06 September 2011

Mengenal Fotografi di Alam Bebas


Fotografi siapapun bisa melakukannya, bagi sebagian orang foto mewakili sebuah nilai yang tak terhingga dari perasaan dan keinginan manusia. Kejadian atau momen yang tak mungkin terulang bisa diabadikan misalnya kenangan saat bertemu kekasih, berpacaran, menikah, hingga melahirkan anak tercinta dan kenangan lainnya, semuanya bisa terekam secara visual, maka fotografi menjadi penting bagi mereka yang tak ingin kehilangan momen-momen dalam hidupnya.
Dengan semakin sering kita memotret maka akan timbul kepekaan pada situasi yang ada, kali ini saya akan membahas tentang bagaimana sebaiknya melakukan kegiatan fotografi di alam bebas, semoga dapat menjadi referensi bagi kaum petualang yang tidak ingin kehilangan momen-momen indah di alam raya ini.

Persiapan
Memotret dalam kawasan hutan hujan tropis, pelaku fotografi harus dapat memperkirakan segala pengaruh buruk terhadap perlengkapan kamera. Suhu udara yang panas dan kelembaban yang tinggi dapat berpengaruh pada lensa-lensa kamera.
Pada bidang pemotretan di alam dengan segala kegiatannya, diperlukan peralatan dan perlengkapan kamera yang memadai. Pilihan praktis bisa diberikan kepada lensa-lensa vario/zoom masing-masing mulai dari 18-55 mm atau 70-300 mm, maupun 200-400 mm. Tele converter atau exlensioan tube serta bellow juga bisa bermanfaat saat diperlukan. Memanfaatkan hasil teknologi yang ada di pasaran dapat membuat pekerjaan kita lebih efisien, karena saat ini banyak tersedia lensa-lensa diatas dengan harga yang terjangkau.
Mereka yang berminat menekuni fotografi alam bebas, selain dituntut menguasai segala ilmu fotografi sebaiknya juga memiliki fisik dan mental yang prima. Cermati waktu pemotretan yang cenderung lebih baik dilakukan pada pagi hari dengan berbagai kelebihannya, seperti tumbuh-tumbuhan yang tampak lebih segar atau suasana alam yang lebih ceria. Pada sore hari umumnya umumnya lebih kaya dengan warna-warni kemerahan. Hal ini bukan berarti kegiatan yang berlangsung pada siang ataupun pada malam hari menjadi kurang bermanfaat. Memotret di alam bisa menghasilkan gambar yang demikian dramatis pada tengah hari yang terik terutama bila dapat memanfaatkan pantulan cahaya matahari diatas permukaan air yang cenderung menghasilkan warna putih keperakan pada sudut pandang tertentu suasana romantis dari gambar silhouette tidak terlalu sulit untuk dihasilkan.
Khusus pada bagian fisik, pelaku diharapkan dalam kondisi prima yang bertujuan agar pelaku bisa berada di lokasi pemotretan yang berlangsung di alam bebas mutlak membutuhkan stamina tinggi. Pada perjalanan jauh dengan kondisi medan yang mendaki atau menurun dengan berbagai tingkat kesulitan biasanya akan sangat melelahkan. Menghadapi medan sulit di lintasan jalan setapak, memanjat tebing-tebing tinggi dengan batu-batu cadasnya, menelusuri goa yang dalam dengan kegelapannya, menerobos semak-semak belukar ataupun ketika menyebrangi sungai tanpa titian memerlukan perlengkapan dan pengetahuan yang memadai agar kegiatan dapat berjalan dengan lancar dan aman.

Waktu Pengambilan Gambar
Pada waktu pelaksanaan pemotretan, perlu antisipasi fenomena alam yang ada yang dapat berpengaruh pada diri sendiri dan kamera, misalnya pada saat gunung meletus, usahakan dan perhitungkan kemungkinan buruk bagi diri sendiri maupun perlengkapan kamera yang dimiliki. Debu halus yang terdiri dari berbagai unsur partikel bahan kimia diantaranya asam silika, belerang, dll selain bisa mengganggu perlengkapan kamera juga tidak baik untuk paru-paru pemotret itu sendiri.
Jangan ragu menggunakan lampu kilat pada pemotretan di siang hari maupun di malam hari. Terutama untuk menghilangkan bayangan ( pada siang hari ), bisa juga untuk menambah penyinaran pada bagian latar depan ( malam hari ), pada pemotretan panorama/pemandangan alam pelaku senantiasa berikhtiar menghadirkan dimensi ketiga dengan cara memasukan bagian-bagian lainnya sebagai latar depan atau bisa juga dengan menangkap pantulan bayangan objek pemotret itu. Usahakanlah menciptakan kreasi baru dan jangan mengekor dari yang pernah dibuat oleh pemotret lain. Masih banyak kemungkinan lebih baik dalam menghasilkan gambar-gambar yang pernah dibuat orang lain. Berpikir dan berusaha menjadi yang pertama dan terbaik. Ciptakan yang lain dari yang biasa sehingga hasilnya tidak hanya sebagai gambar biasa-biasa saja.
Beberapa tips terakhir mungkin akan berguna untuk dibiasakan menjelang pada waktu pemotretan petualangan di alam untuk mendapatkan hasil yang terbaik dan aman.
1. Sebelum berangkat sebaiknya membuat daftar/cheklist dari segala peralatan maupun perlengkapan fotografi yang akan dibawa. Hal ini perlu dilakukan untuk menghindari kemungkinan ada yang terlupa.
2. Periksa semua peralatan yang akan dibawa apakah segalanya berfungsi dengan baik dan dapat dioperasikan dengan sempurna.
3. Membawa body kamera lebih dari satu.
4. Halalkan segala cara untuk bisa mengabadikan semua kegiatan petualangan tanpa ragu-ragu ataupun merasa bersalah, seperti jangan merasa bersalah saat menyaksikan anak burung yang sedang dimakan ular, karena itu merupakan proses bagaimana alam menjadi seimbang.
5. Hasil pemotretan harus bisa bermanfaat dan disimpan dengan baik.

Tidak ada komentar: