Tampilkan postingan dengan label Referensi Buku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Referensi Buku. Tampilkan semua postingan

15 Mei 2008

Mari Mendaki Gunung, dari Leuser Sampai Cartenz

Panduan Bagi Orang-Orang Berani
Penulis: Khatib Abdul Khadir
Cetakan I, Desember 2003

Dari sekian peristiwa tewasnya pendaki gunung yang pernah kita dengar, dikemukakan penyebabnya, antara lain tersesat atau karena mengisap gas belerang yang dihasilkan kawah gunung. Mendaki gunung memerlukan banyak persiapan, terutama pengetahuan tentang kondisi fisik dan rute gunung yang akan didaki.



Selama ini informasi mengenai rute-rute pendakian tersebar dari mulut ke mulut saja, tidak pernah ada pedoman tertulis. Latar belakang itulah yang mendorong Hatib menulis buku ini. Di sini, dikemukakan informasi 20 gunung yang biasa didaki di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua mulai dari Gunung Leuser di Aceh hingga Gunung Cartenz di Papua. Untuk lingkup Jawa, dituliskan 11 gunung mulai dari Gunung Gede di wilayah Jawa Barat sampai Gunung Raung di bagian timur.

Paparannya mencakup keadaan geografis maupun kondisi fisik gunung, seperti ekosistem, iklim, dan keadaan alamnya. Berbagai akses menuju gunung, jalur pendakian, informasi waktu tempuh, serta pos-pos yang harus dilalui diuraikan secara rinci.

Dengan informasi ini, diharapkan pendaki terbantu menentukan jalur yang hendak dilaluinya sehingga dapat mencapai puncak gunung dengan selamat. Buku ini dilengkapi dengan peta guna memudahkan pembaca memahami jalur perjalanan secara deskriptif.
Selengkapnya...

24 April 2008

Mendaki Gunung Sebuah Tantangan Petualangan


Author : Norman Edwin
Thn Terbit : Juli 1987
Penerbit : PT Aya Media Pustaka

Dalam pengantarnya Norman Edwin pada buku ini Mei 1987, olah raga mendaki gunung sebenarnya sudah lama lahir namun perkembangannya tidak terlalu pesat dibandingkan dengan usianya yang cukup lama. Menurutnya adalah karena kurangnya kepustakaan mengenai mendaki gunung. Kepustakaan yang ada sangat sedikit dan itupun kebanyakan literatur dengan bahasa asing, sehingga sulit sebagian orang untuk memahami.


Keadaan tersebut menurut pengamatannya diperburuk dengan gejala pelitnya para pendekar mendaki gunung yang sudah mahir untuk membagi ilmunya. seperti kisah persilatan tempo dulu, para pendaki gunungyang sudah mahir di Indonesia ternyata masih segan mengeluarkan seluruh ilmunya kepada yunior-yuniornya. kalaupun dikeluarkan, diam-diam masih ada ilmu yang sengaja disimpannya, mungkin sebagai senjata pamungkas kalau-kalau sang murid melebihinya. maka tak mengherankan kalau kalau sebuah perkumpulan beken yang menjaga ilmunya secara ketat. tak heran pula melihat buku-buku pegangan perkumpulan-perkumpulan yang berlabel, Rahasia. Persis macam Dokumen rahasia milik negara.
hal-hal inilah yang mendorong Norman Edwin untuk membuat naskah tentang mendaki gunung. Sebagian isi buku adalah kumpulan artikel yang pernah dimuat di Majalah Dwi Mingguan "Mutiara" sebenarnya tulisan tersebut direncanakan untuk sebuah buku, namun sambil menunggu pihak-pihak yang berminat artikel tersebut dimuat di sebuah majalah yang kebetulan Beliau juga Wartawan dari Majalah tersebut.

Buku ini merupakan buku pertama yang saya baca tentang petualangan dialam terbuka, saya kagum kepada beliau seorang petualang sejati yang akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya dalam perjuangannya melakukan Ekspedisi 7 Puncak di 5 Benua. Beliau meninggal di Gunung Aconcagua Chili. untuk membaca kisah hidup dan petualangan beliau bisa anda baca di buku "Jejak Sang Beruang Gunung".(Djel)
Selengkapnya...

Panduan Praktis Berpetualang Di Alam Bebas


Penulis : Deni Yudiawan, S.si.
Penerbit : Pustaka Populer LKis Yogyakarta
Thn Terbit : 2007
Halaman : 125 hal


Materi buku ini mudah di Pahami karena disajikan dengan bahasa yang sederhana dan praktis, mulai dari mempersiapkan perjalanan, melakukan navigasi darat, mengenal medan perjalanan, menanggulangi kendalan selama perjalanan, sampai seruan untuk menjaga kelestarian alam.
Buku ini juga dilengkapi ilustrasi gambar yang menunjang, jadi layak dibaca bagi para petualang pemula maupun lanjutan. Menurut penulius Tindakan preventif lebih baik dari pada kuratif. Oleh karena itu penulis berpesan agar para pembaca dapat memiliki dan memahami untuk bekal petualangan.
Selengkapnya...

23 April 2008

Jejak Sang Beruang Gunung

Author: Ganezh
12 x 19cm, 298hlm.
Cetakan I, 2006
Sosok dan perjuangan dari seorang petualang "Norman Edwin" patut diteladani. Buku yang banyak bercerita seputar kehidupan dan petualangan Norman Edwin yang dijuluki Sang Beruang Gunung ini layak dibaca bagi kalangan Pecinta Alam.

Siang itu tanggal 20 Maret 1992. Di sana, di hamparan salju putih, sesosok tubuh tinggi besar sedang berjuang keras melintasi tanjakan dengan kemiringan 40 derajat pada ketinggian 6.700 meter. Niatnya sudah bulat. Ia akan mengibarkan Sang Merah Putih dan Panji Mapala UI di Puncak Aconcagua. Ya, puncak tertinggi Amerika Selatan itu hanya tinggal 200 meter lagi!
Meski semangat terus membara, namun gerak tubuh itu kian perlahan. Sekilas ia teringat Didiek Samsu, yang juga keletihan dan kini beristirahat tak jauh di bawahnya. Lalu tarbayang wajah mungil Melati, anaknya. Karina, isterinya. Juga wajah-wajah keluarga yang dicintainya. Serta para sahabatnya yang sering menyuruhnya kembali. Iapun meringis..
“Aku akan sampai ke puncak. Kini aku akan istirahat sejenak.” pikirnya. Tak lama kemudian matanyapun terpejam. Rasa letih dan kantuk itu telah membiusnya dan mengantarkan jiwanya ke puncak.
Selengkapnya...

28 Maret 2008

Kisah Tragis Pendakian Everest



Penulis : Jon Krakauer

Setiap pendaki gunung akan mengimpikan untuk dapat berdiri diantara tiang-tiang langit dunia seperti everest, buku yang dibesut oleh Jon Krakauer ini menggambarkan kisah tragis para pendaki yang mencoba menaklukkan everest. buku yang layak dibaca oleh setiap pendaki atau siapapun yang berjiwa petualang


Sagarmatha atau Dewi langit, itulah julukan orang-orang Sherpa untuk Everest. Para pendaki dan ahli geologi menganggap puncak tertinggi dunia itu tidak indah, terlalu besar, lebar dan kasar. Namun keanggunan arsitektural yang tidak dimiliki Everest diimbangi oleh massanya yang besar dan menakjubkan. Belum lagi kisah-kisah mengguncang tentang berbagai upaya penaklukannya yang memberikan reputasi tersendiri. Ditemukan 1852, Everest baru dapat ditaklukkan 101 tahun kemudian setelah "serangan" yang berganti-ganti dilakukan 15 tim ekspedisi serta hilangnya 24 nyawa, jumlah korban yang terus bertambah seiring sejarah pendakiannya yang berlanjut hingga kini.

Jon Krakauer adalah klien sebuah tim ekspedisi komersial, satu diantara sekitar 16 tim yang mendaki Everest pada 1996. Pada hari pendakian 10 Mei itu, tak seorang pun yang pernah membayangkan bahwa bencana yang menakutkan sedang mengintai, dan kemudian merenggut nyawa delapan rekan mereka. Tidak ada yang menduga, bahwa di penghujung hari, setiap detik akan menjadi sangat berarti.

Krakauer menulis Into Thin Air dengan harapan akan dapat "mengenyahkan Everest dari kehidupanku. "Kesedihan mendalam karena peristiwa tragis di haribaan Dewi Langit itu demikian nyata tercermin dalam kisah mengguncang ini. Bagaimanapun, bahkan setelah usai menulis Into Thin Air, Krakauer harus pasrah mengakui bahwa tragedi Everest itu akan tetap menghantui hidupnya. Tragedi yang bisa pula menghantui Anda, pembaca, setelah menuntaskan halaman terakhirnya.


Tulisan diatas aku ambil dari bagian belakang cover buku Into Thin Air.
Buku ini menceritakan secara detail apa yang terjadi dari awal pendakian hingga terjadinya bencana. Mengupas profil orang-orang yang terlibat langsung dengan kejadian dan juga alasan mereka mendaki Everest, diantaranya karena pekerjaan, mencari ketenaran, mengejar mimpi masa kecil, pembuktian diri dan ambisi. Jon Krakauer merangkai cerita dari yang dia alami sendiri dan dari sudut pandang masing-masing pendaki yang mengalaminya langsung. Dari situ terungkap beberapa fakta mengejutkan, terutama mengenai salah seorang pemandu, Andy Harris.

Into Thin Air banyak dibicarakan di mailist-mailist penggiat alam khususnya pendaki gunung. Sebagian besar mendiskusikan dimana letak kesalahan dan siapa yang paling bersalah dalam bencana ini. Menurutku, tak ada yang pantas dipersalahkan bahkan alam itu sendiri kecuali diri kita sendiri. Karena nyawa adalah hak milik masing-masing individu. Keputusan ada di tangan masing-masing pendaki, karena hanya diri kita sendiri yang tahu kemampuan kita. Dan hanya diri kita sendiri yang bisa mengalahkan ego untuk memaksakan diri mencapai puncak. Terbukti beberapa orang selamat karena mereka mengambil keputusan disaat yang tepat dengan mengalahkan ego untuk tidak melanjutkan pendakian.

Terlepas dari itu semua, banyak hal-hal tentang pendakian gunung, terutama gunung es, khususnya Everest, yang bisa kita ketahui dari buku ini. Kita bisa mengetahui siapa saja pendaki yang berusaha, berhasil maupun tidak berhasil, mencapai puncak Everest. Resiko apa saja yang mungkin terjadi dalam mendaki gunung es. Penyakit-penyakit akibat ketinggian dan udara dingin seperti hipotermia, hipoksia, gigitan salju (dalam keadaan yang sangat parah, bagian tubuh yang terkena harus segera diamputasi), High Altitude Pulmonary Edema (HAPE--Pembengkakan Paru-Paru Akibat Ketinggian) dan High Altitude Celebral Edema (HACE--Pembengkakan Otak Akibat Ketinggian).

"Setiap detik kita berada pada ketinggian ini dan diatasnya," katanya mengingatkan, tubuh dan otak kita akan rusak, sel-sel otak akan mati, darah akan mengental dan menjadi setengah padat, dan itu sangat berbahaya. Selain itu, akan terjadi pendarahan spontan pada pembuluh rambut seputar retina. Bahkan saat kita beristirahat, jantung kita akan berdetak lebih kencang.(hal.326)

Mendaki Everest tidak hanya berkorban materi dan merasakan penderitaan, rasa sakit, ketakutan, kecemasan, tapi juga harus siap pada kemungkinan mengorbankan sebagian anggota tubuh bahkan nyawa.

Pertemuanku dengan mayat pertama membuat tubuhku gemetar selama beberapa jam; tetapi, guncangan akibat pertemuan dengan mayat kedua ternyata lebih cepat sirna. Beberapa pendaki yang melewatiku hanya menatap sekilas pada mayat tersebut. Sepertinya, di atas gunung ini sudah ada semacam kesepakatan tidak tertulis untuk berpura-pura mengabaikan mayat yang mulai rusak itu dan menganggapnya sesuatu yang tidak nyata--tidak ada satu pendaki pun yang mau mengakui, apa yang dipertaruhkan di tempat ini.(hal. 228)

Everest bak kuburan raksasa yang siap memerangkap mangsanya kapan saja, tak terduga dan TRAGIS!!

Selengkapnya...

19 Februari 2008

Buku-Buku Petualangan

Buku-Buku tentang teknik dasar petualangan dibawah ini layak menjadi acuan bagi para pendaki pemula untuk dipelajari, dan diterapkan saat melakukan kegiatan di alam terbuka.
daftar Buku-buku




  • PANDUAN MENDAKI GUNUNG, Buku ini merupakan buku panduan anggota Krida Saka Wanabakti, berisi dasar-dasar pengetahuan alam bebas, ringkas padat mudah dipahami.
  • MARI MENDAKI GUNUNG, Merupakan buku panduan mendaki gunung dari Leuser Aceh, hingga Puncak Carten Piramid Papua, buku ini ditulis oleh : Hatib Abdul Kadir
  • PANDUAN PRAKTIS BERPETUALANG DIALAM BEBAS, Materi buku ini mudah dipahami disajikan dalam bahasa yang praktis, lengkap dengan gambar yang menunjang, Penulis : Deni Yudiawan
  • OLAH RAGA CAMPING, merupakan buku dasar bagi mereka yang ingin mengadakan camping, buku ini lebih banyak bercerita tentang riwayat camping, dan seluk beluknya, Penulis : R Ismunandar K.
  • MEMANJAT TEBING MENGGAPAI LANGIT, Buku ini ditulis untuk para pemanjat tebing baik dasar maupun lanjutan, lengkap dengan ilustrasi gambar, Penulis : Wiyanto Wongso Suhardjo
  • MENDAKI GUNUNG SEBUAH TANTANGAN PETUALANGAN, Buku ini lengkap berisi teknik dasar panjat tebing dan teknik kegiatan alam terbuka, mudah dipahami dan ringkas, Penulis : Norman Edwin, beliau meninggal dunia bersama kerabatnya, Didik Syamsu di Gunung Aconcagua Chili, dalam ekspedisinya untuk menakhlukkan 7 puncak dunia




Selengkapnya...