Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Catatan Pribadi. Tampilkan semua postingan

24 Februari 2011

Sebuah Petuah Untuk Anak


Anakku… Tak seorangpun akan menolongmu di dunia ini.
Maka jelajahilah puncak-puncak gunung itu, dan kembalilah.
Hanya itu yg akan membuatmu perkasa.
Anakku… Ketahuilah bahwa tak seorangpun di dunia ini yg dpt kau sebut sbg sahabat sejati...
”
Tidak juga ayahmu, ibumu, bahkan saudara-saudaramu.
Tanganmu, kakimu, rambutmu, pandanganmu adalah sahabatmu.
Suatu kali kau harus menghadapi seorang yg menganggapmu musuh.
Saat kau berhadapan dengan mereka, kau hanya perlu merasa berani berada tepat di depan wajahnya.

Kau harus siap bahwa mungkin ia akan mrasa sakit atau menang.
Saat itu kau harus percayalah bahwa sesungguhnya keberanian bukanlah masalah menang atau kalah.
Suatu kali pula kau akan brada di tengah mereka yg menderita.
Jangan pernah terlambat untuk membantu mereka melebihi dari sgala kemampuan yg kau miliki.
Kita tak pernah tau, bahwa mungkin saja kemanapun kau pergi,
alam akan mendengar mereka bercerita sebuah kisah tentang dirimu.
Oleh karena itu, aku berkata padamu.. “Pilihlah jalan terjal mendaki itu, tapi bukan jalan yg nyaman ini.(kutipan dari Going to the Montain)
Selengkapnya...

24 April 2010

Benarkah Mendaki Gunung itu Nikmat

Banyak orang masih bertanya-tanya sampai sekarang,” Apa sih enaknya naik gunung?” Badan capai, dingin, lapar, dan bisa mati juga. Seperti orang kurang kerjaan saja. Tapi, sebenarnya kalau kita tahu trik-trik dalam pendakian gunung. Kegiatan ini ternyata bisa juga dinikmati dan aman-aman saja selama kita tahu batas kemampuan diri sendiri.


Pertama kali yang harus di ketahui dalam perjalanan pendakian gunung adalah bagaimana teknik berjalan. Tentu agak aneh juga kedengarannya. Setiap orang yang punya kaki dan tidak lumpuh pasti bisa berjalan, terus apalagi yang harus dipelajari?

Keseimbangan. Inilah jawaban mengapa kita wajib belajar lagi tentang teknik berjalan di gunung. Di sana, cara berjalan kita tak sama seperti saat kita berjalan di jalan-jalan perkotaan. Di gunung kita harus membawa banyak beban di punggung kita. Kemudian ditambah faktor medan perjalanan yang kadang harus mendaki punggungan-punggungan gunung yang curam, atau melintasi lembah panjang tak bertepi, bahkan kadang-kadang menuruni ceruk-ceruk dalam yang teramat kelam pada akhirnya. Dengan situasi medan seperti itu ditambah dengan beban berat di punggung, maka faktor keseimbangan tubuh adalah mutlak untuk dipelajari.

Maka itu diperlukan harmoni untuk mencapainya. Aturan napas dan gerak langkah haruslah seirama satu sama lainnya. Seperti juga dalam sebuah orkes simfoni, keterpaduan antara pengaturan permainan napas yang disingkronkan dengan gerak langkah yang tidak kaku menjadi sebuah harmonisasi nada tersendiri. Dan jadikan gerak melangkah dalam perjalanan itu sebuah seni tersendiri.

Memang benar ada beberapa prinsip dalam berjalan yang harus dituruti. Seperti melangkahlah dengan langkah-langkah kecil saja. Sebab langkah yang terlalu lebar membuat beban yang dibawa menjadi hanya bertumpu pada satu kaki saja, sehingga membuat keseimbangan kaki menjadi gampang goyah. Selain itu keuntungan lain yang
didapat dengan melangkah kecil-kecil adalah membuat napas lebih mudah diatur. Hal ini berdampak langsung pada sistem penghematan tenaga yang terbuang.

Memang efek samping yang paling kentara dari berjalan dengan langkah kecil ini adalah melambatnya irama jalan. Tapi itu lebih baik adanya daripada berjalan cepat-cepat tapi banyak istirahat yang dibutuhkan. Sedangkan parameter yang dapat dijadikan pegangan untuk mengetahui sampai batas seberapa kita melebihi irama jalan adalah saat kita mulai merasa sulit berbicara dengan rekan seperjalanan. Ini biasanya disebabkan karena irama napas yang mulai tidak teratur dan hal tersebut menjadi tanda bahwa berarti kita berjalan terlalu cepat.

Teknik Istirahat
Buat seorang pehobi mendaki gunung berpengalaman, berjalan terus-menerus selama dua sampai tiga jam tanpa istirahat bukanlah berat. Tingginya jam jalan dan latihan yang terus-menerus membuat stamina dan kekuatan seperti itu bisa diperoleh. Buat ukuran kita, para awam dapat berjalan satu jam terus-menerus dengan diselingi istirahat selama sepuluh menit adalah wajar.

Saat istirahat juga banyak faktor yang harus diperhatikan. Seperti, duduklah dengan kaki menyelonjor lurus ke depan. Karena hal ini dapat melancarkan kembali aliran darah yang sebelumnya hanya terpusat ke kaki. Usahakan cari tempat yang tidak terlalu berangin, karena angin dapat mengerutkan otot yang sedang beristirahat tersebut. Minum air yang berenergi dan bukalah sedikit makanan ringan yang kita bawa, untuk mempercepat proses recovery pada tubuh.

Pendapat yang mengira bahwa meneguk minuman keras di gunung itu baik adalah salah adanya. Memang kehangatan bisa kita dapat dari minuman tersebut tapi pembuluh darah dalam kulit menjadi mengembang dan memberi kesempatan udara dingin masuk ke dalam tubuh. Kehangatan sesaat yang kita terima tidak seimbang dengan akibat setelahnya, yaitu kedinginan dalam jangka waktu lama. Lagipula tak baik bila meminum minuman keras bila sedang dalam berjalan di gunung, selain bisa mengakibatkan mabuk yang bisa berdampak bahaya untuk si pendaki sendiri.

Atur waktu istirahat, jangan terlalu lama juga. Selain sayang pada otot-otot kaki yang sudah memanas dan kencang menjadi mengendur karena kelamaan istirahat. Tapi, bila dirasakan Anda memerlukan istirahat lebih lama dari biasanya itu pertanda Anda berjalan terlalu cepat. Dan bila tiba-tiba tiap setengah jam atau kurang Anda merasa membutuhkan istirahat itu berarti pertanda tubuh kita sudah terlalu lemah dan lelah.

Masalah kelelahan ini haruslah dipertimbangkan masak-masak. Bila hal ini terjadi tak jauh dari puncak tempat tujuan mungkin kita bisa memaksakan untuk mencapainya. Tapi, bila terjadi di tengah perjalanan dan puncak tempat tujuan kita masih terasa jauh dari depan mata lebih disarankan mengambil istirahat panjang, kalau perlu dirikan tenda untuk beristirahat.
Memilih lokasi istirahat juga harus memperhatikan banyak hal. Pilihlah lokasi istirahat yang memiliki pemandangan indah, karena paling tidak secara psikologis menikmati pemandangan dapat mengurangi perasaan lelah yang timbul selama dalam perjalanan. Makan dan minum secukupnya, kalau perlu dimasak dahulu agar hangat dan segar. Baik juga kalau kita memakan sedikit garam untuk menghindari keram.

Medan
Selanjutnya yang perlu diperhatikan saat berjalan di gunung adalah memperhatikan betul medan yang akan kita tempuh. Medan yang berumput dan terjal kadang membahayakan, apalagi saat basah karena hujan atau embun pada pagi hari. Bila kita tak berhati-hati melewatinya, tergelincirlah akibatnya. Apalagi bila kita memakai sepatu yang tidak mempunyai sol ber-‘kembang’ yang layak. Sama juga seperti pada medan yang berlumpur dan becek, cenderung licin dan berbahaya.

Di daerah yang penuh kerikil dan batu-batu tajam disarankan berhati-hati dan tidak bertindak ceroboh. Tidak berbeda juga di saat kita menemui daerah dengan batu-batu besar seperti saat di sungai. Kalau bisa melompat dari satu batu ke batu lainnya lebih disarankan. Tapi ini memerlukan kecepatan gerak dan ketepatan dalam melangkah, karena kadang batu tempat kita berpijak sudah bergulir saat kita akan pindah ke batu yang lain.

Faktor kelelahan dan pengalaman juga bisa menjadi acuan bila ingin meloncat-loncat seperti ini. Bila kita sudah terlalu lelah cara yang paling aman adalah dengan menaiki satu per satu batu-batu tersebut dan memeriksa dahulu batu-batu yang akan dipijak agar tidak bergulir nantinya.
Lain lagi bila menemui daerah dengan karakter berpasir. Berjalan mendaki di daerah seperti ini lebih sukar daripada berjalan di atas tanah keras. Setiap kali dua kali melangkah ke atas tanah akan melorot ke bawah sebanyak satu langkah. Kadang-kadang perlulah menyepakkan kaki agar tanah memadat dan tidak melorot lagi. Bila kita menjadi orang kedua kita bisa mempergunakan jalur yang pernah dilalui orang pertama, hal ini bisa menghemat tenaga karena tanah berpasir bekas jejak menjadi lebih padat dan keras.

Juga jangan cepat percaya pada pepohonan kecil-kecil yang berada di pinggir-pinggir tebing. Seringkali pohon tersebut tak cukup kuat untuk menahan tubuh kita, sehingga gampang tercabut saat kita memakainya untuk menahan bobot badan. Pakailah pohon-pohon tersebut hanya sebagai keseimbangan saja.

Jangan terburu-buru mengambil keputusan memotong lintasan yang sudah ada. Memang kadang lintasan tersebut terasa jauh bila kita melewatinya. Tapi percayalah, hal tersebut biasanya dikarenakan faktor mengikuti bentukan alam yang ada di daerah tersebut. Memang itu adanya jalur yang terbaik. Juga biasanya jalur-jalur memotong itu lebih sulit adanya, lebih baik jalan sedikit melingkar tapi dapat menghemat tenaga daripada mengikuti lintasan memotong tapi terkuras tenaga.

Jadi, patut diulang lagi. Ucapan-ucapan yang mengatakan bahwa naik gunung itu susah adalah bohong belaka. Ternyata kita bisa menikmatinya, dan bahaya-bahaya yang timbul di sana sebenarnya bisa diminimalkan dengan cara meningkatkan pengetahuan tentang kegiatan tersebut. Dan dengan menjadikan sebuah perjalanan menjadi sebuah seni adalah cara tersendiri dalam menikmati ciptaan-Nya.
Selengkapnya...

04 Mei 2009

SELOREJO, AIR TERJUN SUSUN TIGA YANG MASIH ALAMI

Jika anda pelesir ke telaga Ngebel, Ponorogo belum lengkap kalo tidak menyaksikan pemandangan alam berupa air terjun yang diberi nama Selorejo disisi timur telaga ini. Jaraknya sekitar 10 km dari telaga Ngebel, Secara administratif terletak di desa Pupus Kecamatan Ngebel Kabupaten Ponorogo atau masuk dalam kawasan hutan di RPH Toyomerto, BKPH Wilis Barat, KPH Lawu Ds.


Air terjun Selorejo walaupun tidak terlalu tinggi, namun mempunyai keunikan tersendiri dan berbeda denga air terjun lainnya, selain masih alami dan jarang dikunjungi wisatawan kecuali pelancong local, air terjun ini memiliki tiga dinding air terjun. Dinding paling atas mempunyai ketinggian 31 meter, sedang dinding air terjun ditengah sekitar 15 meter dan yang paling bawah kurang lebih 13 meter. Apabila ditarik garis lurus secara simetris dari bawah maka akan terlihat tiga baris dinding air terjun, yang sangat menakjubkan, dan tidak akan anda temui di tempat lain.

Untuk menunjukkan bahwa tempat ini masih alami, sengaja belum dibangun berupa fasilitas-fasilitas pengunjung seperti shelter dan lainnya, meskipun begitu untuk masuk lokasi ini harus melapor kepada Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH) setempat yang sudah bekerjasama dengan pihak Perhutani KPH Lawu Ds. , karena untuk menuju lokasi harus berjalan kaki sekitar 750 meter, sehingga pengunjung harus menitipkan kendaraan yang hanya dikenai tarip penitipan sebesar Rp. 1.000,- sedangkan untuk masuk lokasi pengunjung dikenakan biaya Rp. 1.500,-

Dari area penitipan motor, jalan setapak yang kanan kiri terdapat tanaman pinus dan sela-selanya ditumbuhi kopi milik warga, jalannya cukup licin apalagi jika hujan turun, untuk itu dibutuhkan kewaspadaan terutama jika sudah hampir sampai di air terjun.

Ketika perjalanan sudah mendekati air terjun dan terdengar suara gemericiknya, rasa lelah yang tak begitu payah akan tergantikan oleh pemandangan alami yang tak dapat ditemui ditempat lain. Namun bila ingin menyinggahi semua air terjun dan menyaksikan keindahannya dari dekat dapat menyimpang jalan ke kanan sebelum ke air terjun paling atas. Kemudian setelah berjalan sekitar 30 meter akan menemukan persimpangan yang kiri ke air terjuan tengah sedang kekanan menuju air terjun paling bawah.

Jalan menuju air terjun paling atas lebih mudah dari pada jalan yang menuju ke air terjun tengah dan bawah, karena jalannya masih berupa alur aliran air yang curam dan licin. Tetapi bila anda sudah pernah menikmati keindahan alam disekitar air terjun Selorejo, pasti akan menjadi catatan perjalanan yang menyenangkan, karena keindahan alamnya masih alami dengan suasana yang sejuk (M. Djaelani)
Selengkapnya...

27 April 2009

Pendakian Gunung Raung 3332 Mdpl


Catatan Perjalanan 12 Tahun Silam

Sebagai gambaran umum bahwa Gunung Raung merupakan Strato Volcano yang secara geografis terletak pada tiga Kabupaten yaitu, Bondowoso, Jember dan Banyuwangi, menurut catatan yang ada gunung ini pernah meletus sebanyak 58 kali dengan rata-rata letusan terdasyat menghasilkan guguran lava hingga 60 km. Akibat letusan yang berurutan tersebut pada tahun 1586, 1593, 1597, 1638, 1730, 1817, dan 1938, telah memunculkan danau-danau kawah. Sedangkan letusan terdasyat terjadi pada tahun 1638, yang mengakibatkan banjir lahar pada kali Klatak dan Setail dan merenggut nyawa lebih dari 1000 orang tewas.


Seperti catatan sebelumnya, untuk menuju gunung Raung dari jalur normal harus melalui Sumber Wringin dan saya telah banyak bercerita tentang pondok motor pada catatan sebelumnya, untuk menuju Sumber Wringin dari terminal Bondowoso, oper menggunakan Minibus menuju Wonosari dari pertigaan jalan yang membelah arah ke Gunung Raung dan Gunung Ijen.

Dari pertigaan itu atau di pasar Sukosari dapat dilanjutkan menggunakan angkudes menuju Sumber Wringin, yang terletak dilereng utara gunung Raung. Dari tempat inilah Pendaki dapat mempersiapkan perbekalan terutama air, karena sepanjang perjalanan ke gunung Raung hingga sampai puncak tidak akan ditemukan sumber mata air.
Perijinan secara administrasi juga dilakukan di kantor desa ini yang juga merupakan Pos Vulkanologi, sesudah itu perjalanan dapat dilanjutkan menuju Pondok Motor yang berjarak sekitar 7 km dapat menggunakan ojek atau berjalan kaki selama 2 jam melewati hutan pinus dan perkebunan kopi milik penduduk akan sampai di Pondok Motor. Cerita tentang pondok Motor dapat dibaca pada catatan sebelumnya.

Kami berempat melakukan perjalanan dari Pondok Motor dengan persiapan yang sangat cukup dan kondisi kesehatan yang stabil. Dari Pondok Motor kami mulai menerobos perkebunan kopi milik penduduk, jalannya masih landai kira-kira 20 derajat, beberapa menit kemudian kami masuk dalam kawasan Hutan Raya Raung yanag didominasi pohon glendong, arcisak dan takir. Setelah melewati ini kami menemui sebuah persimpangan jalur yang kekiri menuju Gunung Suket dan kami mengambil jalur lurus menuju Raung. Lintasan mulai terasa naik turun ketika sudah berada pada ketinggian 1.300-1.600 mdpl. Dari Pondok Motor menuju Pos II atau Pondok Sumur ini memakan waktu 2-3 jam.
Pondok Sumur merupakan dataran pada ketinggian 1750 mdpl, dari sini perjalanan terasa mulai menanjak, dengan membawa beban masing -masing sekitar 15 kg di punggung, perjalanan mulai terasa lambat, semakin naik jalanpun makin kelihatan sempit akibat tertutup semak-semak rimbun , sekitar dua jam berjalan sampailah kami di Pondok Dhemit, yang hanya bertandasebuah papan nama yang menempel di pohon.

Dengan nafas tersengal-sengal kami berhenti dan melemparkan ransel ketanah, setelah jantung agak reda berdegup kuambil botol air dan meneguknya, rasa segar terasa ketika menarik nafas dalam-dalam sambil berteriak. Di Pondok Dhemit ini kami hanya beristirahat sebentar dan perjalanan akan dilanjutkan menuju Pondok Mayit. Menurut informasi, dari Pondok Dhemit ke Pondok Mayit, perjalanan membutuhkan waktu sekitar 2 hingga 3 jam. Jalur lintasan dari pondok Dhemit ke Pondok Mayit tak jauh beda dengan lintasan sebelumnya, namun setelah kita mau memasuki Pondok Mayit, pemandangan mulai berubah karena kawasan Pondok Mayit ini mulai terlihat tanaman edelweiss atau bunga abadi, karena memang bunga ini walaupun sudah dipetik tetap tak layu seperti bunga lainnya.

Setelah beristirahat sekitar 15 menit, perjalanan kami lanjutkan menuju Pondok Mantri yang merupakan sebuah dataran pada ketinggian 2.750 mdpl, ini merupakan dataran terakhir. Pondok Mantri ini ditumbuhi tanaman-tanaman kerdil seperti Anggrek Gunung, Cantigi dan lainnya dari Pondok mayit ke Pondok Mantri sebenarnya tak seberapa jauh, karena perjalanan hanya membutuhkan waktu sekitar 30 menit, disinilah kami bermalam, bagi tugaspun dimulai, Saya dan Arif siap memasak sedang Subi dan Doel mendirikan tenda, tak lama kemudian selesailah tugas tersebut, kami mulai minum teh panas bersama, maklum angin disini lumayan kencang dan hawanya mulai terasa dingin.

Pagi harinya setelah sarapan pagi kamipun berkemas untuk melanjutkan perjalanan menuju puncak, karena medannya menanjak dan licin kami putuskan untuk tidak membawa beban kecuali air minum dan kamera. Barang-barang kami tinggalkan di Pondok Mantri.
Pondok Mantri atau biasa disebut dengan Pos Parasan in, terletak diatas batas vegetasi antara daerah tundra dengan daerah berbatu pasir. Meski tak seterjal Pasir Gunung Semeru, jalur ke puncak Raung ini juga rawan terhadap angin kencang, untuk itu kami selalu berdekatan terus bersama empat orang teman, angin kencang ini sangat membahayakan karena lintasan ini berbatu kerikil yang licin. Dalam perjalanan ke puncak ini terdapat tugu kecil batu marmer In Memoriam bernama Deden Hidayat, seorang pendaki asal Bandung yang meninggal di Puncak Raung pada tahun 1993. Selepas tugu itu sikitar 30 menit kami sampai di Puncak Gunung Raung di ketinggian 3.332 mdpl.

Puncak Raung tidak terlalu lebar seperti puncak-puncak lainnya, karena berbentuk bibir kawah yang sempit dan dari sini kita bisa melongok kawah Raung yang memiliki Kawahnya terbesar diantara gunung-gunung di Pulau Jawa dengan diameter hampir 2 km dan kedalaman vertikal 500 m, di mana di tengah kawah menjulang setinggi kurang lebih 100 meter dan selalu mengeluarkan kepulan asap putih berbau belerang (Djel).

Selengkapnya...

Cerita Usang di Pondok Motor (2) habis


MBAH SERANI, NAMANYA TETAP DIINGAT PARA PENDAKI


Mbah Serani tinggal sebuah nama yang cukup dikenal para pendaki saja, beliau adalah dikenal sebagai juru kunci Gunung Raung, beda dengan Mbah Maridjan sang juru kunci Gunung Merapi yang sudah terkenal hingga menjadi bintang iklan salah satu minuman berenergi.
Mbah Serani hanya dikenal oleh para pendaki dan masyarakat sekitar, bahkan setelah beliau meninggal dunia, namanya hingga sekarang masih disebut, khususnya para pendaki yang akan melakukan perjalanan melalui jalur Sumber Wringin. Bahkan banyak para pendaki pemula mengira bahwa Mbah Serani itu masih hidup.
Pada tahun 1997 saat kami melakukan pendakian yang sama dengan tahun sebelumnya, saya tak pernah berfikir bahwa kelak perjalanan ini akan menjadi sebuah catatan pribadi saya. Tidak ada data yang pasti menyebutkan siapa sebenarnya Mbah Serani, namun yang jelas Keramahannya sangat terkenal di Sumber Wringin, hampir tak ada orang yang tak mengenalnya di desa ini, bahkan ketika kami sampai di desa ini, seperti biasanya tak melewatkan ke warung pojok desa Sumber Wringin untuk ngopi dan mengisi air sebagai bekal persiapan pendakian.


Beberapa orang yang kebetulan nongkrong di warung menanyai saya, “Mas sudah pernah kesini belum”, saya jawab sudah pak tahun kemarin. Pasti sudah tahu Mbah Serani kan, tambah seorang disebelah saya sambil menyedot dalam-dalam rokok kreteknya. Iya sudah pak, tapi belum pernah tahu orangnya, kataku pura-pura tidak tahu. “Orangnya memang sudah meninggal tapi kalau mau ke Pondok Motor ya bilang aja mau ke Mbah Serani” katanya menyarankan. Iya terima kasih pak, jawabku.
Dari obrolan inilah sedikitnya kami memperoleh gambaran tentang Mbah Serani, tentang perannya sebagai juru kunci Gunung Raung, banyak sudah yang dilakukan Mbah Serani khususnya membantu mencari korban yang hilang atau meninggal di Gunung Raung. Keramahan dan keikhlasan hatinya sebagai juru kunci bahkan tak tergantikan oleh orang lain.
Walaupun saat ini saya tidak pernah lagi kesana selepas 1997, namun saya masih tetap mendengar nama Mbah Serani selalu disebut oleh pendaki yang akan melakukan pendakian di Gunung Raung. Menurut cerita seorang senior saya, bahwa Mbah Serani Selalu terbuka oleh semua pendaki yang akan bermalam di Gubuknya (Pondok Motor), bahkan beliau selalu menyediakan makanan yang ada untuk para tamunya ini, walalupun dia sendiri sangat membutuhkannya. Dari situlah para pendaki selalu membalas budi baiknya, biasanya para pendaki yang sudah turun selalu meninggalkan sisa bekalnya di Pondok Motor. Bekal-bekal yang ditinggalkan itulah yang di olah untuk para tamunya oleh Mbah Serani, siklus seperti itu terus berlangsung hingga Mbah Serani tiada dan dilanjutkan oleh dua nenek renta seperti yang saya ceritakan di catatan ini bagian pertama.
Selepas tahun 1997 saya sudah tidak pernah mendengar lagi cerita dari Pondok Motor, dan saya masih teringat dengan jelas keramahan dua orang nenek yang menggantikan Peran Mbah Serani ketika kali pertama saya bermalam di gubuknya.
Ketulusan dan kerendahan hatinya patut menjadi tauladan bagi kita semua, bahwa berbuat kebaikan suatu saat akan menuai kebaikan pula, jika tidak di dunia pasti akan dibalas di akhirat, mungkin itulah yang tersirat dalam makna perjalanan kami.
Seperti kata pepatah Gajah mati meninggalkan gading, Manusia mati meninggalkan Nama, mungkin karena kebaikannya itulah hingga namanya tetap dikenang oleh banyak orang.
Selengkapnya...

26 April 2009

Cerita Usang di Pondok Motor (I)


Pondok Motor adalah Pos pendakian terkahir di Gunung Raung terletak di desa Sumber Wringin, Sukosari Kabupaten Bondowoso. Saat kali pertama tahun 1996 saya bersama tiga orang teman mendaki Gunung Raung tersebut telah menyisakan sedikit cerita di Pondok Motor. Saya coba untuk mengingat kembali perjalanan saya 12 tahun silam yang hampir terlupakan dan menulisnya dalam catatan ini.

Sebagai gambaran umum bahwa Gunung Raung memiliki ketinggian 3.328 mdpl, atau disebut dengan Puncak Sejati, merupakan gunung diujung timur Pulau Jawa. Kawahnya terbesar diantara gunung-gunung di Pulau Jawa dengan diameter hampir 2 km dan kedalaman vertikal 500 m, di mana di tengah kawah menjulang setinggi kurang lebih 100 meter dan selalu mengeluarkan kepulan asap putih berbau belerang.

Pada tahun itu untuk mendaki Gunung Raung hanya dapat melewati Sumber Wringin dengan Pos Terakhir Pondok Motor, namum pada awal tahun 2000an banyak para Pendaki membuat jalur yang tak lazim, diantaranya tahun 2002 Pataga Untag berhasil membuat jalur baru, via Glenmore dan selanjutnya disusul tim Mapala UI juga menyisir gunung ini melewati desa Kalibaru Banyuywangi yang jalurnya sangat berat untuk dapat sampai di Puncak Sejati.

Memang sudah lama tak pernah menyambangi gunung ini, untuk itu saya ingin menulis saja sebagai catatan pribadi. Sebenarnya hanya dua kali saya mendaki Gunung Raung dengan jalur normal yaitu via Sumber Wringin, itupun sudah lama saya lakukan bersama tiga orang teman, kali pertama tahun 1996 dan kedua tahun 1997. semoga catatan ini dapat dirasakan untuk mengenang kembali dan mengingat perjalanan 12 tahun silam, dengan harapan teman-teman yang pernah ikut mendaki bersama-sama yaitu Subi, Doel, Arif , tersenyum jika membaca catatan Cerita Usang di Pondok Motor.

Memang tidak ada persiapan khusus waktu itu, karena hampir tiap bulan kami selalu melakukan kegiatan rutin pendakian hingga dua kali dalam sebulan, hanya seputar informasi yang kami butuhkan yaitu karakteristik gunung tersebut. Informasi kami dapatkan dari teman-teman yang pernah mendaki gunung tersebut dan literatur buku, maklum waktu itu kurang kenal dengan namanya Browsing atau Surfing di Internet..ketinggalan jaman kalee.

Setelah Informasi yang dibutuhkan cukup kamipun berbagi tugas, utamanya perlengkapan kelompok seperti tenda, kompor, tempat air dan lain-lain. Maklum untuk urusan perlengkapan pribadi menjadi urusan masing-masing. Setelah persiapan sudah beres, seperti biasanya janjian ketemu di terminal Bungurasih Surabaya.

Berangkatlah kami berempat naik bus menuju Probolinggo dan oper bus jurusan Bondowoso, dari terminal Bondowoso kami masih harus oper dengan Minibus ke pasar Sukosari dan dari pasar ini dilanjut naik angkudes menuju Sumber Wringin, yang merupakan desa kecil namun cukup ramai penduduknya. Tepat diujung kampung ini terdapat sebuah warung makan kecil, disinilah kami berhenti dan sedikit ngobrol sambil minum kopi dengan beberapa orang yang kebetulan nongkrong di warung tersebut.
Menurut penduduk sekitar kami disarankan membawa Air yang banyak bahkan kalau perlu membawa cadangan minum, karena selepas desa ini tak bakal ditemukan air lagi. Sebelumnya kami sudah mendapat informasi tentang itu, makanya sudah disiapkan masing-masing membawa jurigen isi 5 liter plus 2 botol air kemasan isi 1,5 liter, jika ditotal 4 orang membawa air sebanyak 24 liter. Perjalanan ke gunung inipun kami rencanakan bermalam selama 4 hari di gunung sungguh waktu yang sangat longgar dan santai sehingga dapat menikmati perjalanan.

Setelah mengisi buku tamu dibalai desa waktu itu kami dimintai membayar iuran sukarela, kala itu kami memberikan sebesar Rp. 5.000 untuk 4 orang. Karena sudah sore kami disarankan agar perjalanan sementara sampai di Pondok Motor. Sebenarnya dari Sumber Wringin bisa ditempuh menggunakan Ojek, namun kami memilih untuk berjalan sekitar 7 KM hingga sampai di Pondok Motor.

Pondok Motor merupakan bangunan sederhana berdinding kayu yang sudah lubang-lubang, beratap seng yang disanggah beberapa tiang kayunya yang sudah kusam dan tak terawat, ada 2 kamar yang biasanya digunakan para pendaki untuk bermalam yang cukup untuk 4 orang, namun didepan bangunan terdapat teras dan bisa didirikan tenda. Penunggu Pondok Motor di kenal dengan MBAH SERANI, nama itu sangat melegenda di desa Sumber Wringin bahkan kalangan Pendaki hingga sekarang masih menyebut Pondok Motor identik dengan nama MBAH SERANI.

Ketika kami berempat sampai di Pondok Motor, tempat ini ditunggui dua wanita renta yang mengaku adik dan kerabat dari Mbah Serani. Sungguh luar biasa dua orang wanita renta sekira berumur diatas 70 tahunan ini bertahan hidup di tengah kesunyian dan jauh dari keramaian. dua orang nenek ini tidak bisa berbahasa Indonesia ataupun Jawa, namun dari logatnya ketahuan bahwa nenek-nenek ini menggunakan bahasa Madura.
Sikapnya sangat ramah dan bersabahat sekali dengan para pendaki, saat kami baru sampai dan minta ijin agar diperbolehkan bermalam di Pondok Motor, ternyata dua nenek ini tak lama kemudian sudah menyiapkan hidangan untuk makan malam walaupun berupa mie instan dan nasi putih satu bakul, kami merasa sangat diperlakukan istimewa. Dengan logat Maduranya nenek ini mempersilahkan kami untuk menyantapnya. Saya memang tidak mengerti dengan apa yang dikatakan, untunglah salah satu teman yaitu Subi sangat fasih dengan bahasa Madura sehingga komunikasipun tetap nyambung.

Esok harinya sebelum berangkat mendaki, dengan Subi inilah nenek ini banyak cerita yang saya dan dua teman lainnya tak faham apa yang tengah diperbincangkan. Dari Subi inilah kami baru tahu bahwa Mbah Serani itu sebenarnya sudah meninggal 3 tahun lalu dan gubuk kecil beratap jerami tepat didepan Pondok Motor itu adalah Makam Mbah Serani. Padahal semalam saya tidur persis didepannya, dan sebelum Subi bercerita tentang apa yang diperbincangkan dengan nenek tersebut, saya lebih dahulu cerita kalo semalam bermimpi bahwa saya mengikuti tahlilan di Pondok Motor, saya seperti mengenal satu-persatu orang yang datang ke Pondok Motor. Ternyata Mimpi saya tak jauh dari cerita Subi bahwa besok adalah 1000 hari Mbah Serani. Seandainya saya tahu bahwa didepan itu adalah makam mungkin saya menghindar untuk tidur didepannya.

Ternyata benar mimpi semalam adalah isyarat bahwa ditempat ini akan diadakan tahlillan mengenang seribu hari Mbah Serani. Subi berbisik bahwa nenek ini minta bantuan untuk kegiatan tersebut, kamipun mengumpulkan beberapa lembar uang puluhan ribu, dan diserahkan ke nenek tersebut, "Terima kasih banyak ya nak semoga kalian selamat dalam perjalanan", demikian kata salah satu nenek ini kepada kami dengan bahasa Madura.(bersambung)


Selengkapnya...

13 April 2009

KE PUNCAK ARGOPURO VIA BADERAN



Masyarakat sekitarnya lebih mengenal Gunung Rengganis ketimbang Gunung Argopuro,yang berketinggian 3.088 m dari permukaan laut, Gunung yang kawahnya sudah tidak aktif ini terletak di Kab. Probolinggo.

Menuju Gunung Argopuro dapat ditempuh dari Desa Baderan atau Bremi, lebih menarik perjalanan adalah via Baderan. Untuk menuju ke desa Baderan dapat menggunakan angkutan lokal (dari besuki) yang menuju desa ini. Walaupun terpencil ada beberapa penginapan untuk pendaki yang harganya relatif terjangkau untuk ukuran pendaki. Setelah Ijin di Polsek Sumber Malang kita bisa langsung mendaki.



Jalur yang dilalui selama perjalanan memang sudah cukup jelas tetapi harus melingkar dan naik turun beberapa bukit, waktu pendakian menuju puncak akan lebih lama. Oleh karena itu pendaki disarankan untuk memperhitungkan persediaan logistik minimal untuk keperluan 3 hari. Persediaan air bersih di gunung Argopuro ini sangat berlimpah, meskipun di musim kemarau. Mata air dapat ditemukan mulai dari kaki gunung hingga hampir puncak gunung. Pada musim hujan banyak sekali sungai-sungai kecil yang biasa kering di musim kemarau akan terisi air. Pacet atau Lintah pada musim kemarau tidak ada namun bila di musim hujan akan muncul banyak sekali. Pada waktu dan cuaca yang normal pendakian menuju puncak akan membutuhkan waktu sekitar 10 - 12 jam.

Jika perjalanan dimulai dari desa Baderan, kita berjalan menuruni jalan aspal sekitar 200 meter, kemudian berbelok ke kiri menapaki jalan yang diperkeras dengan batu. Sekitar 1 km kita akan berjumpa dengan sumber air desa, kita masih terus berjalan sekitar 1,5 km lagi menapaki jalan berbatu yang menyusuri lereng bukit yang banyak ditumbuhi dengan tanaman jagung dan tembakau.

Selanjutnya perjalanan mulai memasuki kawasan hutan yang banyak dihuni babi hutan, lutung dan aneka burung. Setelah berjalan sekitar 3 jam kita sampai di Km 4,2 dimana terdapat mata air yang sangat jernih. Di tempat ini juga terdapat tempat terbuka yang dapat digunakan untuk mendirikan tenda. Jika memutuskan bermalam disini harus hati hati karena tempat ini berada di punggung bukit sehingga bila ada angin kencang akan sangat mengganggu.

Masih menyusuri hutan yang semakin lebat dan gelap, jalur menyurusi punggung dan lereng jurang yang sangat dalam. Di km 7 kita akan berjumpa dengan sungai yang kadang kering, bila hujan sungai ini akan terisi oleh air, mendaki bukit yang di tumbuhi pohon cemara, selanjutnya di km 8 menapaki padang rumput. Jalur selanjutnya di dominasi oleh padang rumput yang pemandangannya sangat indah.
Setelah berjalan sekitar 5 jam kita akan sampai di km 15 di Cikasur, di sini terdapat sebuah lapangan datar yang sangat luas. Dulu pada masa pendudukan Jepang akan dibangun sebuah lapangan terbang. Masih terdapat sisa-sisa pondasi landasan, dan sisa-sisa bangunan yang sering dipakai pendaki untuk mendirikan tenda.

Di Cikasur juga terdapat sungai yang sangat jernih, yang airnya berlimpah meskipun di musim kemarau. Dari Cikasur kembali menapaki padang rumput gimbal, yakni rumput yang daun - daunnya keriting. Perjalanan di siang hari akan terasa sangat terasa panas, setelah berjalan kurang lebih sekitar 2 jam, kita telah sampai di Sicentor yakni pertigaan tempat pertemuan jalur baderan dan bremi yang bersatu menuju puncak. Di tempat ini kita dapat mendirikan tenda untuk beristirahat sebelum melanjutkan perjalanan ke puncak.

Dari Sicentor perjalanan mendaki bukit melintasi padang rumput dan padang edelweiss, sekitar 1 jam perjalanan akan berjumpa dengan sungai yang kering. Setelah menyeberangi dua buah sungai kering kembali melintasi padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. 1 jam berikutnya akan tiba di Rawa Embik.

Dari Rawa Embik menuju puncak kita belok ke kiri, namun bila ingin beristirahat dapat mendirikan tenda di Rawa Embik yang merupaka padang terbuka. Di tempat ini terdapat sungai kecil yang selalu mengalir walau di musim kemarau.
Dari Rawa Embik kembali berbelok kearah kiri melintasi padang rumput, untuk menuju ke puncak yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam perjalanan. Dari padang rumput berbelok ke kanan mendaki lereng terjal yang berdebu.

Selanjutnya sedikit turun kita akan melintasi sebuah sungai yang kering dan berbatu. Kembali mendaki bukit yang terjal, kita akan berjumpa dengan padang rumput dan padang edelweis yang sangat indah. Di depan kita nampak puncak Rengganis yang berwarna keputihan, terdiri dari batu kapur dan belerang.
Puncak gunung Argopuro adalah bekas Kawah yang sudah mati, bau belerang masih sangat terasa. Puncak ini berbentuk punden berundak semacam tempat pemujaan, punden paling bawah selebar lapangan bola di sini banyak terdapat batu-batu berserakan. Ke atas lagi selebar sekitar 10 x 10 meter, ke atas lebih kecil lagi. Selanjutnya kita akan melintasi bekas kawah yang banyak terdapat batu-batu kapur berwarna putih dan bau belerang. Pada puncaknya terdapat sisa-sisa bangunan kuno candi tertinggi di jawa yang diyakini sebagai petilasan dewi Rengganis.

Siapakah Dewi Rengganis, dan apakah reruntuhan bangunan di seputar Gunung Argopuro berupa Candi atau sekedar Pura sesuai nama gunung tersebut, ikuti cerita selanjutnya hanya di www.ardjel.blogspot.com
Selengkapnya...

11 April 2009



MENENGOK SEPILAR DI GUNUNG ARJUNO

Liburan Panjang sayang kalau dilewatkan begitu saja, kepenatan otak menghadapi pekerjaan kantor selama seminggu, harus direfresh kembali. Salah satunya adalah jalan-jalan mengunjungi situs purbakala dilereng Gunung Arjuno. Kamis (9/4) selepas mencontreng pukul 08.00 Wib. kami berenam berangkat menuju Purwosari.

Sebenarnya sudah puluhan kali saya mendaki G.Arjuno (3339 Mdpl), namun kali ini tujuan bukan ke Puncak Ogal-Agil tetapi hanya di Sepilar sebuah bangunan berbentuk Pura dan Candi yang sebagian sudah dalam bentuk reruntuhan.



Seperti biasa perjalanan kami mulai dari Desa Tambakwatu, Purwosari dengan menyusuri hutan pinus hingga satu jam perjalanan kami sampai Goa Antaboga, perjalanan trus kami lanjutkan kurang lebih 1,5 jam akhirnya sampai ke Retawu, yang merupakan tempat singgah para peziarah. Ada lima bangunan beratap seng yang biasanya digunakan para peziarah untuk bermalam.

Menurut para peziarah Retawu merupakan tempat penggemblengan para pertapa dari aliran tertentu. Di sekitar Retawu terdapat beberapa petilasan antara lain petilasan Eyang Abiyasa, Eyang Sakri, dan terdapat Sendang Kunti. Dari Retawu perjalanan kami lanjutkan menuju ke Altar Semar, sebuah bangunan altar berukuran 2,5mx2,5m diatasnya berdiri patung Semar merupakan tempat ritual aliran tertentu. Tempat ini oleh pendaki disebut Pondok Semar, karena terdapat dua buah bangunan pondok sebagai tempat bermalam para peziarah.

Waktu menunjukkan pukul 17.15 Wib. Berarti kami harus berhenti dan beristirahat, teman-teman memilih untuk mendirikan tenda dome daripada masuk kedalam pondok. Tak lama tendapun berdiri, siap siap masak dan bikin rencana esok hari.

Pukul 08.00 Wib. Setelah sarapan pagi, kami siap-siap berkemas dan melanjutkan perjalanan ke Sepilar. Dari tempat kami bermalam (Pondok Semar) kami berjalan sekitar 30 menit sampai di situs Makutoromo, sebuah bangunan berupa makam. Sebenarnya dari Makutoromo ke Sepilar sudah tidak jauh hanya sekitar 15 menit melintasi patung-patung berbentuk buto yang terdapat dikanan-kiri sepanjang perjalanan ke Sepilar.

Sekitar pukul 09.00 Wib sampailah kami di Sepilar yang merupakan tujuan kami. Konon kabarnya SEPILAR adalah Pintu Gerbang Kerajaan, kalo kita berjalan kanan dari Sepilar maka kita akan sampai ke Candi Wesi dan Sendang Drajat dan kalo berjalan membelakangi sepilar atau berjalan kearah kiri dan naik dari depan Sepilar akan menuju ke Jawa Dipo “CANDI MANUNGGALE SUCI”.

Sayangnya perjalanan kami sesuai rencana hanya sampai di Sepilar, setelah ambil air di Sendang Drajat, kamipun beristirahat sebelum akhirnya turun kembali. Rasa kangen pada alam terobati sudah, lelahpun tak terasa.

Bagi yang mau pergi kesana, saya menghimbau agar disiapkan tenaga yang fit, jangan sampai berhenti ditengah jalan,… saying untuk dilewatkan… mau coba…? (Djel)
Selengkapnya...