebing atau batu yang cukup dalam, lubang-lubang dalam tanah dan sebagainya. Apabila memilih gua agar kita bisa memastikan tempat ini bukan persembunyian satwa. Gua yang akan ditinggali juga tak boleh mengandung racun. Cara klasik untuk mengetahui ada tidaknya racun adalah dengan memakai obor. Kalau obor tetap menyala dalam gua tadi artinya tak ada racun atau gas berbahaya di sekitarnya.
Kita juga bisa memanfaatkan tanah berlubang atau tanah yang rendah sebagai tempat berlindung. Tanah yang berlubang ini biasanya bekas lubang perlindungan untuk pertahanan, bekas penggalian tanah liat dan lainnya. Pastikan tempat-tempat tersebut tidak langsung menghadap arah angin. Kalau terpaksa menghadap angin bertiup kita bisa membuat dinding pembatas dari bahan-bahan alami. Selain menahan angin, dinding ini bertugas untuk menahan angin untuk tidak meniup api unggun yang dibuat di muka pintu masuk.
Selengkapnya...

29 Januari 2008

DASAR-DASAR NAVIGASI

Memahami pengetahuan membaca peta topografi dan menggunakan kompas
Pendahuluan
Navigasi adalah pengetahuan untuk mengetahui keadaan medan yang akan dihadapi, posisi kita di alam bebas dan menentukan arah serta tujuan perjalanan di alam bebas.
Pengetahuan tentang navigasi darat ini meliputi :
1. Pembacaan peta
2. Penggunaan kompas
3. Penggunaan tanda-tanda alam yang membantu kita dalam menentukan arah
Pengetahuan tentang navigasi darat ini merupakan bekal yang sangat penting bagi kita untuk bergaul dengan alam bebas dari padang ilalang, gunung hingga rimba belantara. Untuk itu memerlukan alat-alat seperti
1. Peta topografi
2. Penggaris
3. Kompas
4. Busur derajat
5. Altimeter
6. Pensil
PETA TOPOGRAFI
Peta adalah gambaran dari permukaan bumi yang diperkecil dengan skala tertentu sesuai dengan kebutuhan. Peta digambarkan di atas bidang datar dengan sistem proyeksi tertentu. Peta yang digunakan untuk kegiatan alam bebas adalah Pete Topografi.
Peta topografi adalah suatu representasi di atas bidang datar tentang seluruh atau sebagian permukaan bumi yang terlihat dari atas dare diperkecil dengan perbandingan ukuran tertentu. Peta topografi menggambarkan secara proyeksi dari sebagian fisik bumi, sehingga dengan peta ini bisa diperkirakan bentuk permukaan bumi. Bentuk relief bumi pada peta topografi digambarkan dalam bentuk Garis-Garis Kontur.
Dalam menggunakan peta topografi harus diperhatikan kelengkapan petanya, yaitu:
1. Judul Peta
Adalah identitas yang tergambar pada peta, ditulis nama daerah atau identitas lain yang menonjol.
2. Keterangan Pembuatan
Merupakan informasi mengenai pembuatan dan instansi pembuat. Dicantumkan di bagian kiri bawah dari peta.
3. Nomor Peta (Indeks Peta)
Adalah angka yang menunjukkan nomor peta. Dicantumkan di bagian kanan atas.
4. Pembagian Lembar Peta
Adalah penjelasan nomor-nomor peta lain yang tergambar di sekitar peta yang digunakan, bertujuan untuk memudahkan penggolongan peta bila memerlukan interpretasi suatu daerah yang lebih luas.
5. Sistem Koordinat
Adalah perpotongan antara dua garis sumbu koordinat. Macam koordinat adalah:
a. Koordinat Geografis
Sumbu yang digunakan adalah garis bujur (BB dan BT), yang berpotongan dengan garis lintang (LU dan LS) atau koordinat yang penyebutannya menggunakan garis lintang dan bujur. Koordinatnya menggunakan derajat, menit dan detik. Misal Co 120° 32' 12" BT 5° 17' 14" LS.
b. Koordinat Grid
Perpotongan antara sumbu absis (x) dengan ordinal (y) pada koordinat grid. Kedudukan suatu titik dinyatakan dalam ukuran jarak (meter), sebelah selatan ke utara dan barat ke timur dari titik acuan.
c. Koordinat Lokal
Untuk memudahkan membaca koordinat pada peta yang tidak ada gridnya, dapat dibuat garis-garis faring seperti grid pada peta.
Skala bilangan dari sistem koordinat geografis dan grid terletak pada tepi peta. Kedua sistern koordinat ini adalah sistem yang berlaku secara internasional. Namun dalam pembacaan sering membingungkan, karenanya pembacaan koordinat dibuat sederhana atau tidak dibaca seluruhnya.
Misal: 72100 mE dibaca 21, 9° 9700 mN dibaca 97, dan lain-lain.
6. Skala Peta
Adalah perbandingan jarak di peta dengan jarak horisontal sebenarnya di medan atau lapangan. Rumus jarak datar dipeta dapat di tuliskan
JARAK DI PETA x SKALA = JARAK DI MEDAN
Penulisan skala peta biasanya ditulis dengan angka non garis (grafis).
Misalnya Skala 1:25.000, berarti 1 cm di peta sama dengan 25 m di medan yang sebenarnya.
7. Orientasi Arah Utara
Pada peta topografi terdapat tiga arah utara yang harus diperhatikan sebelum menggunakan peta dan kompas, karena tiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis.
Tiga arah utara tersebut adalah:
a. Utara Sebenarnya (True North/US/TN) diberi simbol * (bintang), yaitu utara yang melalui Kutub Utara di Selatan Bumi.
b. Utara Peta (Grid Nortb/UP/GN) diberi simbol GN, yaitu Utara yang sejajar dengan garis jala vertikal atau sumbu Y. Hanya ada di peta.
e. Utara Magnetis (Magnetic North/UM) diberi simbol T (anak pariah separuh), yaitu Utara yang ditunjukkan oleh jarum kompas. Utara magnetis selalu mengalami perubahan tiap tahunnya (ke Barat atau ke Timur) dikarenakan oleh pengaruh rotasi bumi. Hanya ada di medan.
Karena ketiga arah utara tersebut tidak berada pada satu garis, maka akan terjadi penyimpangan-penyimpangan sudut, antara lain:
a. Penyimpangan sudut antara US - UP balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Peta (IP) atau Konvergensi Merimion. Yang menjadi patokan adalah Utara Sebenarnya (US).
b. Penyimpangan sudut antara US - UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Magnetis (IM) atau Deklinasi. Yanmg menjadi patokan adalah l Utara sebenarnya ((IS).
c. Penyirnpangan sudut antara UP - UM balk ke Barat maupun ke Timur, disebut Ikhtilaf Utara Peta-Utara Magnetis atau Deviasi. Yang menjadi patokan adalah Utara Pela f71').
Dengan diagram sudut digambarkan
US UP UM
TRUE NORTH MAGNETIS NORTH
8. Garis Kontur atau Garis Ketinggian
Garis kontur adalah gambaran bentuk permukaan bumi pada peta topografi.
Sifat-sifat garis kontur, yaitu'.
a. Garis kontur merupakan kurva tertutup sejajar yang tidak akan memotong satu sama lain dan tidak akan bercabang.
b. Garis kontur yang di dalam selalu lebih tinggi dari yang di luar.
c. Interval kontur selalu merupakan kelipatan yang sama
d. Indek kontur dinyatakan dengan garis tebal.
e. Semakin rapat jarak antara garis kontur, berarti semakin terjal Jika garis kontur bergerigi (seperti sisir) maka kemiringannya hampir atau sama dengan 90°.
f. Pelana (sadel) terletak antara dua garis kontur yang sama tingginya tetapi terpisah satu sama lain. Pelana yang terdapat diantara dua gunung besar dinamakan PASS.
9. Titik Triangulasi
Selain dari garis-garis kontur dapat pula diketahui tinggi suatu tempat dengan pertolongan titik ketinggian, yang dinamakan titik triangulasi Titik Triangulasi adalah suatu titik atau benda yang merupakan pilar atau tonggak yang menyatakan tinggi mutlak suatu tempat dari permukaan laut. Macam-macam titik triangulasi
a. Titik Primer, I'. 14 , titik ketinggian gol.l, No. 14, tinggi 3120 mdpl. 3120
b. Titik Sekunder, S.45 , titik ketinggian gol.II, No.45, tinggi 2340 rndpl. 2340
c. Titik Tersier, 7: 15 , titik ketinggian gol.III No. 15, tinggi 975 mdpl 975
d. Titik Kuarter, Q.20 , titik ketinggian gol.IV, No.20, tinggi 875 mdpl. 875
e. Titik Antara, TP.23 , titik ketinggian Antara, No.23, tinggi 670 mdpl. 670
f. Titik Kedaster, K.131 , titik ketinggian Kedaster, No.l 31, tg 1202 mdpl. 7202
g. Titik Kedaster Kuarter, K.Q 1212, titik ketinggian Kedaster Kuarter, No. 1212, tinggi 1993 mdpl. 1993
10. Legenda Peta
Adalah informasi tambahan untuk memudahkan interpretasi peta, berupa unsur yang dibuat oleh manusia maupun oleh alam. Legenda peta yang penting
untuk dipahami antara lain:
a. Titik ketinggian
b. Jalan setapak
c. Garis batas wilayah
d. Jalan raya
e. Pemukiman
f. Air
g. Kuburan
h. Dan Lain-Lain
MEMAHAMI PETA TOPOGRAFI
A. MEMBACA GARIS KONTUR
1. Punggungan Gunung
Punggungan gunung merupakan rangkaian garis kontur berbentuk huruf U, dimana Ujung dari huruf U menunjukkan ternpat atau daerah yang lebih pendek dari kontur di atasnya.
2. Lembah atau Sungai
Lembah atau sungai merupakan rangkaian garis kontur yang berbentuk n (huruf V terbalik) dengan Ujung yang tajam.
3. Daerah landai datar dan terjal curam
Daerah datar/landai garis kontumya jarang jarang, sedangkan daerah terjal/curam garis konturnya rapat.
B. MENGHITUNG HARGA INTERVAL KONTUR
Pada peta skala 1 : 50.000 dicantumkan interval konturnya 25 meter. Untuk mencari interval kontur berlaku rumus 1/2000 x skala peta. Tapi rumus ini tidak berlaku untuk semua peta, pada peta GUNUNG MERAPI/1408-244/JICA TOKYO-1977/1:25.000, tertera dalam legenda peta interval konturnya 10 meter sehingga berlaku rumus 1/2500 x skala peta. Jadi untuk penentuan interval kontur belum ada rumus yang baku, namun dapat dicari dengan:
1. Carl dua titik ketinggian yang berbeda atau berdekatan. Misal titik A dan B.
2. Hitung selisih ketinggiannya (antara A dan B).
3. Hitung jumlah kontur antara A dan B.
4. Bagilah selisih ketinggian antara A - B dengan jumlah kontur antara A - B, hasilnya adalah Interval Kontur.
C. UTARA PETA
Setiap kali menghadapi peta topografi, pertama-tama carilah arah utara peta tersebut. Selanjutnya lihat Judul Peta (judul peta selalu berada pada bagian utara, bagian atas dari peta). Atau lihat tulisan nama gunung atau desa di kolom peta, utara peta adalah bagian atas dari tulisan tersebut.
D. MENGENAL TANDA MEDAN
Selain tanda pengenal yang terdapat pada legenda peta, untuk keperluan
orientasi harus juga digunakan bentuk-bentuk bentang alam yang mencolok di lapangan dan mudah dikenal di peta, disebut Tanda Medan. Beberapa tanda medan yang dapat dibaca pada peta sebelum berangkat ke lapangan, yaitu:
1. Lembah antara dua puncak
2. Lembah yang curam
3. Persimpangan jalan atau Ujung desa
4. Perpotongan sungai dengan jalan setapak
5. Percabangan dan kelokan sungai, air terjun, dan lain-lain.
Untuk daerah yang datar dapat digunakan-.
1. Persimpangan jalan
2. Percabangan sungai, jembatan, dan lain-lain.
E. MENGGUNAKAN PETA
Pada perencanaan perjalanan dengan menggunakan peta topografi, sudah
tentu titik awal dan titik akhir akan diplot di peta. Sebelurn berjalan catatlah:
1. Koordinat titik awal (A)
2. Koordinat titik tujuan (B)
3. Sudut peta antara A - B
4. Tanda medan apa saja yang akan dijumpai sepanjang lintasan A - B
5. Berapa panjang lintasan antara A - B dan berapa kira-kira waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan lintasan A -B.
Yang perlu diperhatikan dalam melakukan suatu operasi adalah
+ Kita harus tahu titik awal keberangkatan kita, balk di medan maupun di peta.
+ Gunakan tanda medan yang jelas balk di medan dan di peta.
+ Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita, apakah sudah sesuai dengan tanda medan yang kita gunakan sebagai patokan, atau belum.
+ Perkirakan berapa jarak lintasan. Misal medan datar 5 krn ditempuh selama 60 menit dan medan mendaki ditempuh selama 10 menit.
+ Lakukan orientasi dan resection, bila keadaannya memungkinkan.
+ Perhatikan dan selalu waspada terhadap adanya perubahan kondisi medan dan perubahan arah perjalanan. Misalnya dari pnggungan curam menjadi punggungan landai, berpindah punggungan, menyeberangi sungai, ujung lembah dan lain-lainnya.
+ Panjang lintasan sebenarnya dapat dibuat dengan cara, pada peta dibuat lintasan dengan jalan membuat garis (skala vertikal dan horisontal) yang disesuaikan dengan skala peta. Gambar garis lintasan tersebut (pada peta) memperlihatkan kemiringan lintasan juga penampang dan bentuk peta. Panjang lintasan diukur dengan mengalikannya dengan skala peta, maka akan didapatkan panjang lintasan sebenarnya.
F. MEMAHAMI CARA PLOTTING DI PETA
Plotting adalah menggambar atau membuat titik, membuat garis dan tandatanda tertentu di peta. Plotting berguna bagi kita dalam membaca peta. Misalnya Tim Bum berada pada koordinat titik A (3986 : 6360) + 1400 m dpl. SMC memerintahkan Tim Buni agar menuju koordinat titik T (4020 : 6268) + 1301 mdpl. Maka langkah-langkah yang harus dilakukan adalah :
a. Plotting koordinat T di peta dengan menggunakan konektor. Pembacaan dimuali dari sumbu X dulu, kemudian sumbu Y, didapat (X:Y).
b. Plotting sudut peta dari A ke T, dengan cara tank garis dari A ke T, kemudian dengan busur derajat/kompas orientasi ukur besar sudut A - T dari titik A ke arah garis AT. Pembacaan sudut menggunakan Sistem Azimuth (0" -360°) searah putaran jarum Jain. Sudut ini berguna untuk mengorientasi arah dari A ke T.
c. Interprestasi peta untuk menentukan lintasan yang efisien dari A menuju T. Interprestasi ini dapat berupa garis lurus ataupun berkelok-kelok mengikuti jalan setapak, sungai ataupun punggungan. Harus dipaharni betul bentuk garis garis kontur.
Plotting lintasan dan memperkirakan waktu tempuhnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi waktu tempuh :
+ Kemiringan lereng + Panjang lintasan
+ Keadaan dan kondisi medan (misal hutan lebat, semak berduri atau gurun pasir).
+ Keadaan cuaca rata-rata.
+ Waktu pelaksanaan (yaitu pagi slang atau malam).
+ Kondisi fisik dan mental serta perlengkapan yang dibawa.
G. MEMBACA KOORDINAT
Cara menyatakan koordinat ada dua cara, yaitu:
1. Cara Koordinat Peta
Menentukan koordinat ini dilakukan diatas peta dan bukan dilapangan. Penunjukkan koordinat ini menggunakan
a. Sistem Enam Angka Misal, koordinat titik A (374;622), titik B (377;461) b. Cara Delapan Angka Misal, koordinat titik A (3740;6225), titik B (3376;4614)
2. Cara Koordinat Geografis
Untuk Indonesia sebagai patokan perhitungan adalah Jakarta yang dianggap 0 atau 106° 4$' 27,79". Sehingga di wilayah Indonesia awal perhitungan adalah kota Jakarta. Bila di sebelah barat kota Jakarta akan berlaku pengurangan dan sebaliknya. Sebagai patokan letak lintang adalah garis ekuator (sebagai 0). Untuk koordinat geografis yang perlu diperhatikan adalah petunjuk letak peta.
H. SUDUT PETA
Sudut peta dihitung dari utara peta ke arah garis sasaran searah jarum jam.
Sistem pembacaan sudut dipakai Sistem Azimuth (0° - 360°).
Sistem Azimuth adalah sistem yang menggunakan sudut-sudut mendatar yang besarnya dihitung atau diukur sesuai dengan arah jalannya jarum jam dari suatu garis yang tetap (arah utara). Bertujuan untuk menentukan arah-arah di medan atau di peta serta untuk melakukan pengecekan arah perjalanan, karena garis yang membentuk sudut kompas tersebut adalah arah lintasan yang menghubungkan titik awal dan akhir perjalanan.
Sistem penghitungan sudut dibagi menjadi dua, berdasar sudut kompasnya
AZIMUTH : SUDUT KOMPAS
BACK AZIMUTH : Bila sudut kompas > 180° maka sudut kompas dikurangi 180°. Bila sudut kompas <>
I. TEKNIK MEMBACA PETA
Prinsipnya . " Menentukan posisi dari arah perjalanan dengan membaca peta dan menggunakan teknik orientasi dan resection, bila keadaan memungkinkan " Titik Awal : Kita harus tahu titik keberangkatan kita, balk itu di peta maupun di lapangan. Plot titik tersebut di peta dan catat koordinatnya.
Tanda Medan : Gunakan tanda medan yang jelas (punggungan yang menerus, aliran sungai, tebing, dll) sebagai guide line atau pedoman arah perjalanan. Kenali tanda medan tersebut dengan menginterpretasikan peta.
Arah Kompas : Gunakan kompas untuk melihat arah perjalanan kita. Apakah sesuai dengan arah punggungan atau sungai yang kita susuri.
Taksir Jarak : Dalam berjalan, usahakan selalu menaksir jarak dan selalu memperhatikan arah perjalanan. Kita dapat melihat kearah belakang dan melihat jumalah waktu yang kita pergunakan. Jarak dihitung dengan skala peta sehingga kita memperoleh perkiraan jarak di peta. Perlu diingat, bahwa taksiran kita itu tidak pasti.
+10' X 10' untuk peta 1 : 50.000
+ 20' X 20' untuk peta 1 : 100.000
Untuk peta ukuran 20' X 20' disebut juga LBD, sehingga pada 20' pada garis sepanjang khatulistiwa (40.068 km) merupakan paralel terpanjang.
40.068 km: (360° : 20') = 40.068 km: (360° : 1/3) = 40.068 km: (360° X 3) 40.068 km : 1080 = 37,1 km
Jadi 20' pada garis sepanjang khatulistiwa adalah 37,1 km. Jarak 37,1 km kalau digambarkan dalam peta skala 1 : 50.000 akan mempunyai jarak : 37,1 km = 3.710.000 cm. Sehingga dipeta : 3.710.000: 50.000 = 74,2 cm.
Akibatnya I LBD peta 20' x 20' skala 1 : 50.000 di sepanjang khatulistiwa berukuran 74,2 X 74,2 cm. Hal ini tidak praktis dalam pemakaiannya.
3. Lembar Peta
Dikarenakan LBD tidak praktis pemakaiannya, karena terlalu lebar. Maka tiap LBD dibagi menjadi 4 bagian dengan ukuran masing-masing 10' X 10' atau 37,1 X 37,1 cm. Tiap-tiap bagian itu disebut Lembar Peta atau Sheet, dan diberi huruf A, B, C, D. Jika skala peta tersebut 1 : 50.000, maka peta itu mempunyai ukuran 50.000 X 37,1 = 1.855.000 cm = 18,55 km (1ihat gambar).
4. Penomoran Lembar Peta
a. Meridian (garis bujur) yang melalui Jakarta adalah 106° 48' 27,79" BT, dipakai sebagai meridian pokok untuk penornoran peta topografi di Indonesia. Jakarta sebagai grs bujur 0
b. Panjang dari Barat ke Timur = 46° 20', tetapi daerah yang dipetakan adalah mulai dari 12" sebelah barat meridian Jakarta. Daerah yang tidak dipetakan adalah : 106° 48' 27,79" BT - (12° + 46° 20' BT) = 8' 27,79", daerah ini merupakan taut sehingga tidak penting untuk pemetaan darat. Tetapi penomorannya tetap dibuat
Keterangan
+ Daerah pada petak A dituliskan sheet 1/I-A dan titik paling Utara dan paling Barat ada di Pulau Weh.
+ Cara pemberian nomor adalah dari Barat ke Timur dengn angka Arab (1,
2, 3, , 139). Dari Utara ke Selatan dengan angka Romawi (I, II,
III LI).
+ LBD selau mempunyai angka Arab dan Romawi. Contoh : LP No. 47[XLI atau SHEET No. 47/XLI.
+ Lembar peta selalu diben huruf, dan huruf itu terpisah dari nomor LBDnya dengan gar's mendatar. Contoh: LP No. 47/XLI - B.
c. Pada uraian diatas disebutkan bahwa garis bujur 0° Jakarta selalu membagi dua buah LBD. Maka untuk lembar peta lainnya selalu dapta dihitung berapa derajat atau menit letak lembar peta itu dan' bujur 0° Jakarta
Contoh: Lernbar Peta No. 39/XL - A terletak diantara garis 7" dan 70 10' LS serta 0° 40' dan 0° 50' Timur Jakarta. Kita harus selalu menyebutkan Lembar Peta tersebut terletak di Barat atau Timur dan' Jakarta.
d. Pada Lembar Peta skala 1 : 50.000, LBD-nya dibagi menjadi 4 bagian. Tetapi untuk peta skala 1 : 25.000, 1 LBD-nya dibagi menjadi 16 bagian dan diberi huruf a sampai q dengan menghilangkan huruf j
e. Mencari batas Timur dan Selatan suatu.Sheet atau Lembar Peta.
Contoh
+ Batas Timur dari bujur 0" Jakarta adalah 47/3 X I = 15" 40' Timur Jakarta atau 15° 40' - 12° = 3° 40' BT Jakarta (batas paling Timur Sheet B).
+ Batas Selatan dan 0° Khatulistiwa adalah 47/3 : 1 = 13" 40' atau 13° 40' 6" = 7° 40' LS. Karena terlatak pada Lembar Peta B dalam 1 LBD, maka dikurangi 10'. Sehingga didapat : 7° 40' - 10' = 7" 30' LS
f. Mencari nomor Lembar Peta atau Sheet. Batas Timur Jakarta = 15" 40', sedang batas Selatan adalah 7" 30' LS. + Jumlah LBD ke Timur = 15° 40' X 3 X 1 LBD = 47 LBD + Jumlah LBD ke Selatan 13" 40' X 3 x 1 LBD = 41 LBD (XLI)
g. Mencari suatu Posisi/Lokasi Contoh : sebuah pesawat terbang jatuh pada koordinat.- 110° 28' BT dan 7° 30' LS. Cari nomor Lembar Petanya Caranya adalah
+ 110° 28' - 94" 40' = 15" 48'
15° 48' X 3 = 47t' 24' (batas paling Timur)
+ 60 + 7" 30' = 13" 30'
130 30' X 3 = 40° 30' (batas paling Selatan)
h. Perhitungan di Koordinat Geografis
+ CARA I
Luas dari I Sheet peta adalah 10' X 10', seluas 18,55 km X 18,55 km pada peta 1 - 50.000. Sehingga di dapat (10 X 60 - 18,5 5) - 20 = 1,617,
dibulatken menjadi 1,62 (sebagai konstanta). Misal peta yang digunakan peta Sheet No. 47/XLI - B
Triangulasi T. 932 terletak pada : 46 mm dari Timur dan 16 mm dari Selatan.
1915
Posisi Sheet 47/XLI - B
1060 48` 27,79" + 30 40' = 110° 28' 27,79"
Dari Timur: 46 mm X 1,62 = 1' l4°52"
1100 28' 27,79" BT - 1' 14,52" = 110° 27' 13,27" BT
(dikurangi karena semakin mendekati ke titik Jakarta).
Dari selatan : 16 mm X 1,62 = 25,92"
7° 30' LS - 25,92" = 7f' 29' 34,08" LS (dikurangi karena semakin mendekati equator).
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat: 110° 27' 13,27" BT dan 7° 29' 34,08" LS. 1915
Untuk penggunaan peta 1 : 25.000, cara penghitungannya sama, hanya konstantanya diubah menjadi 0,81, yang didapat dari :
{(5 X 60) : 18,55 1 : 20 = 0,808, dibulatkan menjadi 0,81
Luas dari 1 Sheet peta skala 1 : 25.000 adalah 5' X 5'
+ CARA 11
Dari Timur : 46 mm = (46 : 37,1) X 60 = 1 ' 14,39"
110° 28' 27,79" BT - 1' 14,39" = 11 Of' 27' 13,40" BT
Dari Selatan: 16 mm = (16 :37,1) X 60 = 25,87"
7° 30' LS - 25,87" = 7t' 29' 34,13" LS
Sehingga titik Triangulasi T. 932 terletak pada koordinat : I I0'' 27' 13,40" BT dan 7° 29' 34,13" LS. 1915
Pada hasil perhitungan Cara I dan Cara II terdapat selisih 0,13" untuk BT dan 0,05" untuk LS. Hal ini tidak jadi masalah karena masih dalam batas toleransi dan koreksi, yaitu kurang dari 1,00".
Untuk penggunaan peta 5' X 5', 10' X 10' dan 20' X 20' tetap menggunakan pembagi 37,1. Sebaliknya, Jika ada laporan dengan koordinat gralicule, maka cara menentukan lokasinya pada peta adalah (Contoh) "Satu unit SRU menempati sebuah lokasi dengan koordinat 110° 27' 13,27" BT dan 7° 29' 34,08" LS, tentukan lokasi SRU tersebut pada peta Sheet No. 47/XLI - B" JAWAB : Posisi peta 47/XLI -B : 110° 28' 27,79" BT sehingga 110° 27, 13,27" BT 1 10 "27' 13,27 1' 14,52" - 74,52"
74,52" : 1,62 = 46 mm dari timur, dan ukurlah dengan penggaris Batas Selatan : 7°30' sehingga didapat 7030' LS -7029' 34.08" = 25.92" 25,92" : 1,62 = 16 mm dari selatan dan ukurlah dengan penggaris Titik perpotongan kedua garis tersebut adalah lokasi dari SRU yang dimaksud, yaitu 46 mm dari sisi timur dan 16 mm dari sisi selatan berada di sekitar Tnangulasi T.932
Selengkapnya...

28 Januari 2008

Mengenal Bahaya di Gunung

Bahaya di gunung bukanlah hal baru bagi pendaki, dimana saja kita bisa menghadapi bahaya, karena resiko apapun bisa terjadi pada siapa saja. untuk itu kita perlu mengenal bahaya di pegunungan yang dibedakan menjadi :

a. Bahaya subyektif,
disebabkan oleh orang yang mendaki gunung sendiri.
b. Bahaya obyektif, disebabkan oleh gunung atau lapangan/alam itu sendiri.

Dalam praktek tidak mungkin mengadakan perbedaan eksas (pasti), karena banyak terjadi bahaya yang obyektif dibandingkan dengan bahaya subyektif, apabila orang melakukan kesalahan dan tidak ingat akan bahaya tersebut.

Barangsiapa sebelumnya mengetahui bahaya-bahaya yang obyektif seperti :
1. Kejatuhan batu
2. daerah-daerah yang berbahaya
3. petir
4. kabut
5. udara yang mendadak menjadi buruk

Maka dia akan dapat menghindari (tidak tentu) bahaya-bahaya tersebut.
Barangsiapa pada waktu akan terjadi bahaya, dengan cepat dan dengan cara yang benar menghindarkan diri dari bahaya-bahaya tersebut, ada harapan untuk hidup lama di pegunungan.

Bahaya-bahaya yang subyektif seperti :
1. keadaan atau lemah badan dari orang yang akan mendaki
2. pengetahuan dan pengalaman yang kurang merupakan unsur-unsur yang lebih rumit.

Dorongan hati untuk pegang peranan dan penyakit ingin dihormati oleh sesama orang, untuk menggantikan prestasi orang lain, membuat orang menjadi buta dan akan memiliki nasib yang tidak baik dipegunungan. Orang yang menderita tekanan jiwa, tidak boleh mendaki gunung. Perjalanan ke gunung yang sunyi dapat menimbulkan keajaiban.

a. Batu yang jatuh dari gunung, merupakan ancaman bahaya besar.

Hembusan angin yang kuat, hujan angin, menyebabkan batu-batu tersebut berjatuhan. Juga orang dan binatang, dapat menyebabkan batu-batu berjatuhan.
Pada masa sekarang ini dimana banyak perjalanan dilakukan di pegunungan, batu-batu yang berjatuhan, disebabkan oleh pendaki gunung yang kurang hati-hati, merupakan salah satu bahaya yang terpenting di pegunungan.
Pada batu karang yang banyak mengandung batu-batu lepas, merupakan bahaya yang lebih besar dari pada batu karang yang mengandung batu-batu tetap. Puing-puing yang banyak pada batu karang dan parit-parit yang sempit serta dalam, merupakan saksi dari batu-batu yang jatuh. Karena batu-batu yang jatuh itu disebabkan oleh belahan, parit-parit yang sempit dan dalam di tempat-tempat dan dalam di tempat-tempat tertentu, maka di tempat tersebut terjadilah bahaya yang lebih besar.

b. Apa yang kita kerjakan kalau ada petir?

Tempat-tempat khusus yang berbahaya bagi petir adalah :

    1. Tempat-tempat yang menonjol sperti : puncak, salib pada gunung, batu karang yang menonjol, pohon-pohonan, sungai-sungai. Batu karang pada umumnya lebih berbahaya daripada salju. Pada cuaca buruk, segera tinggalkan tempat-tempat tersebut.
    2. Segi tiga pada batu karang.

Perlindungan yang terbaik dari sambaran petir ialah : mengurungkan untuk berjalan atau lebih awal pulang.
Cuaca buruk jarang datang pada siang hari atau pada pagi hari. Pada waktu ada petir segera jongkok, duduk di atas tanah atau duduk diatas ransel atau tali yang sedang digulungkan dan menunggu sampai petir hilang.
Jangan sekali-kali bersembunyi dalam gua, imbang/bersender pada dinding.
Tempat-tempat itu sangat berbahaya, karena tanah yang meledak dan emosi. Kran air, kawat baja dan kawat berduri jangan sampai di sambar petir. Meskipun itu tidak secara langsung menarik logam, tetapi mengalirkan listrik (penghantar yang baik).

c. K a b u t

Kabut menimbulkan persoalan pada waktu kita mencari keterangan tentang tempat yang akan kita datangi. Kita harus membawa peta, kompas, meteran untuk mengukur tekanan udara. Pada waktu ada kabut tebal, kita harus percaya pada alat-alat kita itu.

d. Udara mendadak menjadi buruk

Keadaan udara yang mendadak menjadi buruk di pegunungan, harus mendapat perhatian yang serius. Pada perjalanan yang berat, kita mengambil resiko (kesempatan yang berbahaya) tentang udara yang mendadak menjadi buruk. Untuk perjalanan semacam itu, sebaiknya, menunggu cuaca yang baik.
Menunggu yang sabar, pada waktu pulang, keberanian, kewaspadaan dan perasaan bertanggung jawab, merupakan syarat bagi pendaki gunung.
Tanpa pertimbangan, begitu saja melakukan perjalanan, tidak lain hanya merupakan kebodohan saja. Barang siapa tidak mengenal bahaya, akan mejadi berani.

Selengkapnya...

Perlengkapan Dasar


A. Perlengkapan Jalan (untuk medan gunung hutan)

1. Sepatu

  • Mempunyai kegunaan sesuai dengan kebutuhan perjalanan.
  • Sesuai dengan bentuk dan ukuran kaki
  • Harus kuat untuk pemakaian yang berat

Untuk medan gunung hutan diperlukan sepatu :

  • Melindungi telapak kaki sampai mata kaki
  • Kulit tebal, tidak mudah sobek
  • Lunak bagian dalam, masih memberikan ruang bagi gerak kaki
  • Keras bagian depannya, untuk melindungi jari kaki (tidak dianjurkan memakai sepatu pekerja tambang, yang bagian depan sepatu sangat keras karena dilapisi dengan besi, selain berat juga akan merusak jari kaki jika ada perubahan suhu)
  • Bentuk sol bawahnya harus dapat menggigit tanah ke segala arah dan cukup kuat.
  • Ada lubang ventilasi, yang bersekat halus sehingga air dan udara lewat untuk pernafasan kulit telapak kaki.

2. Kaus Kaki
Yang perlu diperhatikan : menyerap keringat. Gunanya :

  • Melindungi kulit kaki dari pergesekan dengan kulit sepatu.
  • Menjaga agar kulit kita tetap dapat bernafas.
  • Menjaga agar kaki tetap hangat pada daerah yang dingin.

3. Celana Jalan
Yang perlu diperhatikan :

  • Kuat, lembut
  • Ringan
  • Tidak mengganggu gerakan kaki, jahitannya cukup longgar
  • Praktis
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Mudah kering, bila basah tidak menambah berat
    Bahan celana yang terbuat dari katun cukup baik, tidak terlalu tebal, tahan duri, mudah kering.

4. Baju Jalan
Yang perlu diperhatikan :

  • Melindungi tubuh dari kondisi seikitar
  • Kuat
  • Ringan
  • Tidak mengganggu pergerakan
  • Terbuat dari bahan yang menyerap keringat
  • Praktis
  • Mudah kering

5. Topi Lapangan
Yang perlu diperhatikan :

  • Melindungi kepala dari kemungkinan akibat duri
  • Melindungi kepala dari hujan, terutama kepala bagian belakang.
  • Harus kuat dan tidak mudah robek, untuk medan gunung hutan dianjurkan memakai topi rimba atau semacam topi Jepang.

6. Sarung Lapangan
Yang perlu diperhatikan :

  • Sebaiknya terbuat dari kulit
  • Bentuknya sesuai dengan tangan kita
  • Tidak kaku, artinya tidak menghalangi gerakan tangan.

7. Ikat Pinggang
Pilihlah yang terbuat dari bahan yang kuat, dengan kepala yang tidak terlalu besar tetapi teguh. Selain menjaga agar celana tidak kendur, juga untuk meletakan alat-alat yang perlu cepat dijangkau seperti pisau pinggang, tempat air minum, tempat alat-alat P3K, dll.

8. Ransel / Carrier

  • Ringan, Sejauh mungkin tidak merupakan tambahan beban yang berlebihan, terbuat dari bahan yang water proof.
  • Kuat, harus mampu membawa beban dengan aman, berdaya tahan tinggi, tidak mudah robek, jahitannya tidak mudah lepas, zippernya cukup kokoh, dsb.
  • Nyaman dipakai, dianjurkan agar memakai ransel yang mempunyai rangka, agar berat beban merata dan seimbang. Selain itu juga membuat kenyamanan karena adanya ventilasi antara tubuh/punggung dengan ransel.
  • Praktis, kantung-kantung tambahan serta pembagian ruangan akan memudahkan untuk mengambil barang-barang tertentu.

9. Peralatan navigasi
- Kompas, peta, penggaris segitiga, busur derajat, pensil, dll.

10. Lampu Senter

  • Dengan bola lampu dan baterai cadangan

11. Peluit

12. Pisau

  • Pisau saku serbaguna (multi blade) seperti Victorinox
  • Pisau pinggang
  • Golok tebas

B. Peralatan Tidur

  • Satu set pakaian tidur
  • Kaus kaki untuk tidur
  • Sleeping bag
  • Matras
  • Tenda/ponco/flysheet untuk bivak


C. Perlengkapan Masak dan Makan

  • Alat-alat makan
  • Alat pembuat api (lilin, spirtus, dll)
  • Kantung air / tempat air

Menyusun Perlengkapan Kedalam Ransel/carrier (Packing)

Nyaman, efisien, selain secara langsung ditentukan oleh desain ransel, juga banyak dipengaruhi cara menyusun barang (packing) kedalam ransel.

  • Tempatkanlah barang-barang yang lebih berat setinggi dan sedekat mungkin dengan badan. Barang-barang yang relatif lebih ringan (sleeping bag, pakaian tidur) ditempatkan dibagian bawah.
  • Letakkan barang yang sewaktu-waktu diperlukan diletakkan dibagian atas atau diletakkan dikantung-kantung luar ransel (ponco, P3K, kamera, dll).
  • Kelompokan barang-barang dan masukkan kedalam kantung-kantung plastik yang tidak tembus air, terutama pakaian tidur / cadangan, pakaian dalam, buku-buku, dll.


Perencanaan Perbekalan

Dalam perencanaan perjalanan, perencanaan perbekalan merupakan salah satu hal yang perlu mendapat perhatian khusus. Beberapa hal yang perlu diperhatikan :

  1. Lamanya perjalanan yang akan dilakukan
  2. Aktifitas apa saja yang akan dilakukan
  3. Keadaaan medan yang akan dihadapi (terjal, sering hujan, dsb)

Sehubungan dengan keadaan diatas, ada beberapa syarat yang harus diperhatikan dalam merencanakan perjalanan:
a. Cukup mengandung kalori dan mempunyai komposisi gizi yang memadai.
b. Terlindung dari kerusakan, tahan lama, dan mudah menanganinya.
c. Sebaiknya makanan yang siap saji atau tidak perlu dimasak terlalu lama, irit air dan bahan bakar.
d. Ringan, mudah didapat
e. Murah


Untuk dapat merencanakan komposisi bahan makanan agar sesuai dengan syarat-syarat diatas, kita dapat mengkajinya dengan langkah-langkah berikut :

  1. Dengan informasi yang cukup lengkap, perkirakan kondisi medan, aktifitas tubuh yang perlukan, dan lamanya waktu. Perhitungkan jumlah kalori yang diperlukan.
  2. Susun daftar makanan yang memenuhi syarat diatas, kemudian kelompokan menurut komposisi dominan. Hidrat arang, ptotein, lemak, hitung masing-masing kalori totalnya (setelah siap dimakan).
  3. Perhitungan untuk vitamin dan mineral dapat dilakukan terakhir, dan apabila ada kekurangan dapat ditambah tablet vitamin dan mineral secukupnya.

Catatan :

Kandungan kalori : hidrat arang 4 kal/gr
lemak 9 kal/gr
protein 4 kal/gr

Kalori paling cepat didapat dari :

1. Hidrat arang
2. lemak
3. protein

Kebutuhan kalori per 100 pounds berat badan (sekitar 45 kg)

1 Metabolisme basal 1100 kalori
2 Aktifitas tubuh :
  • Jalan Kaki
2 mil/jam 45 kal/jam
3 mil/jam 90 kal/jam
4 mil/jam 160 kal/jam
  • Memotong kayu/tebas
260 kal/jam
  • Makan
20 kal/jam
  • Duduk (diam)
20 kal/jam
  • Bongkar pasang ransel, buat camp
50 kal/jam
  • Menggigil
220 kal/jam
3 Aktifitas dinamis khusus = 6 - 8 % dari 1 dan 2
4 Total kalori yang dibutuhkan = 1 + 2 + 3


Jenis Bahan Makanan dan Macam Makanan

Sumber kalori dari hidrat arang tiap 100 gram

Beras giling 360 kal Nasi 178 kal
Havermout 390 kal Kentang 90 kal
Singkong 140 kal Macaroni 363 kal
Maizena 343 kal Roti 248 kal
Tape singkong 173 kal Gaplek 363 kal
Biskuit 458 kal Sagu 353 kal
Terigu 365 kal Ubi 123 kal
Gula pasir 364 kal Gula aren 368 kal
Madu 294 kal Coklat pahit 504 kal
Coklat manis 472 kal Coklat susu 381 kal

Sumber Protein (tiap 100 gram)

Tempe 119 kla
Kacang tanah rebus dengan kulit 360 kal
Telur ayam 162 kal
Telur bebek 189 kal

Sumber protein dan lemak (tiap 100 gram)

Corned 241 kal
Daging asap 191 kal
Dendeng 433 kal
Sardens 338 kal

Menu makanan satu hari :

Mie 1.5 gelas 335 kal
Susu kental manis ½ gelas 336 kal
Dodol ½ ons 200 kal
Coklat 1 ons 472 kal
Nasi 2 ons 360 kal
Roti 1 ons 248 kal
Biscuit 1 ons 458 kal
Corned ½ ons 120 kal
Dendeng 1 ons 433 kal
TOTAL 2962 kal

Perlengkapan Perorangan :

1. Carrier / Ransel
2. Matras
3. Rain coat / ponco
4. Sleeping Bag
5. Perlengkapan makan & minun
6. Baju hangat / jaket + baju ganti (cadangan)
7. Sepatu gunung + kaos kaki cadangan
8. Senter (Baterai + bohlam cadangan)
9. Kupluk + topi rimba, sarung tangan
10. Obat-obatan pribadi
11. Kompas, webbing, tali
12. Logistik
13. Lilin
14. Pisau serba-guna / Victorinox

Perlengkapan Team :

1. Tenda
2. Peralatan masak
3. P3K
4. Trash Bag
5. Golok Tebas
Selengkapnya...

Ayo Belajar

Teknik Dasar Alam Bebas

"Setiap tahun banyak sudah korban berjatuhan disetiap pendakian....takdirkah? atau karena
ulah manusianya sendiri?"

Berita duka datang silih berganti. Banyak rekan-rekan pendaki mengalami musibah maut dalam kegiatan alam bebas ini. Orang mungkin bisa saja mengatakan itu adalah 'takdir'. Ya...itu memang sudah kehendak Yang Maha Kuasa, tapi manusia juga ikut menentukan takdirnya sendiri. Adakah yang salah?

Bila kita perhatikan gejala para pendaki lokal (memang tidak semuanya), mereka melakukan pendakian lebih banyak mengandalkan tenaga dan keberanian atau bisa dibilang nekat. Padahal dalam melakukan pendakian banyak hal yang perlu diperhatikan.

Itulah mengapa ada yang dinamakan Manajemen Perjalanan/Pendakian. Segala sesuatunya harus diatur dan dianalisa. Walupun kita hanya melakukan pendakian biasa bukan sebuah expedisi. Namun Manajemen Perjalanan harus tetap diterapkan. Bahkan hal-hal kecilpun harus dipikirkan.

Bila saja para pendaki memahami dasar-dasar manajemen perjalanan, maka akan semakin meminimalkal musibah dan korban kegiatan alam bebas ini. Kebanyakan korban yang jatuh akibat bahaya subjektif (dari diri sendiri). Ini disebabkan kurangnya pemahaman tentang Manajemen Perjalanan dan teknik hidup di alam bebas.

Dan satu hal yang juga penting adalah menjaga ahlak kita, bagaimana kita bersikap terhadap alam, karena kadang faktor 'X' pun bisa menjadi sebabnya.


Selengkapnya...